Dr Abuya Arrazy Hasyim dan Ahlussunnah Wal Jamaah | NUCOM

Dr Abuya Arrazy HasyimNU CILACAP ONLINE – Dr Abuya Arrazy Hasyim adalah pendakwah asli tanah Minangkabau yang mulai menghidupkan kembali pemahaman ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja); sebagaimana diyakini dan dipraktikkan para ulama pendahulunya.

Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Abuya Arrazy Hasyim yang bergelar MA.Hum ini mengatakan. Bahwa nama belakangnya yaitu Hasyim adalah pemberian ayahandanya; yang dinisbatkan kepada pendiri Nahdhatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari asal Tebuireng Jombang.

Ustadz Arrazy Hasyim menyatakan kepada jamaahnya bahwa ia bukan orang NU secara kelembagaan/organisasi. Tetapi ia mencintai NU.

Profil Abuya Arrazy Hasyim

Abuya Arrazy Hasyim dilahirkan di Kota Tangah, Payakumbuh, Sumatera Barat pada tahun 1986, dari pasangan Nur Akmal bin M. Nur dan Asni binti Sahar. Arrazy kecil menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri di Payakumbuh; lalu berpindah ke Bukittinggi untuk melanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN)/MAKN 2 Bukittinggi (2002-2004).

Pada tahun 2004-2009, Abuya Arrazy Hasyim melanjutkan studi perguruan tingginya pada jurusan Aqidah dan Filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Setahun sebelumnya ia menyelesaikan kajian hadisnya di Darussunnah. Di Darussunnah ia mengkhatamkan 6 kitab Hadis (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majah) yang menjadi standar keilmuan ulama Muhadditsin di bawah bimbingan Syaikh KH Dr Ali Mustofa Yaqub, MA, alumni Pondok Pesantren Tebuireng; juga Imam Besar Masjid Istiqlal selama 2 periode.

Pada setiap pertengahan tahun, dari 2006-2008 ia aktif belajar kepada Syaikh Prof Dr. M. Hasan Hito, Dr Badi Sayyid al-Lahham dan Taufiq al-Buti anak dari Syaikh Muhammad Said Ramadan al-Buthi, mereka semua dari Suriah.

Pada tahun 2009-2011, Abuya Arrazy Hasyim menyelesaikan magister Strata 2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah itu, pada tahun 2012-2017, menyelesaikan doktoralnya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga.

Pada tahun 2016 dan 2017, mendapatkan kesempatan untuk mengisi aktivitas dakwah dan seminar keislaman di KBRI Paris, KJRI Marseille, dan juga komunitas Muslim lainnya di Perancis.

Abuya Arrazy aktif sebagai dosen pascasarjana Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Ia juga dosen ilmu Kalam dan Filsafat Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari 2012 sampai 2019.

Selain itu, Abuya Arrazy Hasyim juga aktif sebagai pengajar/pengampu kitab Akidah Ahlussunnah dan hadits Sunan An-Nasa’i dan Ibnu Majah di Darussunnah. Pada akhir 2018, ia mendirikan Ribath al-Nouraniyah di Tangerang Selatan, takhassus Ilmu Akidah Ahlussunnah dan Tasawuf.

Sanad Keilmuan Abuya Arrazy Hasyim

Selain bimbingan Syaikh Dr Ali Mustofa Yaqub, Abuya Arrazy juga mendapatkan sanad hadis dari Syaikh al-Hadits Dr Khoja Muhammad Sharif dari Haydarabad, India.

Begitu juga Abuya Arrazy Hasyim mendapatkan ijazah hadits dari Syaikh al-‘Arif Dr Muhammad ‘Abdurrabb al-Nazhari al-Syadzili dari Yaman, murid dari

Syaikh Saif Bin Ahmad al-Alawi, Hasan Masysyath, Amin al-Kutbi dan al-Musnid Muhammad Yasin al-Fadani al-Makki. Ia juga menerima ijazah dan mulazamah dengan Syaikh Ahmad Marwazi al-Makki al-Batawi murid Syaikh Ibrahim Fathani; dan juga al-Musnid Muhammad Yasin al-Fadani.

Di samping itu, ia menerima ijazah dari murid-murid al-Musnid Muhammad Yasin al-Fadani lainnya, seperti Syaikh Zakariya al-Halabi al-Makki, Syaikh Abdul Mun’im bin ‘Abdul ‘Aziz al-Ghumari. Juga Syaikh Zakwan al-Batawi al-Makki dan lainnya.

Dalam Aqidah Ahlussunnah, Ia mengambil dari Syaikh al-Syuyukh Dr Muhammad Hasan Hito. Dalam Fiqh mazhab al-Syafi’i, ia mempelajarinya dari Syaikh Dr Taufiq bin Muhammad Sa’id al-Buti. Nahwu dari Syaikh Dr Ayman Syawwa al-Dimasyqi, Ulum al-Hadits dari Syaikh Dr Badi’ Sayyid al-Lahham.

Abuya Arrazy Hasyim mulazamah kepada masyaikh Damaskus tersebut sebelum Syaikh Dr Muhammad Hasan Hito mendirikan STAI al-Syafi’i di Cianjur. Dalam ilmu zikir dan tasawuf, ia mendapatkan ijazah dari Syaikh Mawlana Kasril al-Khalidi, Syaikh Dr Muhammad Abdurrabb al-Nazhari al-Syadzili. Juga Syaikh Darlis bin Hasan Basri al-Naqsyabandi al-Sammani, dan lainnya. [Sumber Facebook Muhaemin Cakimin] [Shevilla Dewi Pramudita]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button