Esai

Gus Dur Yang Selalu Dirindukan

Para perindu Gus Dur datang silih berganti. Setiap hari, makam Gus Dur di komplek Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dihadiri oleh ratusan –dan ribuan di hari-hari tertentu– peziarah dari berbagai penjuru tanah air. Mereka datang untuk mendoakan Gus Dur. Fakta menunjukkan, tidak ada makam seorang mantan presiden pun, yang diziarahi seramai makam Gus Dur. Ia, sudah menjadi bagian integral dari destinasi peziarah. Tradisi ziarah wali sanga, menjadi tidak afdhal jika tidak menziarahi Gus Dur.

Gus Dur Yang Selalu Dirindukan. Tak disangkal, kecuali oleh orang-orang yang tidak merindukannya, bahwa Gus Dur merupakan tokoh yang sangat penting dan menentukan dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, baik predikat yang sandangnya sebagai tokoh masyarakat, agamawan,  intelektual, maupun negarawan. Di komunitas NU, dialah arsitek perubahan mendasar yang membawa NU dalam kurun tahun 1980-an ke arah pembumian Khittah 1926.

Gagasan itu tentu saja menjadi sumbangsih yang amat besar bagi babak sejarah yang sangat penting bagi NU. Sejak Muktamar NU di Situbondo, cucu dari Hadlrotus Syekh Muhammad Hasyim Asyari ini merupakan lokomotif sekaligus maskot bagi NU yang membawa NU pada politik kultural hingga riil politik dengan PKB nya. Hingga kini, apa yang dikatakan dan dilakukan Gus Dur masih kerap menjadi inspirasi sekaligus tantangan bagi aktivitas berpikir yang sifatnya alternatif, terutama di kalangan muda NU mengenai diskursus keislaman maupun kebangsaan.

Kebesaran nama Abdurrahman Ad Dakhil dalam landscape perpolitikan nasional telah pula memberikan pelajaran yang berharga. Sejak ia terpilih menjadi Presiden menggantikan rezim Orde Baru hingga pada saat krisis kepemimpinannya, rakyat Indonesia selain mendapat pencerahan pemikiran karena pernyataan dan kebijakannya yang seringkali melawan arus, disuguhi pula manuvernya yang sungguh-sungguh nekad, termasuk ketika itu Gus Dur yang benar-benar mengeluarkan dekrit (pembubaran DPR/MPR), tetapi pada saat yang bersamaan tak satu pun elemen pemerintahan yang terlihat mendukung kebijakannya, termasuk TNI.

Tak seorangpun yang pernah membayangkan bahwa peralihan ke demokrasi di Indonesia akan lancar, tetapi pada awalnya sejumlah kecil reformis termasuk Gus Dur, sepenuhnya memahami besarnya tugas ini. Warisan rezim Soeharto terbukti lebih buruk daripada yang dibayangkan. Oleh karena itu, masuk akal jika orang merasa kecewa dengan masa kepresidenan Gus Dur, tetapi, mengingat keadaan di mana Gus Dur yang harus melaksanakan, ia sebenarnya patut menerima lebih banyak pujian daripada yang telah diberikan pada umumnya (Greg Barton, 2010).

Hampir tidak ada orang yang memahami tingkat tekanan yang dialami oleh presiden dari suatu bangsa yang besar pada awal peralihan dari pemerintahan otoriter militer ke demokrasi. Kebanyakan orang akan ambruk oleh karena tekanan seperti itu, yang bisa berbentuk intimidasi pada setiap tingkat dan disertai dengan adanya harapan yang terlalu tinggi dan sumber daya yang sangat terbatas.

Gus Dur mempunyai sejumlah sifat yang jarang ditemui sekaligus dalam diri seseorang. Ia seorang idealis dalam hal apa yang ingin dicapainya dan nilai-nilai yang diagungkannya secara konsisten sepanjang hidupnya. Tetapi ia juga seorang realis disertai perasaan yang tajam mengenai riil politik. Keyakinannya bahwa “politik adalah seni tentang hal-hal yang mungkin” cocok bagi masa transisi karena masa seperti ini memang biasanya berantakan dan tak dapat dilalaui tanpa kompromi terus menerus.

Dalam perjuangan menegakkan demokrasi, Gus Dur konsisten berpijak pada prinsip nir-kekerasan. Ia lebih percaya, bukan lebih suka, pada perjuangan yang sistemik, kultural dan kontinyu. Maksud perjuangan sistemik adalah berusaha secara sungguh-sungguh dan konsisten menciptakan sistem sosial dan sub sistem sosial dalam masyarakat dengan ciri demokratis yang sebenarnya sebagai tandingan sistem politik yang otoriter.

Dengan kultural dimaksudkan bahwa memperjuangkan demokrasi dengan membangun kultur baru yang lebih terbuka, toleran, dan menenggang perbedaan serta empatif. Gus Dur melakukannya dengan memberikan pembelaan pada kelompok-kelompok marjinal secara politik, menyuarakan suara-suara rakyat yang diabaikan, dan melindungi kelompok-kelompok kritis yang terancam. Perjuangan itu konsisten dipegangnya dengan kesediaan menumbuhkan moralitas bangsa yang terlibat dengan penderitaan rakyat.

KH. Abdurrahman Wahid tidak hanya konsisten, tapi melakukan perjuangannya secara terus menerus, kontinyu. Sejak dasawarsa 1970an Gus Dur sudah meletakkan fundamen demokrasi. Fundamen itu semakin melembaga dan mendapatkan respon yang menguat dengan Forum Demokrasi, wadah semaian pikiran dan perjuangannya. Bagi Gus Dur saat itu, kesediaan bersama untuk memperjuangkan kebebasan dan menyempurnakan demokrasi adalah sebuah kewajiban.

Perjuangan Gus Dur tak kenal lelah dan menyerah dalam mengawal demokrasi Indonesia, membuahkan hasil signifikan, reformasi yang berkelanjutan hingga pilkada langsung secara serentak di seluruh Indonesia. Sebagai peletak fundamen demokrasi, Gus Dur tidak menikmati hasilnya, karena, bukan itu yang menjadi tujuannya. Sementara demokrasi terus berproses. Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid sudah berbaring tenang di sisi-Nya. Dan kita sebagai elemen bangsa, senantiasa merindukannya.

*Artikel memperingati Bulan Gus Dur, ditulis oleh Kang Nawar

Show More

Munawar A.M.

Admin Utama Situs Islam Aswaja NU Cilacap Online: menghadirkan aktivitas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap --juga Organisasi di tingkat bawahnya, termasuk Lembaga dan Badan Otonom NU-- secara Online. Salam Perjuangan untuk Pengkhidmatan yang Berkelanjutan. Terima kasih atas kunjungan Anda semuanya. Dan silahkan datang kembali.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button