Mahasiswa Unugha Kuliah Lapangan di Pura Mandara Giri Adipala

NU CILACAP ONLINE – Menjelang akhir semester sekaligus menutup tahun 2025, mahasiswa semester I kelas Pendidikan Multikulturalisme dan Moderasi Beragama Program Studi PAI A (Pendidikan Agama Islam) Fakultas Keagamaan Islam Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (Unugha) Cilacap melaksanakan kuliah lapangan di Pura Mandara Giri, Gunung Selok Srandil, Kecamatan Adipala, Rabu (31/12/2025).
Sekitar 40 mahasiswa hadir dalam kegiatan tersebut dan disambut hangat oleh tokoh Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Cilacap, Djoko Warsito, rohaniwan Hindu Pemangku Verry, serta penyuluh agama Hindu Putu Santi A.
Penyambutan berlangsung di pendapa Pura Mandara Giri yang tampak bersih, sejuk, dan asri.
Kegiatan utama berupa diskusi lintas agama yang dipandu oleh pengampu mata kuliah Pendidikan Multikulturalisme dan Moderasi Beragama, Fahrur Rozi.
Adapun narasumber utama dalam diskusi ini adalah Djoko Warsito dan Putu Santi A.
Dalam paparannya, Djoko Warsito menjelaskan secara komprehensif ajaran dasar agama Hindu, khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai moderasi beragama.
Dia memaparkan prinsip pokok ajaran Hindu yang meliputi Panca Sradha, yaitu lima keyakinan dasar: Brahman, Atman, Karma, Punarbhawa, dan Moksha.
Selain Djoko Warsito a inijuga menjelaskan Tri Kerangka Agama (Tattwa/filosofi, Sila/etika, dan Upacara/ritual) serta tujuan hidup melalui Panca Purushartha (Dharma, Artha, Kama, dan Moksha) yang berlandaskan kitab suci Weda.
“Moderasi beragama dalam Hindu sejatinya sudah mengakar sejak awal ajaran, yaitu dengan kewajiban berbuat baik kepada sesama manusia dan menjaga keharmonisan dengan alam,” jelas Djoko Warsito.
Sementara itu, Putu Santi A lebih menekankan aspek-aspek praktis dalam kehidupan umat Hindu, termasuk praktik toleransi dan harmoni sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif ketika sesi tanya jawab dibuka. Beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan kritis dan mendalam, yang dijawab dengan lugas dan santai oleh para narasumber, diselingi humor khas Djoko Warsito yang mencairkan suasana.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Ketua MUI Kecamatan Adipala, penyuluh agama Islam, serta pegawai KUA Kecamatan Adipala.
Tepat pukul 11.45 WIB, diskusi ditutup oleh moderator dengan harapan, silaturahmi lintas agama yang telah terjalin dapat terus terjaga demi memperkuat persatuan dan kejayaan NKRI yang kaya akan keragaman agama dan budaya. Harmoni, menurutnya, merupakan inti dari kerukunan dan toleransi. Baca juga Dampak Kebaikan Sosial Berawal dari Agama ?
Usai diskusi, peserta melanjutkan kegiatan dengan foto bersama serta berkeliling melihat bagian dalam pura. Mahasiswa juga mendapatkan penjelasan mengenai tata tertib kesucian pura. Di antaranya larangan masuk bagi perempuan yang sedang menstruasi serta anjuran membersihkan diri sebelum memasuki area suci, yang disediakan melalui kran air menyerupai padasan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan ke Pantai Sodong, setelah sebelumnya mahasiswa menunaikan ibadah salat Zuhur di masjid sekitar lokasi menuju pantai.
Rozi





