Konflik Petinggi PBNU, Islah atau MLB?

NU Cilacap Online — Hingga hari ini, Kamis (25/12) lebih dari tiga hari setelah ultimatum yang diberikan oleh para kiai sepuh NU dari forum Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, pada Ahad, (21/12), belum ada perkembangan signifikan atau hasil konkret terkait konflik petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mau Islah atau Muktamar Luar Biasa (MLB).

Berikut catatan redaksi mengenai beberapa poin-poin penting mengenai situasi tersebut:

Ultimatum Islah

Musyawarah Kubro para sesepuh alim ulama NU di Lirboyo pada Minggu (21/12/2025) memberikan ultimatum 3×24 jam kepada Rais Aam dan Ketua Umum PBNU agar melakukan islah (rekonsiliasi).

Batas Waktu Terlewati

Batas waktu 3X24 jam tersebut telah terlampaui (jatuh tempo pada hari Rabu, 24/12/2025) kemarin, namun belum ada laporan resmi mengenai tercapainya islah atau penyerahan mandat kepada Dewan Mustasyar PBNU sebagaimana tuntutan forum tersebut.

PBNU dalam Kondisi Tidak Baik-baik Saja

Forum Musyawarah Kubro menyimpulkan bahwa kepemimpinan PBNU Rais Amm Miftahul Akhyar dan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf, tidak dalam kondisi baik-baik saja dan tidak sehat, justru mewariskan konflik berjam’iyyah di daerah dan meluas,

Forum Musyawarah Kubro menilai kinerja PBNU berada di luar garis yang ditentukan, bahkan cenderung melenceng, mengkhawatirkan, menyebabkan NU kehilangan jiwa atau ruh dan jati diri serta kepribadiannya.

Model kepemimpinan PBNU saat ini bisa membunuh akar-akar keluhuran nilai, budaya, dan kearifan berbasis Islam Ahlussunnah wal Jam’ah dan berbasis Pesantren serta merusak semua lini kesejarahan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia yang didirikan oleh Ulama-Auliya NUsantara.

Masyayikh Setujui MLB NU, dengan Syarat

Kesimpulan umum dari Forum Musyawarah Kubro Alim Ulama di Lirboyo menyatakan bahwa para Masyayikh merestui MLB NU dengan syarat niat yang tulus untuk menjaga persatuan, kekompakan, ukhuwwah nahdliyyah dalam rangka memperbaiki organisasi.

Adapun Masyayikh menyetujui MLB NU asal dilakukan secara konstitusional berlandaskan Qonun Asasi, AD/ART NU dan Khittah NU, serta berakhlakul karimah juga saling menghargai dan menghormati.

Berikutnya, diminta untuk mengajak warga NU untuk saling menasehati, dalam rangka perbaikan terhadap para pemimpin, mengembalikan nilai-nilai utama NU di dalam jiwa dan kepribadian pemimpin dan jajaran pengurus NU. Yakni cinta, kasih sayang, rukun, bersatu dan keunggulan pribadi.

Karena, nilai-nilai itu merupakan perintah, nasehat sekaligus wasiat dari Muassis jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Sementara untuk calon Ketua Umum nantinya, ada beberapa nama dari internal PBNU saat ini, serta beberapa Ketua PWNU dan Kader NU yang berkualitas secara keilmuan dan teruji dari pengalaman berorganisasinya, kecuali Ketua Umum saat ini.

Perpecahan Pandangan

Wacana MLB ini menimbulkan perpecahan di internal NU. Sebagian kiai sepuh menganggapnya sebagai upaya penyelamatan organisasi, sementara banyak tokoh NU menyarankan Islah dan menolak keras MLB, karena khawatir akan memecah belah solidaritas warga NU di tingkat bawah.

Kelanjutan Desakan MLB

Kelompok yang mengusulkan MLB, meminta jangan berlarut-larut konflik ini berkepanjangan, dan meminta segera MLB, kelompok yang tergabung dalam Presidium Penyelamat Organisasi NU (PO NU) misalnya, menyatakan akan terus menggalang dukungan dari PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia untuk mewujudkan MLB sebagai “upaya penyelamatan terakhir”.

Catatan Redaksi secara singkat menyimpulkan, terlepas dari konflik para petinggi PBNU, dan merekam situasi paska Musyawarah Kubro NU di Lirboyo, bahwa NU tetap kondusif terlihat dari semua program organisasi ini tetap berjalan dinamis, walau hingga kini belum ada langkah konkret dan resmi terkait Islah maupun MLB NU setelah batas waktu ultimatum terlewati. Semoga dinamika ini jadi pembelajaran luar biasa bagi semua pengurus di semua tingkatan, untuk makin dewasa dalam berorganisasi. Dan semoga NU tetap solid. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button