Shinta Nuriyah, Merawat Solidaritas Kemanusiaan

NUCOM — Membaca Buku ‘Shinta Nuriyah, Merawat Solidaritas Kemanusiaan’ karya Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin,  walau tipis 102 halaman. Tapi buku ini menyimpan potret perempuan yang utuh.

Shinta bukan sekadar istri Gus Dur. Dia adalah perempuan yang menolak dilamar sebelum sarjananya selesai, yang melanjutkan magister meski kakinya terganggu karena kecelakaan, yang terbiasa merawat sebelas adiknya waktu kecil, dan dari sanalah dia belajar solidaritas selalu dimulai dari rumah.

Kelebihan buku terbitan Kanisius tahun 2025 ini bukan karena pengantar mantan Ketua Umum PBNU Gus Yahya, tapi adalah keberaniannya menampilkan Shinta di dua kutub yang jarang bersatu yaitu kritis dan religius.

Secara kritis, Nyai Shinta mengajak para pakar mengkaji ulang kitab ‘Uqud al-Lujain yang bias patriarki, hingga melahirkan lima seri buku relasi gender yang lebih adil. Dia jurnalis, aktivis gender, pejuang toleransi.

Secara religius, diketahui ahli riyadhah. Puasa Daud, puasa Senin-Kamis, tahajud, wirid, dhuha, dan itu dilakoninya secara istiqamah. Doanya panjang, tapi langkahnya lebih panjang.

Buku ini mengingatkan kita menjadi Ibu Negara, ibu rumah tangga, dan intelektual tidak perlu saling meniadakan. Perempuan bisa merawat anak, merawat teks, dan merawat kemanusiaan dalam satu napas yang sama.

Kekurangan buku ini, pembahasannya masih singkat. Namun justru itu kekuatannya — buku ini tidak menggurui, buku yang memantik.

Dari membaca buku ini, menyimpulkan bahwa dari figur dan sosok Nyai Shinta Nuriyah Wahid mengajarkan satu hal sederhana, yakni merawat manusia adalah ibadah yang paling nyata.***(IHA)

Baca juga: Inilah Cerita Nyai Hj Sinta Nuriyah Wahid Bukber di Majenang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button