Hubbul Wathon, Cinta Tanah Air

NU CILACAP ONLINE – Jargon hubbul wathon digemakan oleh NU, seiring dengan krisis nasionalisme yang melanda sebagian rakyat indonesia. Jargon hubbul wathon minal iman itu kemudian diperkuat dengan jargon NKRI harga mati.
NU kemudian semakin radikal, dalam memompakan semangat nasionalisme, dengan manhaj Islam Nusantara. Demi merekatkan dan menjaga integrasi nasional, bahkan NU berani berseberangan dengan pemahanan arus besar umat Islam. NU menyatakan bahwa dalam negara dan bangsa, tidak ada penyebutan kafir bagi pemeluk agama lain, yang ada adalah warganegara non-muslim.
Sebetulnya hal yang terakhir, tidak salah dari konsepsi NU tentang non-muslim. Hal ini berangkat dari konstitusi dan dasar negara kita, yaitu UUD 1945 dan Pancasila. Tidak ada satupun diktum yang berbicara tentang kafir. Semua bahkan berbicara tentang “iman”.
Sila pertama dasar negara Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, semua warganegara harus percaya akan adanya Tuhan. Diktum ini pun termaktub dalam preambul UUD 1945 alinea ke-4.
Pada alinea ke-3 pembukaan UUD 1945 pun disebutkan, bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkah atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Artinya, keinginan yang luhur bangsa untuk merdeka, tidak akan tercapai tanpa campur tangan Tuhan. Suatu pemahaman yang luar biasa dari para founding fathers negeri kita ini.
Infiltrasi idiologi keagamaan dan budaya dari luar, juga hal yang menjadikan NU serta elemen nasionalisme yang lain, membentuk pola-pola defensif. Kawan-kawan penghayat kepercayaan bahkan sampai menuduh agama-agama dari luar sebagai agama penjajah, yang mengacak-acak tradisi asli bangsa Indonesia. Baca juga Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hubbul Wathan
Radikalisme NU dan yang lainnya, sangat beralasan. Sebab krisis nasionalisme memang nyata terjadi. Dan salah satunya justru datang dari umat Islam itu sendiri.
Yaitu umat Islam yang tidak mengakui bentuk negara nasional. Atau umat Islam yang tidak mengakui kearifan budaya lokal. Baca juga Jargon Siapa Kita? Dan Problem Kompetensi Kader NU
Yang pertama, berorientasi politik. Mereka bercita-cita menghilangkan identitas bentuk negara nasional dan mengubahnya menjadi khilafah global. Starting pointnya dengan cara menjatuhkan pemerintahan yang sah. Baca juga NU Tidak Mempertentangkan Islam dan Nasionalisme
Mereka membuat framing bahwa sistem demokrasi itu tidak sesuai dengan ajaran islam. Sistem demokrasi adalah sistem toghut. Sistem pemerintahan yang paling sesuai dengan Quran dan Sunah adalah sistem khilafah.
Kelompok mereka sangat membanggakan Muhammad al Fatih dari kekaisaran Ustmani. Pola-pola ini terus diinjeksikan kepada pikiran-pikiran rakyat, terutama generasi muda Islam. Sehingga meracuni nasionalisme anak bangsa.
Kelompok kedua, berorientasi aqidah. Framingnya tetap sama, yaitu Islam. Selain yang bersumber kepada Quran dan Sunah, adalah bid’ah, syirik. Identitas tradisi hendak dihilangkan, diganti dengan identitas ‘asing’ yang mendompleng agama.
Nasionalisme adalah fitrah
Jika identitas tradisi bisa dihilangkan, falsafah negara mudah diganti. Konstitusi bisa diubah, hukum nasional bisa dijungkirbalikan, dan Indonesia tinggal cerita.
Inilah mengapa NU menjadi penggiat utama ajaran nasionalisme. Menurut saya pribadi, rasa nasionalisme itu fitrah.
Setiap seseorang pasti akan mencintai tempat kelahirannya. Ada ikatan luar biasa antara manusia dan tanah kelahirannya. Walau dia bukan muslim, tetap punya rasa cinta tanah air.
Tidak hanya di negara kita saja. Cinta tanah air itu ada pada setiap warga bangsa di dunia. Orang China tentu mencintai tanah airnya. Orang India juga demikian. Orang Amerika bangga akan bangsanya. Demkian pula Jepang, Rusia, Ukraina, dll. Mereka tidak semuanya muslim. Tapi bisa jadi mereka ‘beriman’.
Dalil-dalil
Maka ini aneh, jika ada paham Islam yang mengajarkan ‘tidak cinta tanah air’. Ini bertentangan dengan fitrah. Orang Indonesia itu tercipta dari saripati bumi Indonesia. Mereka justru mengajarkan memberontak. Mereka ingin merusak negara, justru dengan kedok agama Islam, agama yang sesuai fitrah itu sendiri.
Surat Ar-Rum Ayat 30
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka bahkan mengatakan bahwa cinta tanah air bukan ajaran islam. Contoh Felix Siauw, yang mengatakan bahwa tidak ada dalilnya cinta tanah air.
Tentu ini suatu perlawanan kepada jargon hubbul wathan minal iman yang digemakan NU. Tujuan mereka memang untuk mengikis rasa nasionalisme anak bangsa, agar beralih kepada khilafahisme yang diusung HTI.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ……. وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ
“Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).
Ini salah satu dalil tentang cinta tanah air. Masih banyak dalil-dalil lain yang bisa kita gali dari penafsiran para ulama.
Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:
وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ كَثِيرًا: اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ……. قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.
Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”. (Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442)
( Sumber: https://islam.nu.or.id.)
Islah Bahrawi, pakar sejarah Islam dalam laman Youtube mengatakan, bahwa salah satu syuhada perang Uhud, adalah seorang yang beragama Yahudi. Yang dari harta warisannya itu kemudian baitul mal didirikan. Perang Uhud bukanlah murni perang agama, namun juga membangkitkan rasa nasionalisme penduduk Madinah saat itu.
Demikianlah cara kelompok khilafah meracuni nasionalisme. Dan NU bersama anasir nasionalisme yang lain, berupaya untuk mempertahankan negeri ini.
Namun juga ada kelompok opportunis yang diam mengintip pertempuran besar ini. Mereka akan melihat fase akhir di medan perang. Siapa yang dilihatnya akan menang, maka kepadanyalah kelompok opportunis ini akan bergabung. Mereka akan mencuri setiap kemenangan dalam pertandingan. Siapa mereka? Mereka adalah kelompok yang bisa jadi dekat dengan kita.
Pojok Cilacap, Toufik Imtikhani





