Songkok Kopiah dengan Logo atau Lambang NU

NU CILACAP ONLINE – Songkok dengan logo NU atau Kopiah dengan Lambang NU akhir-akhir ini semakin viral dan lazim terlihat. Misalnya di forum pengajian NU. Di Pondok Pesantren, Masjid dan Mushalla. Di sekolah dan madrasah diniyah, Atau bahkan di tempat umum.

Jika kita perhatikan, yang mengenakan songkok atau kopiah berlogo NU itu tidak hanya dari kalangan orang tua. Tapi juga anak muda. Bahkan anak-anak santri di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin).

Di antara mereka bisa saja warga NU atau pengurus NU. Juga bukan tidak mungkin berasal dari anggota atau pengurus badan otonom berbasis usia dari unsur laki-laki. Mereka bisa jadi para santri di pesantren NU. Atau bahkan muslim awam yang sama sekali tidak mengenali apa itu NU.

Di sekeliling kita, fenomena Songkok berlambang NU atau Kopiah berlogo NU ini menarik untuk diperhatikan dari beberapa sudut pandang.

Misalnya, dan ini yang pertama,  dari sudut pandang ekonomi. Songkok dan Kopiah, sebelum berlogo NU, sudah merupakan produk usaha masyarakat. Orang per orang memilih memproduksi atau sekadar menjual. Kemudian, putaran penghasilannya menjadi basis penyangga perekonomian keluarga.

Di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Kabupaten Kebumen, banyak sentra produk songkok dan kopiah dengan berbagai variannya. Baik berbasis usaha rumahan maupun menegah ke atas hingga pabrik. Secara ekonomi, produksi songkok dan kopiah relatif bertahan sampai saat ini.

Mengapa beisa bertahan? Ini sudut pandang ke dua; songkok dan kopiah mendapat dukungan dari user atau pengguna yang secara kultur kuat mempertahankan budaya. Kita tahu, tanpa atau dengan lambang NU, songkok dan atau kopiah bertahan dalam dirinya sendiri sebagai entitas produk budaya dalam genggaman pengguna.

Attitude dan Branding

Sebagai produk budaya, songkok dan kopiah sudah menyatu dalam tradisi keseharian umat Islam, tak terkecuali warga NU, dan karenanya menjadi kebutuhan. Memakai songkok atau kopiah, juga sudah merupakan kebutuhan; sebagai ekspresi mempertahankan budaya.

Ketiga, cermin ketinggian nilai dan attitude. Songkok dan atau kopiah bagi sebagian orang bisa mengandung value, nilai yang karenanya adat istiadat kesopanan dan tata krama bisa terjaga. Seorang santri, terlebih santri NU, merasa lebih etis dalam attitude nya saat mengenakan songkok atau kopiah.

Jajaran pengurus Nahdlatul Ulama juga bagian dari para pihak yang sangat kental mempertahankan nilai dan kepantasan sikap yang ditunjang dengan mengenakan sonkok atau kopiah. Meskipun, tidak harus yang berlogo dan berlambang NU. Menghadiri Rapat NU, rasanya kurang pas jika tidak mengenakan songkok dan atau kopiah.

Baca juga Lambang NU, Logo NU: Pencipta, Makna dan Simbol

Keempat, sudut pandang branding dan strategi pemasaran. Logo NU yang tersemat pada songkok atau kopiah adalah bagian dari branding dan di belakangnya ada strategi pemasaran dalam perspektif produsen.

Mengapa logo NU terpilih menjadi brand dari songkok atau kopiah; sementara merk sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan organisasi NU? Karena mayoritas pengguna songkok atau kopiah adalah warga NU. Dan itu pangsa pasar yang sangat besar dan berpotensi menghadirkan keuntungan secara finansial.

Identitas ke-NU-an

Kelima, songkok kopiah dengan logo atau lambang NU semakin viral dan fenomenal karena mengalami proses pentradisian. Maksudnya, melalui proses pengenalan dan pemakaian secara terus menerus, dari waktu ke waktu, dari momen ke momen.

Dengan cara itu, memakai atau mengenakan songkok dan kopiah dengan logo atau lambang NU mengalami internalisasi dalam diri pengguna baik langsung maupun tidak langsung. Ini semacam proses pengejawantahan dari apa yang tertanam dalam hati, lalu dimunculkan dalam bentuk simbol.

Proses ini melahirkan sikap dan pilihan sebuah cara. Dalam rangka apa? Mungkin sekadar memantaskan diri. Atau mengikuti trend, dari yang hanya bersifat mengekor pada tradisi sampai pada tahap penggunaan yang bernuansa ideologis.

Saat sampai tahap ideologis, maka ber-songkok dengan lambang NU, atau ber-kopiah dengan logo NU merupakan identitas tersendiri yang mencerminkan kekuatan dalam ber-NU.

Dan dengan demikian, identitas ke-NU-an seseorang tidak hanya tampil di permukaan; melainkan karena hati dan pikirannya tertaut kuat dengan NU. Apakah Saudara memiliki songkok ber-logo NU? (MaM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button