Khutbah Jumat, Menebar Salam dan Menyebarkan Kedamaian

NU Cilacap Online — Menebar salam dengan mengucapkan Assalamu’alaikum adalah amalan sunah yang diperintahkan dalam Islam untuk menyebarkan kedamaian, keselamatan, dan kasih sayang antar sesama, baik yang dikenal maupun tidak. Berikut Khutbah Jumat, Menebar Salam dan Menyebarkan Kedamaian.
Salam bukan sekadar sapaan, melainkan doa yang mempererat hubungan, menghilangkan sekat sosial, dan menjadi tanda kecintaan yang membawa pada keimanan.
Baca juga : Khutbah Jumat bahasa Sunda, Kasaéan Dunia Akherat
Menebar Salam, Menyebar Kedamaian
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكٰفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Marilah kita tingkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Ketakwaan adalah fondasi bagi persatuan dan kedamaian hati. Allah SWT mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang menghendaki ketenangan, keselamatan, dan keharmonisan. Nama agama kita sendiri, Islam, berakar dari kata as-salamu, yang berarti damai.
Hadirin sidang Jumat yang mulia, Dalam kehidupan sehari-hari, kita memiliki kunci sederhana yang dapat membuka pintu hati, meredakan ketegangan, dan menyebarkan kasih sayang. Kunci itu adalah ucapan salam —Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sayangnya, amalan seringan ini kini mulai dianggap remeh, hanya sekadar formalitas tanpa penghayatan maknanya yang mendalam.
Mari kita renungkan betapa agungnya ajaran Rasulullah saw tentang ucapan salam, yang beliau jadikan sebagai salah satu pilar utama untuk membangun masyarakat yang harmonis.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah, Menebar salam memiliki tiga dimensi penting yang menjadikannya lebih dari sekadar sapaan biasa.
Pelajaran pertama adalah Salam sebagai kunci masuk surga.
Ucapan salam adalah amalan sosial yang paling utama, karena ia adalah pemantik kecintaan dan persaudaraan. Rasulullah saw pernah bersabda bahwa amal ini adalah salah satu syarat mutlak menuju surga.
Rasulullah saw bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُونَ حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Artinya: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan sebuah rantai logis yang sangat indah. Iman mengarahkan pada cinta, dan cinta diwujudkan dengan menebar salam. Salam adalah perwujudan cinta, dan cinta adalah perwujudan iman.
Pelajaran kedua adalah salam adalah doa keselamatan yang Universal.
Ketika kita mengucapkan Assalamu’alaikum, kita sedang mendoakan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi orang lain. Doa ini bersifat universal dan murni, tanpa memandang suku, jabatan, atau status sosial. Ini adalah pengakuan bahwa keselamatan orang lain adalah juga harapan kita.
Allah SWT berfirman:
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
Artinya: “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)
Ayat ini memerintahkan kita untuk membalas salam dengan balasan yang setara, bahkan dianjurkan membalas dengan yang lebih baik. Ini menunjukkan bahwa menyambut dan membalas salam adalah hak saudara kita yang wajib kita penuhi.
Pelajaran ketiga adalah menyebarkan salam adalah tanda ketaatan dan akhlak mulia.
Menyebarkan salam, terutama kepada yang belum kita kenal, adalah bukti ketaatan kita kepada sunnah Nabi saw. Kita tidak akan pernah tahu, bisa jadi ucapan salam kita yang tulus kepada orang asing adalah awal dari persaudaraan yang membawa berkah.
Dikisahkan bahwa Rasulullah saw menjadikan amalan salam sebagai salah satu pesan pertama yang beliau sampaikan saat tiba di Madinah: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam…” Amalan ini diletakkan bersama perintah memberi makan dan shalat malam, menunjukkan kedudukannya yang sangat tinggi.
Hadirin yang aidang jumat yang mulia, Mari kita hidupkan kembali budaya salam ini dalam kehidupan kita. Mulailah dari rumah kita, ucapkan salam dengan penuh ketulusan saat masuk dan keluar. Ucapkan salam kepada tetangga, rekan kerja, dan semua orang yang kita jumpai di jalan.
Menyebar salam bukan hanya menyebar kata-kata, tetapi menyebar energi positif, menyebar harapan akan keselamatan, dan yang terpenting, menyebar cinta yang menjadi fondasi keimanan.
Semoga Allah SWT menjadikan lisan kita senantiasa basah dengan dzikir dan ucapan salam, sehingga kita termasuk orang-orang yang meraih surga dengan penuh kedamaian. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Sunda, Kualitas Iman Islam: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh
Khutbah Kedua
لْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّdِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّdِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّdٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّdِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّdِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، سَادَاتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَاقِي الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِcِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُsْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْशَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.
Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Sunda, Tilu Paristiwa Penting Sasih Syakban





