Theologi Bencana, Ketika Alam Mulai Bosan

NU CILACAP ONLINE – Mungkinkah telah Tuhan bosan dengan dosa-dosa manusia? Ataukah alam yang mulai bosan bersahabat dengan penduduk bumi? Inilah sekelumit thelogi bencana terulas oleh Toufik Imtikhani.
Setiap musim hujan, sering kita mendapatkan di wilayah kita, terjadi banjir. Apalagi akhir-akhir ini. Hujan sedikit, banjir terjadi di mana-mana. Banjir terjadi di dataran rendah. Sementara di daerah pegunungan, terjadi longsor.
Bencana itu tentu membawa korban, baik jiwa maupun material. Belum lagi bencana-bencana, yang memang secara kasatmata, seperti tak ada campur tangan manusia, seperti gempa bumi, angin topan, tsunami, dan lain sebagainya. Mengapa alam nampak seperti tak bersahabat lagi dengan kita? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Kata penyanyi Ebid G Ade.
Syair lagu Ebid G Ade memang banyak benarnya. Bencana terjadi dapat dianalisa secara menyeluruh karena kemungkinan dua faktor:
– Tuhan mulai bosan karena kita manusia banyak melakukan dosa-dosa.
– atau alam mulai bosan bersahabat dengan kita.
Poin pertama adalah hal yang kontekstual dengan pembicaraan kita kali ini. Theologi Bencana. Yaitu melihat bencana dalam perspektif theologi atau keimanan.
Poin penting yang harus kita catat adalah, bahwa segala hal yang ada di semesta ini, penciptaan, pengendalian dan pengaturan, ada di tangan Tuhan.
Tak seorang manusia pun yang bisa melakukan campur tangan. Di sinilah konsep rububiyah Tuhan. Tuhan semesta alam, dan kuasa atas segala sesuatu.
Relasi dunia makrokosmos dan mikrokosmos
Tuhan, dan alam jagad raya adalah dunia makrokosmos. Yang menurut Van Peursen, disebut sebagai alam mitologi.
Pada tahap ini, manusia merasa dirinya berada di dalam “selubung” atau terkepung oleh kekuatan gaib atau supernatural di sekitarnya, seperti dewa-dewa atau kekuatan alam.
Manusia cenderung menjelaskan fenomena alam melalui cerita-cerita mitos, bukan melalui analisis rasional.
Manusia merasa seluruh alam semesta dihuni oleh kekuatan gaib yang tidak dapat diprediksi.
Alam makrokosmos adalah alam transendensi. Tuhan adalah personal dzat yang meliputi, sebagaimana firman-Nya:
وَرَحْمَتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَىْءٍ ۚ
Karena Tuhan itu meliputi, maka ada yang diluputi, yaitu alam imanensi, mikrokosmos. Segala arah, adalah terlihat wajah Tuhan, yang meliputi sesuatu yang diliputi. Manusia dapat menemukan Tuhan, sebagai artikulasi alam mikrokosmos dan transendensional, sebagaimana firman-Nya,
فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِۗ
Maka sesuatu yang diliputi, itu akan berada di dalam yang meliputi. Pandangannya selalu tertuju, dan dibatasi oleh, dan terhalang dengan yang meliputi.
Pengaruh yang meliputi akan sangat besar terhadap yang diliputi. Yang diliputi akan senantiasa dalam pengawasan dan bimbingan yang meliputi. Tidak ada distance di antara keduanya.
Fase kehidupan kemudian memasuki fase ontologis, kata Van Peursen. Imanensi manusia mulai mengambil jarak dengan transendensi.
Kesombongan manusia mulai nampak dan mencoba menjauh dari transendensi. Alam mikrokosmos merasa dirinya bisa berdiri sendiri, dan sesuka hati melakukan swakelola, menjauh dari petunjuk-petunjuk ilahiah.
Kerusakan di bumi menjadi nyata, akibat kesombongan para penghuninya.
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Bahkan ketika mereka diberi peringatan oleh Tuhan, agar tidak melakukan dan membuat kerusakan, mereka membantah dan menyatakan bahwa mereka justru melakukan kebaikan…
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
Imanensi semakin kuat. Kesombongan semakin tinggi. Jarak alam makrokosmos dan mikrokosmos, bukan hanya semakin jauh.
Tapi banyak pertentangan, sehingga alam makrokosmos bereaksi atas pembangkangan di alam mikrokosmos. Reaksi itu berupa bencana yang terus berdatangan, sebagai bentuk hukuman atas perbuatan mereka.
Taqwa, dan dinamika imanen
Iman itu bukan sesuatu yang statis. Seseorang beriman kepada Tuhan, sudah cukup begitu saja percaya, tanpa mengindahkan perintah dan larangannya.
Ibarat kata, itu keimanan tanpa bukti nyata. Oleh karena itu, iman harus didinamisir, membentuk apa yang disebut dengan taqwa.
Sebagia orang mendefinisikan taqwa dengan takut. Definisi ini tidak salah. Orang yang bertaqwa adalah orang yang merasa takut tidak melakukan perintah-Nya, dan merasa takut melanggar larangan-Nya.
Taqwa dapat didefinisikan sebagai:
إمتثال أمر الله واجتناب نواهيه
Sehingga,
كأن المتقي جعل امتثال أمر الله والإجتناب عما نهاه الله حاجزا بينه وبين العذاب
“Seakan orang yang bertaqwa itu menjadikan pelaksanaan terhadap perintah Allah dan penghindaraan terhadap apa saja yang dilarang oleh Allah sebagai penghalang, sekat, antara dirinya dengan azab.”
Jadi jelas, azab itu terkait dengan ketidaktaqwaan. Tuhan berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Misal, ada perintah untuk menjaga alam. Dan itu jelas tugas pokok manusia sebagai khalifah di bumi. Kemudian dengan kesombongan teknologi, dan keserakahan manusia, manusia kemudian membabat hutan sehingga habis, atau mengeruk bahan tambang tanpa peduli terhadap lingkungan, maka akan terjadi kerusakan ekosistem, tergusurnya habitat-habitat makhluk hidup lainnya. Ketika musim hujan datang, terjadilah banjir datang, tanah longsor terjadi.
Pada waktu kemarau, masyarakat dilanda kekeringan. Akibat tanah tidak dapat menyimpan air. Polusi meningkat. Efek rumah kaca muncul, dan terjadilah pemanasan global.
Jadi, setiap bencana yang terjadi, adalah jawaban Tuhan atas ulah manusia. Ini bisa disebut hukum tabur tuai. Siapa menanam, akan memetik.
Indonesia, misalnya, adalah negara yang penuh dengan potensi bencana. Wilayah Indonesia dikepung lautan. Gunung api aktif, 33 persennya ada di negara kita. Panas bumi bahkan mencapai 50 persen.
Belum lagi wilayah kita berada di tiga patahan lempeng benua. Yang semuanya mengandung potensi bencana yang sangat besar. Bencana-bencana itu harus dihadapi dengan ketaqwaan, agar Tuhan mencurahkan segala keberkahan dari langit dan bumi.
Hujan angin tidak menimbulkan bencana banjir. Gempa bumi tidak menimbulkan stunami. Semua itu bisa dikendalikan oleh Tuhan, karena Dia penguasa alam semesta. Tetapi syaratnya adalah, iman yang terus bergerak, bermutasi dinamis, menjadi apa yang disebut TAQWA.
Penulis Toufik Imtikhani, Ketua RW 04 Donan 2023-2025





