Erupsi Krakatau Sambut Nahkoda Baru PBNU: Dari Getaran Selat Sunda ke Doa di Kramat Raya

JAKARTA, NUCOM — Selat Sunda tidak tidur. Gunung Anak Krakatau erupsi, sejak Jumat malam (4/9/2026) pukul 23.15 WIB. Langit bergetar. Laut bergemuruh. Apakah ini cara sambut Nahkoda Baru PBNU? Dari Getaran Selat Sunda ke Doa di Kramat Raya.
Empat Hari Usai Muktamar NU Ke 35
Hal itu terjadi, Empat hari kemudian, usai nahkoda baru Petinggi Nahdlatul Ulama resmi menyusun layar. KH Miftakhul Akhyar kembali jadi Rais Amm dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum. Keduanya baru saja menerima amanah dari Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang.
Baca juga: Muktamar NU Ke 35. dan Kesaksian Seorang Katib Syuriyah
Seolah alam ikut bersaksi pada kepemimpinan baru lahir di tengah bumi yang juga sedang berbicara.
Bumi Bicara dari Getarnya, 143 tahun lalu, tanggal yang sama-sama akhir Agustus, bumi pernah berteriak lebih keras.
26–27 Agustus 1883 M Krakatau meledak. Dua pertiga pulau hilang. Tsunami setinggi 40 meter menyapu Banten dan Lampung.
Dunia belajar 3 hal yang tak akan pernah dilupakan:
1. Suara Terkeras dalam Sejarah
Dentuman terdengar 4.800 km jauhnya. Di Perth Australia orang mengira meriam. Di Rodrigues, Afrika, orang mengira kapal meledak.
2. Tsunami Pembawa Duka 36.417 Jiwa
Bukan lava yang paling banyak membunuh. Tapi air. Kampung pesisir lenyap dalam 10 menit.
3. “Musim Dingin Vulkanik”
Abu menutup matahari. Suhu bumi turun 1,2°C. Senja di Eropa dan Amerika berwarna merah darah selama 3 tahun.
Lalu 1927, Lahirlah Anak Krakatau
Dari ledakan itu, lahirlah harapan baru. Tahun 1927, dari dasar laut yang sama, muncul kerucut kecil. Warga menyebutnya Anak Krakatau.
Dia anak dari tragedi. Tugasnya mengingatkan. Bahwa Selat Sunda adalah rumah cincin api. Bahwa kita numpang di atasnya.
Erupsi 4–5 September 2026 bukan kejutan. Dia pengingat rutin. Bahwa waspada bukan pesimis, tapi bentuk tawakal.
Belajar dari Sejarah: Waspada, Siap dan Siaga Itu Ibadah
PVMBG berpesan gaga jarak aman. Nelayan jangan memaksa melaut. Warga pesisir hafalkan jalur evakuasi.
Untuk penerbangan, Abu 15 km bukan main-main. Jakarta, Soekarno-Hatta, Halim, ikuti NOTAM terbaru.
Sejarah 1883 mengajarkan dua kalimat pendek:
1. “Air lebih cepat dari api.” Maka evakuasi lebih penting dari rasa penasaran.
2. “Abu tidak kenal batas negara.” Maka bencana adalah urusan kita bersama.
Catatan Kramat Raya: Saat Getaran Bertemu Karangan Bunga
Anehnya, getaran itu seolah merambat sampai ke darat.
Minggu pagi (6/9/2026) sekitar pukul 10.25 WIB, di depan Kantor PBNU Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, suasana mendadak berbeda. Seorang bapak penjual kopi keliling dengan maskernya terkejut. HP-nya berbunyi. Grup WhatsApp ramai: “Anak Krakatau meletus, getarannya kerasa sampai Jakarta.”
Dia menoleh. Kantor tutup. Hari Minggu. Tapi pagar besi PBNU penuh karangan bunga. Ucapan selamat untuk Gus Kikin dan KH Miftakhul Akhyar. Hasil Muktamar ke-35 di PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026.
Hanya ada beberapa satpam yang berjaga. Suasananya sepi. Tapi hawanya panas. Seperti bumi yang ikut menahan degup. Seperti bumi yang sedang menahan napas.
Momen itu menjadi pengingat. Di saat NU baru saja menata nahkoda baru, alam juga sedang “berbicara”.
Di momen itu segalanya bertemu: getaran alam, estafet kepemimpinan, dan doa warga nahdliyin.
Erupsi Krakatau seakan menjadi salam pembuka untuk nahkoda baru:
“Wahai pemimpin, jaga umat. Karena ujian bisa datang dari mana saja. Dari atas, dari laut, dari dalam bumi.”
Mari kita sambut kepemimpinan baru dengan kerja, bukan euforia. Mari kita sambut erupsi dengan ilmu, bukan panik.
Mari pantau informasi resmi. Jangan percaya hoaks. Dan mari berdoa agar Selat Sunda, Jakarta, dan seluruh Nusantara tetap dalam lindungan-Nya.
Allahumma la taqtulna bighadhobik, wa la tuhlikna bi ‘adzabik, wa ‘afina qobla dzalik.
Allahumma inni as’aluka khairaha, wa khaira ma fiha, wa a’udzu bika min syarriha wa syarri ma fiha. Aamiin.***)
Baca juga: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Mengingatkan: Siaga, Waspada! Belajar dari 1883





