Ibu Menteri Arifah Fauzi ke Cilacap, Silaturahmi, Halal Bi Halal, Tahadduts bin Nikmah, dan Resmikan RBI

NUCOM — Baru-baru ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, melakukan kunjungan kerja ke Cilacap pada 27 Maret 2026 dalam rangka Silaturahmi, Halal bi Halal, Tahadduts bin Nikmah dan Resmikan RBI.
Kunjungan kerja sebagai agenda kenegaraan dalam rangka halal bi halal, silaturahmi sekaligus tahadduts bin nikmah kepada kiai dan ibu nyai dan jajaran Syuriyah, Tanfidiyah PCNU Cilacap.
Acara dihelat di gedung Pusdiklat PCNU Cilacap, Jl Raya Kalisabuk Kasugihan Cilacap, turut serta mendampingi Ibu Menteri, Staf Khusus Menteri, Prof. Dr. Majdah Muhyiddin, dan Nia Syarifuddin.
Mengawali halal bi halal, Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi M.Si, yang akrab disapa Arifah Fauzi menyampaikan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunianya sehingga dapat bersilaturahmi, halal bi halal sekaligus Tahadduts bin nikmah dalam suasana dan tempat yang Insya Allah penuh barakah.
“Acara malam ini yang rencananya harusnya ke Ponorogo, tapi Allah SWT berkendak untuk bersilaturahmi, halal bi halal di Cilacap ini tak lain adalah tahadduts bin nikmah, dan berkah,” tururnya.
Ibu Menteri menceritakan bahwa dirinya satu angkatan dengan Sdr. Muniriyanto sewaktu kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan sama-sama pengurus senat mahasiswa.
“Mas Imam Tobroni juga tahu dulu pacaran saya dengan Mas Zastrow, Ketua dan Bendahara, Sdr.Munir juga tahu, tapi Munir pacarnya banyak saat itu, eh, ketahuan ada istrinya, maaf, jadi istri anggota Dewan harus tahan banting. Walau pacarnya banyak tapi istri adalah pemenang. Sama mas Zastrow dulu pacarnya banyak, tapi saya pemenangnya,” akunya terang.
Tahadduts bin Nikmah
Tahadduts bin nikmah yang berarti menceritakan nikmat Allah merupakan tindakan mengungkapkan atau menampakkan nikmat, keberhasilan, atau kebaikan sebagai wujud syukur, bukan pamer (riya’).
Dan merpakan anjuran agama berdasarkan Quran surah Ad-Duha ayat 11, Quran Surah Ad-Duha Ayat 11 (“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan”). Bertujuan memuji Allah dan memotivasi orang lain, berbeda dengan riya’ yang ingin dipuji manusia.
Ibu Menteri Arifah Fauzi mengaku bahwasanya tidak pernah bercita-cita jadi menteri, jauh dari bayangannya, demikian juga jadi ketua Muslimat NU. Tapi dirinya meyakini bahwa kedua posisi itu merupakan berkah doa guru, orang tua, serta para leluhurnya, orang saleh yang dia tidak ketahui.
“Saya ingat pesan ibu, jadi orang hidup itu harus barakah. Hidup barakah itu bermanfaat untuk orang banyak. Apa yang kita mampu dan bermanfaat untuk orang banyak itu yang kita lakukan,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa Hidup barakah dengan uang 1 juta sebulan cukup. Tapi kalau hidup tidak barakah punya ratusan juta juga tidak cukup.
Dua Pesan Ibu
Ada dua pesan ibu saya, pertama, jangan mencari hidjup di NU, dan jangan mencari hidup dari NU, kalau bisa kita yang menghidupi NU.
“Jadi salah alamat kalau cari sesuatu secara materi di NU, karena bukan tempatnya,” ujarnya.
Kedua, jangan cari jabatan di mana pun kamu berada.
“Jadi mengalir saja. Jadi saya merasa ketika bekerja tanpa pamrih Allah tidak tidur. Walau saya menolak, merasa tidak pantas, tapi itu sudah takdir. Mau tidak mau harus diterima. Maka mohon doa. Semoga bisa menjalankan tugas ini dengan penuh Amanah, bermanfaat dan barakah. Dan yang terpenting adalah selamat dunia akherat,” harapnya.
Ibu Menteri pun menyampaikan bahwa tantangan hidup saat ini sebagai orang tua itu lumayan berat. Kalau dulu ada anak belum pulang, masih bermain, atau di jalan saat magrib berani menegur. Tapi sekarang tegur menegur anak tetangga bisa jadi masalah. Karena dunia sudah berubah. Bisa karena kedekatan kita dengan tetangga jauh beda dengan waktu dulu.
Beberapa hal mengapa angka kekerasan terhadap anak dan perempuan tinggi? Pertama karena ekonomi, kedua karena pola asuh anak dalam keluarga dan ketiga karena pengaruh lingkungan terutama gen z yakni media sosial. Demikian ibu menteri membeberkan.
Pesan Hikmah
Ibu Menteri mendapati pesan hikmah dari Tuan Guru Turmudzi-NTB untuk disampaikan kepada khalayak sebagai nasehat yakni pada saat anak menangis, rewel, yang bikin kita jengkel maka peluklah anak itu, pandangilah matanya, rayulah anak itu supaya berhenti dari rewel, maupun tangisnya karena sesungguhnya pelukan itu adalah doa, kasih segala ketulusan, dan saat anak itu berhenti dari rewel dan tangisnya, saat itulah gugurkan dosa-dosa ortunya.
“Jadi kalau ada anak tidak nurut, rewel jangan salahkan anaknya. Karena pola asuh kita yang tidak benar. Mungkin anak kita lupa kita peluk, pandang matanya, cium keningnya saat hendak tidur. Maka tolong perkuat keluarga jaga anak-anak kita, jaga pondasi kemanusiaan meeeka dengan akhlak mulia, dan budi pekerti luhur,” imbuhnya.
Terakhir Ibu Menteri berpesan untuk jaga diri, Keluarga, Pesantren dan NU tetap berhaluan Ahlusunnah Waljamaah annahdliyah. Karena menurutnya di banyak perusaan kini mencari karyawan yang basiknya adalah alumni pesantren, mengapa? Karena kepribadian akhlaknya baik dan budi pekertinya bagus.
“Kalau ilmu bisa dengan belajar satu, dua bulan cukup tapi kalau kepribadian, siapa jamin satu, dua bulan baik? Maka ilmu bisa dicari tapi akhlak maupun budi pekerti itu harus di bentuk.” Pungkasnya.
Menteri PPPA Resmikan RBI di Donan, Cilacap
Sebelumnya Ibu Menteri PPPA Arifah Fauzi melakukan kunjungan kerja dengan meresmikan Ruang Bersama Indonesia (RBI) di Jalan Wiling II Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Tengah, Jumat (27/3/2026).
RBI merupakan inisiatif Kementerian PPPA yang berbasis di desa untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, serta ramah perempuan dan anak. Kegiatan peresmian juga diisi dengan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Plt. Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya, Plh Sekda Cilacap Annisa Fabriana, serta sejumlah kepala OPD terkait.
Ibu Menteri Arifah menjelaskan, RBI menjadi penguat program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) sekaligus wadah kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
Baca juga: Ngatawi Al-Zastrow, Kebudayaan Tergantung Kreativitas dan Tekad





