Habib Abdillah Al Jailani: Jaga Hati dan Lisan dari Perbuatan Hina

NU Cilacap Online — Menjaga kesucian Ramadhan dilakukan dengan mensucikan hati dari penyakit hati (iri, dengki, sombong) dan menjaga lisan dari perkataan sia-sia, ghibah, serta fitnah. Ini adalah inti puasa untuk meraih takwa, bukan sekadar menahan lapar, melainkan momen refleksi dan peningkatan spiritual agar ibadah diterima Allah SWT. Inilah tausiyah Habib Abdillah Al Jailani: Jaga Hati dan Lisan dari Perbuatan Hina.
Ramadhan bulan suci yang kita jaga kesuciannya dari beraneka macam hal salah satunya menyucikan hati dan lisan kita.
Kisah Lukman Hakim
Alkisah Suatu ketika Lukman Hakim diperintahkan sang raja untuk motong kambing lalu setelah dipotong sang raja minta bagian yang paling baik untuk dihadapkan padanya. Maka setelah dipotong, dikuliti, beliau (Lukman Hakim) ternyata memberikan hati dan lidah. Keesokan harinya raja kembali memerintahkannya untuk memotong kambing lagi dan minta bagian yang paling kotor dan tidak baik, maka setelah dipotong dan kuliti bagian yang tidak baik itu diberikan kepada sang raja sebagaimana yang pertama, yaitu hati dan lidah.
Sang raja pun bertanya apa maksud semua ini? Beliau Lukman Hakim, mengatakan bahwa dengan hati orang itu bisa mulya dan dengan hati juga bisa jadi hina, dengan lisan orang juga bisa mulya, dengan lisan pula orang bisa jadi hina.
Hati adalah Cerminan
Hati adalah satu cerminan yang ibarat raja, memiliki pasukan yang bisa memerintahkannya. Andai seorang raja adalah seorang yang baik maka akan memerintahkan hal-hal yang baik, demikian juga dengan hati kita hati yang baik.
Hati yang baik akan memerintahkan pasukannya yakni anggota tubuh untuk melakukan hal-hal yang baik dan terpuji. Memerintahkan mata untuk memandang yang Allah ridho. Akan memerintahkan kaki kita melangkah menuju tempat-tempat yang Allah ridho. Dan akan memerintahkan tangan-tangan kita untuk menyantuni dan memberikanhal-hal yang Allah ridho.
Akan tetapi ketika hati itu buruk sebagaimana raja akan memerintahkan hal-hal yang tidak baik pada pasukannya. Maka akan memerintakan mata, kaki, tangan, dan seluruh anggota tubuhnya menuju tempat yang Allah tidak ridhoi.
Bersih-bersih Penyakit
Oleh karena itu begitu banyak macam penyakit hati yang sebelum datangnya bulan suci ramadhan kita sudah bersihkan penyakit-penyakit tersebut, seperti penyakit iri, dengki, hasut dan riya, yang semua itu harus kita kikis habis, jangan sampai ada dalam diri kita penyakit hati menjadi penyakit yang luar biasa merusak.
Kita bisa lihat ketika seseorang memiliki rasa iri, dengki, maka orang tersebut akan sedih melihat orang bahagia dan akan bahagia melihat orang sedih.
Demikian juga dengan kesombongan-kesombongan yang lainnya yang tidak patut dan layak dan bukan pakaian diri kita.
Kesombongan pun bagian dari penyakit hati demikian juga riya, yang mungkin kita melakukakn sesuatu hal yang diharapkan bukan ridho Allah tapi pujian dari manusia.
Kita ambil satu saja di antara penyakit hati tersebut adalah iri dan dengki. Tidak boleh kita miliki perasaan iri, dengki dan sombong. Apa yang kita sombongkan dalam diri kita?
Kisah Sayidina Ali Bin Abi Thalib
Bukankah sayidina Ali bin Abi Thalib pernah ditanya oleh seseorang dengan pertanyaan: kau kenal gak siapa saya? Orang itu dengan kesombongannya bertanyata pada Ali, tapi Ali mengatakan: “Bala arifuka jaima, justru saya tahu persis siapa anda. Siapakah saya? Engkau awalnya dari cairan yang hina, ujung-ujungnya jadi bangkai, yang tengah-tengahnya memikul kotoran.
Kita awalnya cairan yang hina, ujungnya bangkai, dan tengah-tengahnya kita penuh kotoran, baik kotoran lahir maupun batin.
Jagalah Lisanmu
Adapun terkait lisan kita, bukankah disebutkan “Aksaru khotoya ibni adama aksaru minlisanih” kebanyakan manusia melakukan kesalahan dikarenakan lisannya yang tidak terjaga. Ketika lisan lebih tajam daripada pisau, yang lisannya menyakiti orang lain bahkan ketika orang tersebut pun akan mati, ia akan mengingat luka yang dibuat oleh seseorang. Oleh karena itu untuk “infad lisanaka-jaga lisanmu karena dengan lisanmu engkau bisa menguatkan orang lain, maka dipastikan engkau akan diberi kesabaran dibahu Allah terlepas dari adzabnya.
Lisan bukan sekedar dilidah kita untuk kehidupan di jaman sekarang, jari-jemari kita jadi perwakilan lisan kita. Allah SWT telah berikan satu anggota dalam diri kita yaitu apa yang mana ketika kita dan di antara anggota tubuh kita yang paling banyak bergerak di antara yang lain adalah lisan kita.
Lidah kita bahkan untuk shalat pun yang diperkenankan bergerak berulang-ulang adalah lisan kita, karena kita akan baca surat Al Fatihah. Akan tetapi karena seringnya bergerak dari pagi sampai malam. Berapa kata yang telah terbentuk, apakah kata-kata tersebut jadikan orang lain sakit hatinya atau merasakan adanya ketentraman dari lisan yang kita ucapkan. Oleh karena lisan terkunci terwakili oleh jemari tangan kita.
Kita perlu hati-hati di kehidupan jaman sekarang, lebih-lebih kita menyebarkan suatu berita yang kita tidak tahu kebenaran berita tersebut. Al Qur’an mengingatkan “Wayalfidu minqoumin rotibun atid,” — setiap hal yang keluar dari lisan kita takkan pernah lepas dari pada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Semua dicatat malaikat rokib dan atid.
Ramadhan Momentum Berlatih
Oleh karena itu hendaknya di bulan suci ramadhan ini kita jadikan momentum berlatih senantiasa jaga hati kita dan berdoa pada Allah Allahumma A’udzubika minkolbin layakhsya’- mintalah kepada Allan hati yang khusu’, hati yang tahu di mana kita sekarang, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pulang.
Dan jagalah lisan, jangan sampai menyakiti orang lain karena kita akan dimintai pertanggungjawaban nantinya atas apa yang kita ucapkan.
Oleh karena Inti dari ibadah puasa adalah pengendalian diri secara menyeluruh, terutama dalam menjaga hati dan lisan agar tidak mencederai nilai spiritualitas puasa itu sendiri.
Tanpa menjaga perilaku dan ucapan, puasa berisiko menjadi rutinitas fisik yang sia-sia di mata Allah SWT. Oleh karena itu, refleksi batin dan peningkatan kualitas ibadah menjadi kunci agar puasa kita memberi kemaslahatan dan diterima Allah SWT.
Semoga momentum ramadhan ini menjadikan puasa kita mampu untuk menjaga hati dan lisan kita, mohon maaf lahir batin. Semoga bermanfaat, (IHA)





