Guruh Soekarnoputra: Maestro yang Merajut Musik, Tari, dan Batik untuk Indonesia

JAKARTA, NUCOM — Jika Soekarno mewariskan Indonesia sebagai gagasan kebangsaan, maka Guruh Soekarnoputra mewariskannya sebagai sebuah karya seni. Inilah Guruh Soekarnoputra, Maestro yang Merajut Musik, Tari, dan Batik untuk Indonesia

Pria pemilik nama lengkap Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra itu lahir pada 13 Januari 1953, anak bungsu dari Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati. Sejak kecil, ia tidak tumbuh di antara pidato politik, melainkan di antara gamelan, tarian, dan kain-kain batik.

Tak heran jika hidupnya kemudian sepenuhnya didedikasikan untuk satu hal: mengabdi pada kesenian Indonesia.

Dari The Beat-G di Usia 12 Tahun hingga Guruh Gipsy yang Legendaris

Kiprah musik Guruh dimulai sangat dini. Pada 1965, saat usianya baru 12 tahun, ia sudah membentuk grup band The Beat-G. Lalu pada 1970, di usia 17 tahun, ia membentuk The Flower Poetman.

Puncak pencapaiannya adalah ketika ia merilis album monumental Guruh Gipsy (1975-1976). Album itu bukan sekadar album. Ia adalah jembatan sejarah yang untuk pertama kalinya berani mengawinkan musik progresif Barat dengan gamelan Bali dan Jawa.

Digarap bersama grup Gipsy — Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman — album itu hingga kini dinobatkan sebagai salah satu album terbaik Indonesia sepanjang masa.

Dari tangan dinginnya lahir lagu-lagu yang menjadi soundtrack kehidupan bangsa, seperti Renjana, Galih dan Ratna, Gita Cinta dari SMA, Anak Jalanan, Lenggang Puspita, Sendiri, Marlina, Damai, Kembalikan Bali Padaku, Kala Cinta Menggoda, Zamrud Khatulistiwa, dan ratusan lainnya. Lagu cinta, ya. Tapi di sela-selanya, Guruh kerap menyelipkan kritik sosial yang halus namun menghunjam.

Swara Maharddhika: Rumah yang Melahirkan Bintang

Kecintaan Guruh pada seni tidak berhenti untuk dirinya sendiri. Pada tahun 1977, ia mendirikan Swara Maharddhika — sebuah komunitas, sebuah sekolah, sebuah rumah bagi anak-anak muda yang ingin berkesenian.

Swara Maharddhika menjadi kawah candradimuka. Dari sinilah lahir nama-nama besar yang kini eksis di industri musik Tanah Air: Titi DJ, Memes, Denny Malik, dan puluhan seniman lainnya. Guruh adalah guru yang tidak pernah menggurui, ia memberi panggung.

Sebagai koreografer, komposer, dan sutradara, ia melahirkan puluhan pagelaran kolosal. Salah satu yang paling dikenang adalah Sri Mimpi Indonesia (2013) di Plenary Hall JCC Senayan — pertunjukan yang menampilkan 21 lagu tentang kecintaan pada Indonesia, budaya, kasih manusia, dan Tanah Air, yang dibawakan oleh Be3, Titi DJ, Sita Nursanti, dan sederet penyanyi terbaik.

Dari Panggung ke Kain Batik

Bagi Guruh, seni adalah satu kesatuan. Setelah musik dan tari, ia merambah fesyen.

Dia percaya batik adalah kekayaan intelektual bangsa yang wajib dijaga. Pada 1999, ia mendirikan PT. Guruh Soekarno Persada, rumah batik yang memiliki ciri khas — modern namun tidak pernah meninggalkan pakem batik itu sendiri. Karyanya dihargai Rp800 ribu hingga Rp200 juta, bukan karena mahal, tapi karena nilai budaya di baliknya.

Dedikasinya mengantarkannya meraih Fashion Icon Awards 2018 untuk Kategori Lifetime Achievement, sebagai tokoh yang berhasil mengkolaborasikan peragaan busana dengan musik dan tarian berbasis budaya.

Deretan penghargaan lain pun menyertainya: Penghargaan PDA Ilustrasi Musik dan Film dari FFI (1978), Chevalier De L’Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis (1991), Bakti Budaya Surakarta (1995), Anugerah Seni dari Mendikbud (1996), AMI Awards Pencipta Lagu Pop Terbaik untuk _Kala Cinta Menggoda_ (1998), hingga *Penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) dari PAPPRI* pada Hari Musik Nasional 2011.

Majalah Rolling Stone Indonesia bahkan mengabadikan namanya sebagai salah satu dari The Immortals sebagai 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa pada 2008.

Politik dan Seni dalam Satu Napas

Selain seniman, Guruh juga terjun ke politik sebagai anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. Namun baginya, politik bukanlah pangung kekuasaan, melainkan perpanjangan dari kesenian — cara lain untuk menjaga kebudayaan.

Kini, sang maestro telah berpulang pada Sabtu, 26 September 2026. Namun Swara Maharddhika masih bernyanyi. Batik-batiknya masih dipakai. Dan lagu-lagu Lenggang Puspita dan Gita Cinta masih akan terus diputar di radio-radio.

Guruh Soekarnoputra telah mengajarkan kita satu hal, bahwa menjadi Indonesia tidak cukup hanya diucapkan, tapi harus dirayakan — dengan musik, dengan tari, dan dengan karya.

Selamat jalan, Maestro.

Baca juga: INNALILLAHI, Indonesia Kehilangan Seniman Besar Penjaga Napas Kebudayaan, Guruh Soekarno Putra Wafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button