KH Aid Mustakim: Ramadhan Bulan Kepedulian Sosial dan Bulan Berbagi

NU Cilacap Online — Pada bulan yang mulia yang penuh berkah dan rahmat ini, kita dianjurkan untuk meneladani lakulampah bagaimana Rasulullah SAW melakukan ibadah puasa. Inilah tausiyah Ramadhan KH Aid Mustakim: Ramadhan Bulan Kepedulian Sosial dan Bulan Berbagi.

Puasa diketahui sudah menjadi syariat umat manusia sejak awal hingga hari ini, semua agama mengajarkan puasa ini bukti bahwasanya ibadah ini sesuatu yang sangat global dan universal dalam keistimewaannya.

Puasa sebagai ibadah mahdhoh berbeda syariatnya dengan ibadah lainnya yang menyaratkan kegiatan formal, misalnya ibadah shalat yang dengan syariat sesuai bilangan rakaatnya, rukuknya bagimana? sujudnya seperti apa? Dan lain sebagainya. Begitu juga haji, ada tatacara yang harus dipenuhi. Tapi puasa seolah tiada kegiatan, seperti diketahui, hadits Nabi SAW mengatakan bahwasanya tidurnya saja merupakan ibadah, diamnya bertasbih, amalnya berlipatganda, dan seterusnya. Kenapa bisa begini? Karena puasa kegiatannya hanya satu yakni Menahan Diri.

Kenapa tidurnya, diamnya menjadi ibadah, karena itu cara menahan diri dari sesuatu yang membatalkan, dan merusak nilai puasa. Apabila dalam berpuasa beramal dengan melakukan kerja keras maka puasanya bernilai luar biasa, dan pahalanya berlipatganda di hadapan Allah SWT.

Kutamaan sedekah di bulan Ramadhan ini, sudah banyak dijelaskan dalam hadits Nabi. Adapun amalan bersedekah betapa sungguh dianjurkan di setiap waktu, selagi kita memiliki kelapangan baik tenaga, pikiran, maupun harta. Tetapi sedekah lebih dianjurkan pada bulan Ramadhan, karena pahalanya berlipat ganda.

Sebuah riwayat menyebutkan jawaban Rasulullah perihal keutamaan berbagi atau sedekah pada bulan Ramadhan, karena memiliki keistimewaan luar biasa sebagaimana riwayat sahabat Anas bin Malik ra:

 عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

 Artinya: Dari Anas dikatakan, Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama? Rasul menjawab, “Sedekah di bulan Ramadhan” (HR At-Tirmidzi).  

Para sahabat juga menyaksikan kedermawanan dan kemurahan hati Rasulullah pada bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Mereka menyaksikan Rasulullah lebih sering berbagi pada bulan Ramadhan sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini:

  كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Artinya: Rasulullah saw adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan (HR Bukhari dan Muslim).

Dari sini kemudian para ulama menarik kesimpulan bahwa agama Islam memotivasi umatnya untuk berbagi melalui bersedekah terutama pada bulan Ramadhan.

Maka puasa memberikan makna, pertama, diketahui puasa merupakan ibadah semua agama, kedua, ramadhan memiliki keunikan di mana semua kegiatan maupun pekerjaan bernilai ibadah, ketiga, melalui sedekah, puasa memberi makna nilai kepekaan pada kepedulian sosial.

Orang yang tidak biasa menahan lapar, orang yang berkecukupan, tapi bagi fakir miskin, bagi orang papa, orang yang belum makan dengan baik dan kelaparan, kita dapat merasakan itu. Oh ternyata, orang lapar seperti ini rasanya, inilah nilai puasa jadi istimewa, nilai bersedekah jadi istimewa. Kepekaan dan kepedulian sosial kita terbaca, terangkat, dan terekspos dengan baik.

Melalui implementasi dengan budaya berbagi takjil, di tepi-tepi jalan dan sebagainya. Inilah kultur yang dibangun para ulama kita, wali songo, yang kemudian jadi tradisi kita,

Para ulama itu mendasari dari langkah-langkah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

“Jadi kita tahu persis berbagi takjil yang sederhana itu bernilai sedekah dan ibadah yang luarbiasa,”

Mari kita gunakan momentum ramadhan ini memulai membiasakan secara berkelanjutan, peduli bertindak, dan menjadikan penguatan solidaritas sosial.

Berikut ini poin-poin penting keutamaan sedekah pada bulan Ramadhan yakni;

Pahala Dilipatgandakan: Sedekah pada bulan ramadhan pahalanya berlipat ganda, bahkan diumpamakan seperti membuka pintu surga.

Menghapus Dosa: Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.

Sunnah Nabi: Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat bulan Ramadhan.

Membantu Sesama: Sedekah di bulan Ramadhan, terutama dalam bentuk makanan berbuka (iftar), memberikan kebahagiaan bagi kaum dhuafa.

Karena Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meningkatkan kedermawanan yang bernilai istimewa, menggabungkan ibadah puasa dengan kepedulian sosial. Dan memperbanyak sedekah kepada sesama manusia.

Jika kita mencontoh nabi maka kita tingkatkan empati kepedulian sosial, sulitnya orang lain kita tergerak untuk mendorong dan membantu, tidak hanya takjil, nantinya ada zakat fitrah maupun zakat maal.

Jadi puasa ini meningkatkan kedekatan spiritual kita, maka puasa lebih dari menahan diri, tapi puasa menumbuhkan kesadaran sosial dan rasa berbagi. Hal yang halal saja mampu dltahan apalagi yang haram, maka ini dalam prakteknya akan melahirkan kesalehan sosial yang mampu mengerem sesuatu yang menggoda nafsu kita.

Maka siapa sih yang mampu membaca puasa yang baik? Jawabannya nanti paska ramadhan, apakah peduli pada kesalehan sosial, apakah puasanya diterima atau tidak? Jika paska tamadhan tidak berubah membaik maka puasanya hanya dapat lapar dan dahaga. Sungguh sangat disayangkan.

Mari berdoa semoga selalu mendapat hidayah Allah SWT dari ibadah yang bernilai kesalehan pribadi sekaligus bernilai kesalehan sosial, karena puasa mengajarkan ketakwaan yang melebar kepada kesalehan sosial. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button