Ketika Bidadari Panggung Jadi Duta Literasi Keuangan

NU CILACAP ONLINE – Bagaimana jadinya bila sosok “bidadari panggung” yang biasa lantang menyuarakan dakwah, tiba-tiba dituntut untuk menjadi garda terdepan literasi keuangan? Inilah tantangan sekaligus peran baru yang kini disematkan kepada puluhan daiyah utusan Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU se-Jawa Tengah.

Dinginnya pendingin ruangan sama sekali tak mengurangi kehangatan senyum puluhan kader Fatayat NU yang berkumpul di Hall Room Hotel Incs, Semarang. Selama dua hari penuh, para daiyah ini dipertemukan dalam kegiatan Training of Trainer (TOT) Duta Literasi Inklusi Keuangan Jawa Tengah (DILAN JATENG) yang diinisiasi oleh Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Tengah bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Acara yang dimulai sejak Sabtu pagi hingga Ahad (11-12/06/2026) itu dilandasi alasan strategis mengapa Fatayat NU Jawa Tengah menyambut baik kolaborasi bersama OJK ini. “Pertama, Fatayat merupakan Badan Otonom (Banom) NU yang berada di usia produktif,” ujar Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah Hj Tazkiyatun Mutmainnah saat membuka acara (11/6/2026) di Room Inc Semarang.

Di hadapan puluhan calon Duta Literasi Keuangan itu, Wakil Wali Kota Tegal ini mengungkap bahwa memberdayakan mereka berarti membuka jalan untuk mencetak perempuan-perempuan yang cerdas secara finansial.

“Kedua, Fatayat NU ingin mengambil peran nyata dalam pembangunan masyarakat, khususnya dalam merespons angka kemiskinan di Jawa Tengah yang masih tinggi serta laju inflasi yang fluktuatif,” sambung mba Iin sapaan akrabnya. Baca juga PW Fatayat NU Jawa Tengah Luncurkan Senam Fatayat Gesit

Sentuh Kemandirian Ekonomi Melalui Dakwah

Melalui momentum ini, para daiyah diajak untuk memperluas corong dakwah mereka. Konten-konten dakwah di panggung maupun media sosial kini diharapkan tidak hanya berisi tentang ibadah ritual semata, melainkan juga menyentuh aspek kemandirian ekonomi umat. Baca juga Pelatihan Daiyah PW Fatayat NU Jawa Tengah Tekankan Perspektif Kesetaraan

Upaya kecil bisa dimulai dari lingkungan rumah tangga, seperti memanfaatkan pekarangan untuk menanam bahan pangan sendiri (tabulampot), membiasakan efisiensi dengan mematikan kompor jika tidak digunakan, hingga memantau pergerakan ekonomi keluarga agar tidak mudah tergiur iming-iming investasi bodong yang menjanjikan modal kecil dengan keuntungan instan.

Kepala OJK Jawa Tengah, Hidayat, dalam sambutannya menegaskan bahwa literasi keuangan adalah fondasi yang sangat krusial bagi masyarakat.

“Masyarakat dengan literasi keuangan yang baik akan mendapatkan akses keuangan yang baik pula. Hal ini akan menjadikan ketahanan ekonomi keluarga semakin kokoh,” ujar Hidayat.

Lebih lanjut, Hidayat mengingatkan bahwa pemahaman finansial yang matang dapat melindungi masyarakat dari aktivitas keuangan ilegal yang marak terjadi, seperti pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online. Penipuan online bisa mengintai siapa saja dan kapan saja. Bahkan, orang yang sudah paham pun bisa menjadi korban saat kondisi panik atau terburu-buru.

OJK juga membagikan tips mudah untuk membedakan antara Pinjol (pinjaman online ilegal) dan Pindar (pinjaman daring legal). Salah satu ciri paling kentara dari pinjol ilegal adalah mereka kerap meminta akses CAMILAN (Camera, Location, dan Microphone) pada ponsel pintar pengguna untuk mengintimidasi.

Tiga Fokus Utama dan RTL

Dalam kesempatan ini, PW Fatayat NU Jawa Tengah dan OJK menyepakati tiga fokus utama paska-pelatihan, yaitu:

Penguatan kapasitas kader sebagai agen literasi keuangan untuk pemahaman internal.

Perluasan edukasi keuangan yang menyasar keluarga dan komunitas sekitar.

Penguatan tindak lanjut paska-TOT melalui komunikasi yang berkelanjutan dan pembaruan (upgrade) informasi secara berkala.

Sebagai “Duta Literasi”, para daiyah ini mengemban tiga tugas utama di masyarakat, yaitu menjadi narasumber, menjadi role model (suri tauladan), serta menjadi penggerak perubahan di lingkungan mereka agar masyarakat terhindar dari risiko pengelolaan keuangan yang buruk, sindrom FOMO (Fear of Missing Out), maupun jeratan pinjol dan judi online.

Agar gerakan ini tidak berhenti di ruang seminar, setiap peserta diwajibkan melakukan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang nyata. Setiap peserta wajib membuat minimal satu konten edukasi keuangan yang dikolaborasikan dengan akun PW Fatayat Jateng. Selain itu, masing-masing PC Fatayat NU juga diwajibkan melakukan siaran langsung (live) di media sosial minimal satu kali.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan bidadari panggung Fatayat NU mampu menjadi penghubung yang aktif, komunikatif, dan membawa kebahagiaan serta kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat Jawa Tengah. (Naeli Rokhmah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button