Taushiyah

Berdakwah Dengan Kelembutan

Berdakwah dengan kelembutan, membumikan Islam dengan lembut, dengan cara yang sama sekali tidak menimbulkan goncangan dalam masyarakat. Ini adalah sebuah fakta menarik di Indonesia, bahwa penyebaran Islam di Tanah air mencapai  kesuksesan luar biasa  hingga mampu membumikan ajaran Islam dari Sabang sampai Merauke. Mengapa sampai demikian? Sebab para ulama, para Da’i dan terutama para Wali Songo menyebarkan Islam dengan cara-cara yang damai.

Dalam konteks kesuksesan dakwah sebagai mana yang disebutkan tadi, itu karena Islam merupakan Risalah yang berbicara kepada seluruh umat, seluruh ras, dan seluruh suku bangsa. Risalah Islam bukan risalah bagi kelas sosial tertentu yang tugasnya menaklukan kelas-kelas sosial yang lain untuk melayani kepentinganya dan mengikuti hawa nafsunya, ataupun ikut berjalan dalam rombongan mereka, baik kelas sosial yang menguasai itu dari kaum yang kuat atau kaum yang lemah, kaum penguasa atau kaum sahaya, serta kaum kaya atau kaum fakir.

Risalah Islam merupakan risalah umat manusia semua dan alam semesta seisinya, bukan untuk melayani kepentingan kelompok dari mereka tanpa yang lainya, tidak pula hanya memahami, menafsirkan dan menyeru kepada mereka saja sebagai monopoli atas kelompok tingkat sosial tertentu, sebagaimana yang telah dipersangkakan oleh banyak orang.

Risalah Islam sesungguhnya adalah merupakan dari Rabb manusia untuk seluruh umat manusia dan merupakan rahmat Allah bagi setiap hamba Allah. Hal ini dapat kita buktikan pada surat al-anbiya ayat 107;

“dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Dalam konteks pembumian ajaran Islam, dibutuhkan cara dan strategi agar Islam tetap aktual, relevan dalam setiap zaman. Cara itu adalah Dakwah dengan kelembutan, kesantunan, dan kedamaian. Dengan cara inilah Islam mampu menyebarkan rahmat ke seluruh dunia. Pada konteks pembumian Islam ini, para Ulama menggunakan strategi dakwah, yaitu dakwah lisan (dakwah bi al-lisan), dakwah tulis (dakwah bi al-qalam) dan dakwah tindakan (dakwah bi al-hal) dan dirangkung dalam strategi berdakwah dengan kelembutan

Akan tetapi, sesungguhnya yang paling berpengaruh pada dimensi dakwah adalah bagaimana cara dakwah itu disampaikan. Yang paling diperhatikan adalah penekanan agar mitra dakwah memahaminya (al-balagh al-mubin), aspek kognitif (pemahaman) mitra dakwah terhadap pesan dakwah lebih ditekan-kan daripada aspek afektif (sikap) dan Psiko-motorik (tingkah laku) mereka. Fokusnya terletak pada kemampuan pendakwah (muballigh/muballighah). Sedangkan targetnya adalah kelangsungan berdakwah itu sendiri secara kontinyu.

Berdasarkan pendekatan ini, maka hukum berdakwah adalah fardlu ‘ain, artinya setiap muslim wajib berdakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Pertanyaan pokok yang diajukan pendekatan ini adalah bagimana dakwah dapat diselenggarakan secara terus menerus? Sebagai kewajiban, dakwah harus tetap dilakukan sekalipun belum mengetahui apakah dakwahnya berhasil atau tidak.

Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat an-Nahl 125 :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.“ (Surat an-Nahl : 125)

Secara umum, al-Qur’an sering mengutarakan beberapa taktik dikotomis dalam berdakwah. Seperti taktik menggembirakan (Tabsyir) berbanding dengan taktik menakut-nakuti (Tandzir). Memerintahkan kebaikan (al-amr bi al-m’ruf) berbanding dengan mencegah keburukan (al-nahyi ‘an al-munkar). Taktik kebebasan manusia (Qodariyah) berbanding dengan keterikatan manusia (Jabariyah) jika kita meminjam istilah teologis. Taktik tegas (qaulan syadidan) berbanding dengan taktik lunak (qaulan layyinan).

Mengemas taktik dan strategi di atas secara berimbang merupakan cara berdakwah yang terbukti efektif dan mampu menggugah kesadaran religiusitas masyarakat di satu sisi dan mampu meredam potensi-potensi yang bisa menimbulkan keresahan di masyarakat.

Dengan cara demikian antara lain, Islam mampu menyebar keseluruh dunia. Akan tetapi, jika kita melihat realitas dakwah hari ini, sangat ironis sekali apabila ternyata dakwah banyak dilakukan melalui cara-cara yang keras, yang terkadang malah berbenturan dengan kondisi masyarakat. Apalagi, terkadang ada yang menyelingi seruan dakwahnya dengan caci maki, mengumpat, bahkan berkata maupun berbuat yang menyinggung masyarakat.

Cara-cara demikian itu, secara tak langsung malah mereduksi / mengurangi makna dakwah itu sendiri. Padahal, Rasulullah, para Sahabat, hingga para Ulama seperti Wali Songo, dan Ulama-Ulama yang bernanung di dalam organisasi sosial keagamaan Nahdlatul Ulama (NU), mengobarkan semangat dakwah dengan cara yang lembut, santun, dan penuh budi pekerti.

Dalam konteks ini, tepat kiranya jika kita memperhatikan sabda Rasulullah SAW:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْحَى اللهُ تَعَالَى اِلَى اِبْرَاهِيْمَ يَاخَلِيْلِي حَسِّنْ خُلُقَكَ وَلَوْ مَعَ الْكُفَّارِ تَدْخُلُ مَدَاخِلَ اْلأَبْرَارِ – رواه الحاكم عن ابى هريراه

Nabi bersabda: “Allah telah memberi wahyu kepada Nabi Ibrahim:” Hai kekasih-Ku, tunjukkan budi pekerti yang baik walaupun terhadap orang kafir, engkau akan masuk surga bersama orang-orang yang baik.” (HR.Al Hakim dari Abu Hurairoh)

Setidaknya kita tetap kukuh menyeru pada kebikan dan menjauhi kemunkaran, kepada diri kita, keluarga, dan masyarakat. Dengan cara inilah, dengan berdakwah dengan kelembutan, kita berusaha agar semangat Islam tetap menyala di hati kita masing-masing.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

16 − 5 =

Back to top button