Peringati Harlah Ke-103 NU Versi Hijriah, MWCNU Majenang Gelar Refleksi, Istighotsah, dan Piagam Penghargaan

NU Cilacap Online — Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Majenang menggelar refleksi, Istighotsah dan piagam penghargaan berupa MWCNU Majenang Award dalam agenda tasyakuran memperingati Hari Lahir (Harlah) Ke-103 NU versi Hijriah (16 Rajab 1344 – 1447 H) di GOR SMK Diponegoro, Jalan Raya Pahonjean, Cibeunying, Majenang, Cilacap, pada Ahad, 06 Syakban 1447 H (25/1/2026).

Ketua MWCNU KH Salamun HS berharap, acara refleksi Harlah NU menjadi sebuah momentum untuk peringatan kemaslahatan NU bagi umat, bagi bangsa Indonesia, dan kemanusiaan.

“Terima kasih para kiai, para pengurus Lembaga maupun Banom, Kepala Sekolah atau Madrasah dari RA/TK, MTs/SMP, MA/SMK serta Ketua dan Rektor Perguruan Tinggi se Majenang Raya yang telah berkhidmah pada NU selama ini. Sebagai syukur kita ke hadirat Allah SWT disertai 70 tumpeng disertai doa Istighotsah kemaslahatan untuk kita semua, untuk masa depan Nahdlatul Ulama Majenang, bangsa Indonesia dan Kemanusiaan,” kata H Salamun yang juga Ketua STKIP Majenang dalam sambutannya.

H Salamun menyampaikan bahwa MWCNU Majenang sebagai pilar kekuatan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Cilacap. Dengan basis jamaah yang sangat besar, kota Majenang ini memang sering dianggap sebagai pusat atau “kota metropolitan” bagi aktivitas NU di wilayah Cilacap Barat.

“NU Majenang sebagai jam’iyah dengan jamaah terbanyak, bahkan jadi kota metropolitannya NU Cilacap, LP Ma’arifnya juga terbesar, Muslimatnya juga terbesar di Kabupaten Cilacap. Dan bagian dari pada bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, dan sebanyak 56.90 persen warga NU.”

“Tentunya dengan kekompakan sebagai sumber kekuatan dan pelayanan kemaslahahatan bagi semua, bukan hanya bagi Nahdliyin saja tetapi begitu juga dengan segenap kemanusiaan,” jelasnya.​​​

Rais Syuriyah MWCNU Majenang KH Khamid Alwi mengawali pidato refleksi dalam peringatan tersebut, merasa bersyukur karena Allah SWT telah mengaruniakan khidmah yang panjang dan dirasakan hingga saat ini NU ada dalam rangka turut berperan mewujudkan kemerdekaan, dan peradaban demi pelayanan kepada umat untuk kemaslahatan.

Dalam pidatonya KH Khamid Alwi juga membacakan riwayat sejarah kepemimpinan MWCNU Majenang sejak periode awal berdiri hingga kini, dan menyerukan untuk melestarikan perjuangan NU sebagai amanah untuk meneruskan silsilah keberkahan dari jam’iyyah yang didirikan oleh para ulama.

“Amanah bagi kita semua untuk turut meneruskan silsilah barakah dari jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang didikan para ulama shalihin yang kita yakini min auliyatillah (kekasih Allah) sebagai amal shaleh dari para pendahulu kita,” katanya.

“Keberkahan itu kita rasakan nyata sampai hari ini, maka amanah yang ada di pundak kita adalah bahwa silsilah barakah harus diteruskan kepada generasi-generasi sesudah kita,” tambahnya.

Ketua Panitia kegiatan, Kusnana menyebutkan dalam agenda refleksi Harlah NU ke 103 juga memberikan piagam penghargaan atau MWCNU Majenang Award kepada kiai yang juga aktivis yang telah memberi sumbangsih dalam perjuangan NU lil maslahah.

“Maka MWCNU Majenang beri apresiasi penghargaan berupa MWCNU Majenang Award, kali ini diperuntukkan kepada Kiai Haji Tahrir Pahonjean, Ketua Ansor Pertama Majenang dan Kiai Taufikul Manan Azhar (63) dari Desa Ujungbarang atas dedikasi dan khidmahnya dalam membimbing umat Muhammad dan Soekarno di Desa-nya. Khidmah mereka membekas dan maslahah ammah (kebaikan untuk semua),” tegasnya.

Katib Syuriyah MWCNU Majenang, KH Hizbullah Huda, memimpin jalannya Istighotsah yang dihadiri ribuan jamaah warga nahdliyyin Majenang. Pembacaan syahadatain mengawali Istighotsah Hadratusyaikh KH M Hasyim Asy’ari.

“Syahadatain (dua kalimat syahadat) adalah pintu gerbang, dasar utama untuk mencapai Mardhotillah, maka syahadatain ini merupakan ikrar ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,

“Adapun puncak tujuan seorang Muslim adalah Mardhotillah, yakni hidup dalam keberkahan,” ucap kiai yang akrab disapa Gus Huda, Pengasuh Pesantren Al Mahdi Sindangsari Majenang.

Doa bersama, bermunajat, memohon pertolongan kepada Allah SWT berlangsung khidmat. Acara tasyakuran Harlah NU ke 103 MWCNU Majenang diakhiri dengan potong tumpeng, lalu makan bersama.

Turut hadir dalam kesempatan itu Forkompincam Majenang, Camat Majenang, TNI, Polri dan Kepala Desa Se-Majenang. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button