Khutbah Iduladha, Meraih Ketakwaan Melalui Ibadah Kurban

NUCOM — Ibadah kurban yang kita lakukan setiap Idul Adha adalah perwujudan bentuk keikhlasan. Maka kali ini NU Cilacap online mengetengahkan Khutbah Iduladha, Meraih Ketakwaan Melalui Ibadah Kurban.

Dengan berkurban, kita diajarkan untuk tidak terlalu mencintai harta benda. Kita diajak untuk menyadari bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah SWT, dan suatu saat bisa diambil kembali oleh-Nya.

Ibadah kurban adalah sarana untuk melatih keikhlasan dan melepas kecintaan berlebih pada harta. Dan Allah SWT mengingatkan bahwa hakikat kurban bukanlah tentang nilai materialnya, melainkan ketakwaan dan kerelaan melepaskan apa yang kita cintai.

Khutbah I

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ (٩×)

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ،فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ الْمُبَارَكِ، يَوْمِ النَّحْرِ وَيَوْمِ الْعِيْدِ الْأَكْبَرِ، نُكَبِّرُ اللهَ عَلَى مَا هَدَانَا، وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَوْلاَنَا وَنَسْتَحْذِرُ قِصَّةَ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَابْنِهِ إِسْمَاعِيْلَ، اللَّذَيْنِ ضَرَبَا أَعْظَمَ الْأَمْثِلَةِ فِي الطَّاعَةِ وَالتَّوْحِيْدِ وَالِاسْتِسْلاَمِ لِأَمْرِ اللهِ تَعَالَى

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Atas berkat rahmat dan nikmatnyalah kita dapat bertemu, bersama-sama merayakan hari istimewa yang penuh berkah ini, yaitu Idul Adha, hari raya yang sarat makna pengorbanan dan keikhlasan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang.

Jamaah iduladha yang dirahmati Allah,
Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk merenungkan kembali kisah agung Nabi Ibrahim AS. Kisah ini bukan hanya cerita sejarah, tetapi juga pelajaran hidup yang sangat relevan sepanjang zaman. Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang memiliki keimanan yang sangat kuat dan ketaatan yang luar biasa kepada Allah SWT.

Keikhlasan Nabi Ibrahim terlihat jelas ketika beliau mendapatkan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Perintah Allah SWT ini diabadikan dalam QS. As-Saffat ayat 102. Peristiwa ini menjadi landasan dasar disyariatkannya ibadah kurban.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: “Maka ketika anak itu (Ismail) sampai pada (umur) sanggup bekerja bersamanya, Dia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,”

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Peristiwa itu terjadi ketika Nabi Ismail berusia antara 12, 13, hingga 15 tahun, usia sudah mencapai sanggup bekerja membantu ayahnya.

Perintah ini tentu bukan perkara ringan. Bayangkan, seorang ayah yang telah lama menantikan kehadiran anak, selama 86 tahun, justru diminta untuk mengorbankannya. Namun, dengan penuh keyakinan, Nabi Ibrahim tidak ragu untuk menjalankan perintah tersebut.

Yang lebih mengagumkan lagi adalah sikap Nabi Ismail AS yang menerima perintah itu dengan penuh kesabaran dan ketaatan. Ia tidak memberontak, tidak menolak, bahkan justru mendukung ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah. Ini menunjukkan bahwa keikhlasan dan keimanan telah tertanam kuat dalam diri keduanya.

Jamaah iduladha yang dirahmati Allah,
Dari kisah tersebut, kita dapat memahami bahwa keikhlasan adalah inti dari setiap ibadah. Keikhlasan berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan pujian atau imbalan dari manusia. Keikhlasan juga berarti rela melepaskan apa yang kita cintai demi mendapatkan ridha Allah SWT.
Keikhlasan adalah pendorong utama diterimanya amal dan ibadah. Tanpanya, amalan sehebat apa pun akan tertolak. QS. Al-Bayyinah Ayat 5: Allah memerintahkan agar ibadah dilakukan dengan pemurnian niat,

.وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan penuh ikhlas, yakni memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita tidak diminta untuk mengorbankan anak seperti Nabi Ibrahim. Namun, kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menguji keikhlasan kita. Misalnya, ketika kita harus memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain, atau ketika kita diminta untuk berbagi sebagian rezeki kita kepada yang membutuhkan.

Ibadah kurban yang kita lakukan setiap Idul Adha adalah bentuk keikhlasan. Dengan berkurban, kita diajarkan untuk tidak terlalu mencintai harta benda. Kita diajak untuk menyadari bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah SWT, dan suatu saat bisa diambil kembali oleh-Nya.

Ibadah kurban adalah sarana untuk melatih keikhlasan dan melepas kecintaan berlebih pada harta. Dan Allah SWT mengingatkan bahwa hakikat kurban bukanlah tentang nilai materialnya, melainkan ketakwaan dan kerelaan melepaskan apa yang kita cintai. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 37,

لَن يَنَالَ اللّٰهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلٰكِن يَنَالُهُ التَّقۡوٰى مِنكُمۡ‌ؕ

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”

Allah SWT telah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan kita. Artinya, nilai utama dari kurban terletak pada niat dan keikhlasan kita dalam melaksanakannya. Tanpa keikhlasan, ibadah kita akan kehilangan maknanya.

Jamaah iduladha yang berbahagia,
Keikhlasan juga erat kaitannya dengan kesabaran. Nabi Ibrahim harus menunggu bertahun-tahun (86 Tahun) untuk mendapatkan keturunan, dan ketika akhirnya memiliki anak, ia justru diuji dengan perintah yang sangat berat. Namun, beliau tetap sabar dan yakin bahwa Allah memiliki rencana terbaik.

Dalam kehidupan modern saat ini, kita sering kali diuji dengan berbagai kesulitan. Ada yang diuji dengan masalah ekonomi, kesehatan, maupun hubungan sosial. Dalam menghadapi ujian tersebut, kita perlu meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim agar tetap kuat dan tidak mudah putus asa.

Selain itu, keikhlasan juga dapat memperkuat hubungan kita dengan sesama manusia. Orang yang ikhlas akan lebih mudah memaafkan, tidak mudah iri, dan tidak suka menyimpan dendam. Dengan demikian, kehidupan sosial akan menjadi lebih harmonis.

Idul Adha juga mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat merupakan simbol kebersamaan dan kepedulian. Ini adalah bentuk nyata bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.

Hablum minallah (حبل من الله): Hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Hablum minannas (حبل من الناس): Hubungan antara manusia dengan sesama manusia.

Dua konsep ini merupakan pilar utama dalam ajaran Islam. Umat Muslim diwajibkan untuk menyeimbangkan dua hubungan yakni hubungan (ibadah) vertikal kepada Allah (seperti salat dan puasa) dengan perbuatan horizontal yang baik kepada sesama (seperti menjaga keadilan, saling menghormati, berkurban, dan bersedekah)

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah iduladha yang berbahagia,
Marilah kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Mari kita belajar untuk lebih ikhlas dalam beribadah, lebih sabar dalam menghadapi ujian, dan lebih peduli terhadap sesama. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam setiap perbuatan.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ. 

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ  ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وأشهدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَانَبِيّ بعدَهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ .اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

   عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

واْلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button