Inilah Senandung Saptawikrama, Lagu Hit Mars Lesbumi NU

NUCOM —- Dua seniman Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) Sastro Adi dan Lodzi Hady tampil kolaboratif di atas panggung TawaShow Muktamar NU ke 35 Tambakberas Jombang, Kamis, (28/8/2026) malam berkumandang. Inilah Senandung Saptawikrama, Lagu Hit Mars Lesbumi NU
Panggung bertajuk TawaShow Lesbumi NU digelar setiap malam di antara perhelatan Mukatamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang yang berlangsung mulai 26 hingga 31 Agustus 2026.
Panggung yang diinisiasi oleh Lesbumi PBNU dengan arahan DR. KH. Ngatawi Al-Zastrow tersebut dimaksudkan sebagai media ekspresi para seniman Lesbumi serta hiburan dalam rangka memeriahkan hajatan akbar Nahdlatul Ulama, yakni Muktamar NU Ke 35.
Malam itu panggung TawaShow menampilkan musisi Sastro Adi yang membawakan beberapa karyanya, diantaranya sebuah lagu berjudul Senandung Saptawikrama.
Meski tanpa persiapan sama sekali dan tampil secara spontan dengan iringan organ tunggal yang dimainkannya, namun lagu itu berhasil membetot perhatian penonton. Sastro Adi tampil ekspresif dengan alunan musik dan lagu yang mendayu syahdu.
Lagu Senandung Saptawikrama merupakan karya gubahan Sastro Adi sendiri bersama almarhum Kyai Abdullah Wong. Liriknya kental dengan nuansa dan semangat kenahdliyahan.
Sejak dirilis pada sekitar tahun 2017 lagu tersebut sering terdengar di beragam even NU di berbagai kesempatan, baik kegiatan-kegiatan internal Lesbumi maupun even lain yang lebih besar seperri diantaranya tayangan Harlah NU di program Rossi Kompas TV beberapa tahun lalu.
Dan yang terbaru, lagu tersebut dibawakan oleh paduan suara Civitas Akademika Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang pada even Muktamar Kebudayaan I Lesbumi NU pada 12 Juni 2026 lalu.
Lagu Senandung Saptawikrama sendiri merupakan ekspresi dari semangat memperjuangkan tujuh prinsip dari strategi kebudayaan Lesbumi NU yang memang diberi nama Saptawikrama (qowaidus-sab’ah). Strategi kebudayaan tersebut lahir dan ditetapkan dalam Rapat Kerja Nasional Lesbumi PBNU pada tahun 2016.
Saptawikrama diyakini dan dimaksudkan sebagai upaya kerja kebudayaan demi mendukung pembumian Islam Nusantara sebagaimana hasil Muktamar ke-33 NU di Tebuireng, Jombang pada Agustus 2015.
Berikut ini lirik lagu
Senandung Saptawikrama
Dengarlah wahai manusia
Suara Nahdlatul Ulama
Menggema syahdu di Nusantara
Menyambangi jagad semesta
Bangkitlah wahai ulama
Menjadi pewaris anbiya’
Tebarkan rahmat semesta
Dan Nabi jadi wasilahnya
Tahlilan menjadi amaliahnya
Marhabanan wujud cinta nabinya
Ziarah rasa ta’dzim awliya’
Manaqib menjaga sejarah gurunya
Pancasila lebur dalam tauhidnya
Saptawikrama jadi mantra budayanya
────────────
Suara Gus Sastro, panggilan akrab Sastro Adi, terdengar merdu sembari jari-jarinya lincah memainkan organ di depannya.
Para penonton tampak ikut bernyanyi bersama. Pada bagian jeda instrumental di tengah-tengah lagu, intro, tiba-tiba Paman Loji, sapaan akrab Nur Lodzi Hady, menyeruak spontan dengan puisinya yang berjudul Lentera Waratsah.
Senada dengan tema lagu, puisi tersebut berisi ungkapan-ungkapan puitik tentang peran keulamaan dalam perjuangan membangun peradaban dunia dan kenusantaraan yang bertumpu pada nilai-nilai agama dan lokalitas sebagai kesatuan yang koheren.
Kebangkitan ulama adalah pesan sejarah untuk tetap menjaga api waratsah tetap menyala untuk keberlanjutan perjuangan para nabi, dan Nahdlatul Ulama adalah entitas sejarah yang memungkinkannya dapat terjadi.
Berikut adalah petikan puisi yang dibacakan Paman Loji dengan iringan instrumental Gus Sastro tersebut;
LENTERA WARATSAH
Kaki-kaki mereka tegak tauhid
Menghunjam di hamparan bumi raya
Mendedar dan menanam nilai dan hikmah
Allah menyemesta dalam lakunya
Keikhlasan tarbiyah mereka adalah tetes air
Yang menghantar sifat Rahman-RahimNya
Demi menyentuh tumit para petani yang tekun
Dan anak anak desa yang bermain di pematang sawah
Demi segera agar mereka membasuh diri
Dan mendatangi surau surau mereka nun damai
Serta pula menggamit pundak para remaja kota
Demi menoleh ke langit
Mengeja makna kehadiran mereka
Mereka para ulama
Adalah sungai yang mengalir menuju samudera raya
Memercikkan kehidupan di setiap tempat yang disinggahinya
Dengan sorot mata kasih sayang dan cinta
Menyucikan jejak najis para pejalan
Demi sampai kembali dengan selamat
Di tanjung ridha dan kasih sayang Nya
Kini seabad sudah kebangkitannya
Mereka bergeming
Tegak dengan lentera di asta
Ya, lentera yang diwarisinya dari para nabi itu
Terus dijaganya tetap menyala
Demi menerangi jalan jalan dunia
Menebar kasih sayang semesta
Mencahaya.. bersama para pengikutnya
Demi menjaga nusantara
Demi menjaga Indonesia
Demi menjaga … AGAMA.
Jakarta, 2024
───────────────
Di akhir penampilannya yang elaboratif dan mengesankan, Sastri Adi berimprovisasi dan menambahkan setelah bait akhir lagunya “Saptawikrama jadi mantra budayanya” dengan “Nahdlatul Ulama jadi Jam’iyyahnya”.
Beranjak dari tempatnya bermain organ dan bernyayi, Sastro Adi kemudian tampak menghampiri dua kolega panggungnya, Ki Ardhi Purboantono dan Lodzi Hady dan berpelukan dengan suasana penuh haru.
Tidak berlebihan, lagu Senandung Saptawikrama bagi Sastro Adi dan sahabat-sahabatnya di Lesbumi mengingatkan kembali kebersamaan mereka dengan sejumlah nama pengurus Lesbumi PBNU yang telah terlebih dulu berpulang seperti KH Abdullah Wong, K Ng H. Agus Sunyoto, Ki Jumali dan Widyasena.
Semoga Allah memberi kelapangan kubur dan tempat yang mulia bagi mereka. Amin . Lahumul fatihah***(IHA)
BACA JUGA: Anugerah Saptawikrama Lesbumi NU, Apa dan Bagaimana Itu?
Innalillahi, Budayawan Lesbumi NU KH Abdullah Wong Wafat





