Muktamar NU Ke 35: Sidang Debat, Adu Jotos, dan Air Mata: Gus Kikin Naik Pimpin NU Lewat AHWA

NUCOM —- Muktamar Nahdlatul Ulama ke -35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, berakhir dengan babak baru. Sidang Debat, Adu dorong dan Jotos, serta Air Mata: Gus Kikin Naik Pimpin NU Lewat AHWA

Di antara riuh perdebatan, teriakan demonstrasi, hingga aksi saling dorong dan jotos, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.

Dari Sidang Komisi Ke Pleno

Dari sidang komisi ke sidang pleno. Di sini Sidang Pleno III menjadi titik balik. Lewat voting tertutup, muktamirin memutuskan, pemilihan Ketum PBNU tidak lagi “one man one vote”, melainkan diserahkan penuh kepada sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Opsi perubahan itu menang telak. Dari 552 suara sah, 401 memilih mekanisme AHWA. Sementara yang bertahan pada pemilihan langsung hanya 150 suara. “Dengan segala hormat inilah realitas yang kita terima,” kata Pimpinan Sidang Prof Muhammad Nuh mengetok palu.

Sembilan nama AHWA yang diberi amanah: KH Nurul Huda Djazuli, TGK KH Nuruzzahri Yahya, AG Dr KH Baharuddin HS, KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, dan Dr KH Abun Bunyamin.

Polemik “Iddah Politik” Picu Gelombang

Ketegangan memuncak di Sidang Pleno IV. Saat aturan masa jeda satu tahun bagi eks pejabat politik ditegaskan kembali, protes pecah. Anggota PCNU Tanjung Balai, Mulyadi, berteriak di forum: “Masa jeda satu tahun itu tidak ada! Sudah dihapus semalam! Jadi 6 bulan.”

Seruan itu menjalar ke luar ruangan. Minggu (30/8/2026), massa dari kubu Gus Yusuf menggelar aksi di halaman gedung pleno depan GSG. Spanduk robek, dorong-dorongan terjadi, bahkan sempat ada adu jotos.

“Kami ingin melawan anasir-anasir jahat yang mencoba merusak keadilan di Muktamar NU!” pekik orator. Teriakan “Hidup Gus Yusuf, lawan ketidakadilan!” menggema.

Panitia merespons cepat. Pasukan pengamanan Muktamar. Pagar Nusa dan Banser dikerahkan untuk menenangkan suasana. Ketua OC Muktamar Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyebut kericuhan sebagai bagian dari aspirasi. “NU punya cara sendiri menyelesaikan masalah. Sudah 35 kali muktamar, dan semua keputusan tetap disepakati bersama,” ujarnya.

Lima Nama, Satu Pilihan

Setelah dinamika panjang, lima nama tertinggi diajukan ke Rais Aam: Gus Kikin dengan 472 suara, Zulfa Mustofa 262 suara, Gus Salam 261 suara, Gus Yahya 258 suara, dan Gus Rozin 155 suara.

Senin pagi (31/8/2026), AHWA bermusyawarah. Secara mufakat, nama Gus Kikin — Pengasuh Ponpes Tebuireng dan Ketua PWNU Jatim — disebut.

“Secara mufakat memutuskan untuk memilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa Khidmat 2026-2031,” ucap KH Anwar Iskandar.

Di saat yang sama, KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU.

Muktamar ini mencatat sejarah: mengubah mekanisme pemilihan, menguji kedewasaan berorganisasi, dan melahirkan nahkoda baru. Di antara sorak, protes, dan doa, NU kembali menapaki abad keduanya dengan wajah yang lebih guyub, meski jalan menuju ke sana tidak selalu mulus.***(IHA)

Baca juga: Tong tong tong! Presiden Prabowo Pukul Kentongan Resmi Tutup Muktamar NU Ke 35 di Tambakberas Jombang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button