Gagap Ilmu Kiamat Kaum Hijrah

Oleh Taufik Imtikhani

NU CILACA[ ONLINE – Era media sosial, memberikan kebebasan bagi semua orang untuk berpendapat, dan belajar, mengakses informasi dari segala penjuru, tanpa sekat dan rintangan. Informasi itu kemudian diolah, dikonversi oleh ceruk yang saya sebut, picture an our head. Picture an our head ini terdiri dari frame of reference dan field of experience. Atau kita kenal dengan istilah kerangka referensi dan pengalaman.

Setiap orang mempunyai referensi dan pengalaman yang berbeda. Proses konversi di dalam mesin picture an our head itu ibarat proses mekanisasi dan pengolahan. Tetapi kita juga dapat menyebutnya sebagai digitalisasi dikarenakan kita juga hidup di era digital.

Perbedaan mesin, dari yang rumit sampai yang sederhana, menghasilkan produk yang berbeda. Proses konversi informasi berupa ilmu oleh setiap individu, akan menghasilkan tingkat kebenaran yang berbeda, sesuai dengan kecanggihan mesin referensi dan experienci yang memprosesnya.

Salah satu informasi yang membanjiri ruang digital atau dunia maya, juga nyata, adalah pengetahuan agama. Dunia kita penuh dengan berbagai konten dakwah yang berbicara tentang agama. Dari persoalan aqidah, syariah, sampai muamalah, semua dikupas habis, detail, dari berbagai perspektif, dan keluar dari berbagai proses konversi informasi-ilmu yang beragam. Karena era medsos, digital, menjadi tidak ada satu orang, kelompok atau lembaga pun yang bisa bertindak-berpikir secara otoritatif dan dapat serta harus ditaati diikuti semua orang.

Setiap orang mempunyai dan bebas mengikuti dan menyampaikannya sendiri-sendiri, tak perlu terikat oleh pendapat atau fatwa siapapun. Ilmu agama kemudian terpublish, viral, dan disampaikan penuh paradoks, anomali, kontradiksi dan versi. Umat sebagian mengalami disorientasi dan memilih untuk meninggalkan agama yang dilihatnya penuh dengan keanehan dan konflik dan ketidakjelasan ajaran. Baca juga Al-Qur’an Sebagai Pembela, Apa Maksud dan Pengertiannya?

Fenomena Gagap Isu Akhir Zaman

Salah satu tema agamis yang ramai dibicarakan ialah soal akhir jaman, atau jaman akhir. Setiap ada peristiwa aneh dan luar biasa, pasti selalu dikaitkan dengan akhir jaman. Bahkan beberapa penceramah, ketika tanggal 15 Ramadhan jatuh pada hari Jumat, pasti akan ditarik kesimpulan tentang kiamat.

Bagi muslim yang belajar secara bertahap, detail, tentang islam, pasti tidak akan mudah dan tergesa-gesa, mengaitkan suatu peristiwa yang dipandang aneh, dengan akhir jaman, atau kiamat.

Muslim yang belajar dari kecil pasti tahu, bahwa Nabi Muhammad SAW itu diutus di akhir jaman, sebagai penutup para Nabi. Itu pun setelah 15 abad kemudian, yaitu saat ini, kiamat belum terjadi.

Peristiwa-peristiwa luar biasa yang saat ini terjadi, sesungguhnya juga terjadi di masa lampau. Bahkan pernah terjadi peristiwa yang lebih dasyat, seperti era jaman es, banjir Nuh, meletusnya gunung purba samosir, dan krakatau. Atau banjir bandang yang pernah terjadi di Mekah, serta sempat merusak Ka’bah, sehingga Ka’bah direnovasi. Saat itulah Muhammad diamanati oleh semua suku, untuk menempatkan kembali hajar aswad di ka’bah. Muhammad waktu itu berusia kira-kira 30 tahun dan belum menjadi Nabi.

Tapi sekarang, orang-orang yang baru belajar agama, melalui medsos, akan segera menyimpulkan bahwa peristiwa itu menandakan era akhir jaman atau jaman akhir. Ya jelas dan pastilah. Sebab diutusnya Nabi Muhammad SAW, 15 abad yang lalu, adalah tanda-tanda akhir jaman, bukan hanya peristiwa demi peristiwa yang kita lihat luar biasa.

فعن أنسٍ – رضي الله عنه -: أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: ((بُعِثْتُ أنا والسَّاعةَ كهاتَيْن))، قال: وضَمَّ السبَّابة والوسطى

Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Aku telah diutus sementara jarak antara diriku dan hari kiamat seperti ini”. Anas mengatakan: Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara jari telunjuk dengan jari tengah.

Bahkan ketika bulan terbelah, oleh mukzizat Nabi, itu pun tanda dekatnya hari kiamat.

Tetapi sesungguhnya ilmu kapan terjadinya kiamat, waktu dan jarak kapannya dengan hari ini, bahkan dengan hari-hari Nabi SAW hidup, hanya Alloh yang mengetahui. Nabi SAW hanya memberi isyarat. Quran mengatakan:

Surat Al-Ahzab ayat 63

يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا ٦٣

Artinya: “Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah.” Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.”

Persoalannya adalah, bahwa ukuran dekat menurut Alloh dan Nabinya, berbeda dengan ukuran dekat kita manusia. Manusia itu terbatas, baik umur dan ilmunya. Juga terbatas kehidupannya. Maka mengukur kata ” dekat” ataupun “jauh’ tentu sebatas kemampuan manusia.

Manusia tidak bisa mengukur apa yang melebihi masa hidupnya, kecuali hanya meramal atau menduga-duga. Sebab kiamat kepada ” dirinya” sendiri tidak bisa mereka duga, tidak bisa mereka ukur. Kiamat “kematiannya” telah mendahului kiamat akhir jaman kelak. Jadi, pengetahuan tentang kiamat manusia sama sekali tidak benar.

Oleh sebab itu, ukuran dekat-jauh antara Alloh dan manusia, itu jauh berbeda. Melebihi jarak bainassama’i wal ardli.

Nabi mengatakan dekat, tapi 15 abad kemudian, sampai hari ini, dunia belum kiamat. Dan mungkin bisa jadi, orang-orang yang pernah mengatakan kiamat akan segera terjadi, sudah lebih dulu dikiamatkan hidupnya oleh Alloh SWT. Jadi, dekat bagi Alloh dan Nabi, bisa masih jauh sekali bagi ukuran manusia. Terkecuali, telah datang Imam Mahdi, Dajjal, Nabi Isa AS, dan terbitnya matahari dari terbenamnya. Itu tanda-tanda yang sahih era dekatnya kiamat, sebagaimna diriwayatkan dalam beberapa hadist yang sohih.

Realitas Maksiat Modern VS Masa Lalu

Perilaku maksiat yang merajalela saat ini, tidak serta merta terus dikaitkan secara parsial dengan akhir jaman. Karena memang kita hidup dalam sebuah kontinum waktu akhir jaman yang panjang sejak Muhammad diutus sebagai Nabi dan rasul.

Kemaksiatan itu hal klasik yang telah terjadi sejak masa lalu, bahkan dahulu kala lebih parah. Jaman Nabi Luth, LGBT terjadi secara umum. Bahkan konon salah satu putri Nabi Adam AS, bernama Unuq, seorang perempuan yang suka bergonta ganti laki-laki. Namun riwayat ini ada yang mengatakan sebagai mithos belaka.

Era pra-Muhammad, para pelacur berpraktek secara terbuka. Mereka konon mengibarkan bendera sebagai tanda reputasi. Semakin tinggi bendera, berarti reputasi seorang pelacur semakin tinggi.

Pelacuran saat ini, katakanlah kalau hal ini disimpulkan sebagai tanda akhir jaman, atau LGBT, masih relatif tersembunyi. Ada yang mungkin sembunyi di balik profesi lain, atau bisa juga bersembunyi di balik aplikasi. Artinya, tidak terbuka dan tidak semua ora bisa mengakses.

Jadi hal-hal semacam itu tidak perlu diframing secara berlebihan tentang dekatnya hari kiamat. Hal itu bisa meracuni generasi muda yang masa depannya masih panjang, masih semangat berjuang, menjadi apatis.

Tentu kalau mereka termakan doktrin ini. Sementara itu, orang-orang “kafir” terus membangun dunia menjadi sangat maju. Orang-orang beriman menjadi eskapis, masuk ke masjid-masjid dan terus berdoa, melupakan tugas dunianya, sebab takut akan segera datangnya hari kiamat.

Endingnya adalah, umat beragama (islam) mengalami kemunduran dan tertinggal jauh dengan kemajuan orang-orang ‘kafir’. Sedangkan kiamat tidak pernah bisa secara tepat diketahui, kapan ia datang dan terjadi. Kesengsaraan umat islam di dunia terus berlanjut hingga akhir jaman benar-benar datang.

Penulis: Taufiq Imtikhani
Editor: Naeli Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button