Kolaborasi Jurnalisme untuk Memperkuat Dakwah Filantropi

NU CILACAP ONLINE – Dalam dunia filantropi, jurnalisme bukan sekadar alat penyampai informasi, tetapi juga penggerak kepercayaan publik. Inilah poin penting yang ditekankan pada workshop jurnalistik Filantropi inisiasi NU Online yang bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Cilacap.
Materi ini disampaikan pada hari kedua dilaksanakannya Workshop Jurnalistik Filantropi yang berlangsung di Gedung Baet el Turost wa Tahfidz (BTT) Yasmin Kroya, Sabtu (24/05/2025).
Disampaikan oleh Wakil Direktur Humas, IT danFundraising Relawan Bencana NU Peduli Aniq Rofiqoh, Lembaga filantropi seperti LAZISNU dan lainnya sering kali menghadapi tantangan dalam membangun narasi yang kuat dan humanis.
“Di sinilah peran jurnalisme menjadi krusial, menjadi jembatan antara niat baik dan penerimaan Masyarakat,” ujar Perempuan yang akrab disapa mba Ninuk ini. Baca juga PCNU Cilacap Tuan Rumah Workshop Jurnalistik Filantropi
Bukan Sekadar Laporan Seremonial
Salah satu kelemahan dalam komunikasi filantropi adalah pendekatan yang masih bersifat seremonial.
Publikasi sering kali terbatas pada dokumentasi kegiatan tanpa menggali esensi dari perjuangan, harapan, dan dampak yang nyata. Baca juga Ketua PBNU KH Savic Ali Resmi Membuka Workshop Jurnalisti
Padahal, cerita yang mengangkat sisi kemanusiaan dari filantropi dapat lebih menyentuh hati masyarakat dan meningkatkan partisipasi mereka.
Dalam hal ini Ninuk mencontohkan angle foto berupa serah terima bantuan dengan formasi yang formal tidak lebih menarik dari angle foto aksi relawan di lapangan. Ini lebih menarik dan lebih menyentuh sisi emosional public.
Kolaborasi dengan jurnalis dan pakar komunikasi bisa menjadi solusi untuk mengubah cara lembaga filantropi berinteraksi dengan publik.
“Pendekatan yang lebih humanis dan berbasis narasi bukan hanya membangun kepercayaan, tetapi juga memperkuat dakwah dalam filantropi,” ujar Ninuk.
Transparansi sebagai Pilar Utama
Kepercayaan publik terhadap lembaga filantropi bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Kasus penyalahgunaan dana filantropi yang terjadi di berbagai tempat telah menimbulkan skeptisisme terhadap transparansi pengelolaan.
Oleh karena itu, sistem pelaporan yang jelas dan keterbukaan dalam publikasi menjadi elemen penting dalam mempertahankan kredibilitas.
Dalam situasi krisis seperti bencana alam, publik sering kali mempertanyakan apakah dana yang mereka donasikan benar-benar sampai ke tangan yang berhak.
Di sinilah jurnalisme berperan untuk melakukan pengawasan dan memastikan informasi yang diberikan lembaga filantropi dapat diverifikasi.
Filantropi sebagai Dakwah Sosial
Dakwah tidak hanya terbatas pada mimbar dan majelis, tetapi juga hadir dalam bentuk kepedulian sosial.
Filantropi yang terkelola dengan baik tidak hanya memberikan bantuan material, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan dan solidaritas.
Dengan publikasi yang lebih strategis, gerakan filantropi dapat menjadi sarana dakwah yang membawa perubahan positif dalam masyarakat.
Kolaborasi antara jurnalisme dan filantropi adalah langkah strategis untuk memperkuat kepercayaan publik, meningkatkan transparansi, dan memastikan bahwa gerakan sosial benar-benar membawa manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Jika sinergi ini dapat diwujudkan dengan lebih sistematis, filantropi akan semakin berdaya sebagai kekuatan dakwah yang nyata.





