Feature & Figur

Harlah IPPNU Ke-66: Antara Pelajar, Persatuan dan Peradaban

Harlah IPPNU Ke-66 (2 Maret 1955-2 Maret 2021) mengambil tema Kolaborasi Pelajar Merajut Persatuan Membangun Peradaban. Berbicara tentang peradaban banyak yang tidak bisa terlepas dari kata kebudayaan. Meski  keduanya memiliki perbedaan akan tetapi saling berkaitan.

Peradaban (Civilization) diambil dari kata civies (Latin) atau civil (inggris) yang berarti seorang warga negara yang berkemajuan. M. Abdul Karim (2009) menyatakan bahwa peradaban berasal dari bahasa sansekerta, adab yang berarti kesopanan. Kata peradaban berarti kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin.

Edward Tylor mendefinisikan tentang peradaban adalah keseluruhan yang terdiri dari pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat kebiasaan dan berbagai kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai bagian dari sebuah masyakarat (Fuhrer, 1998).

M.Abdul Karim mengatakan bahwa peradaban adalah bagian dari kebudayaan yang memiliki sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang luas. Lebih dalam, bahwa peradaban merupakan bagian dari kebudayaan yang bertujuan untuk memudahkan dan mensejahterakan hidup (Inrevolzon, 2013).

Dengan demikian, peradaban dapat diartikan sebagai aktivitas yang digunakan untuk menyebut bagian dari unsur-unsur dari kebudayaan yang baru, indah dan maju. Seperti halnya ilmu pengetahuan, teknologi, etika, dan organisasi.

Nahdlatul Ulama (NU) termasuk organisasi sosial keagamaan yang turut serta mengedepankan gerakan kesetaraan dan keadilan gender. Artinya, partisipasi perempuan dalam memprakarasai transformasi budaya serta kemampuan perempuan yang menjadi dinamisator pembangunan nasional dalam era globalisasi saat ini dengan memberdayakan sesama perempuan turut serta menjadi tanggung jawab NU.

Sesuai dengan keputusan munas NU di NTB 1997 tentang kedudukan perempuan. Tak hanya mengafirmasi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, musyawirin bahkan mengakui adanya kelebihan-kelebihan tertentu pada diri perempuan.

Baca Juga: Harlah Ke-67 IPNU, Transformasi Pelajar untuk Peradaban Bangsa

IPPNU adalah badan otonom yang menghimpun pelajar putri yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah untuk turut serta meciptakan generasi kader yang militan, berprestasi dan berpendidikan dalam tatanan kehidupan di masa mendatang.

Memasuki usia yang ke -66, IPPNU bukanlah usia yang muda lagi, semangat membara para tokoh patut kita kumpulkan kembali. Selaras dengan tema harlah tahun ini (Pelajar Persatuan Peradaban) untuk membangun peradaban membutuhkan kesiapan paradigma dan ketrampilan yang harus dimiliki  pelajar putri agar mampu bersatu melakukan kolaborasi baik  internal maupun eksternal dengan segenap elemen yang berkesinambungan dalam hal ilmu pengetahuan, teknologi, keislaman, kesetaraan gender dan lain sebagainya.

Di sisi yang sama IPPNU sebaiknya melakukan effort yang lebih besar untuk menciptakan kader pelajar yang lebih tangguh, terampil tanpa bersikap pragmatis. Manfaat dalam ber-IPPNU mungkin tidak langsung dirasakan saat itu juga, hal ini perlu diketahui oleh generasi zaman now.

Ber-IPPNU itu ber-Proses. Berkhidmah dengan segala kerendahan hati untuk mendapatkan manfaat dan barokah para alim ulama, berjejaring dengan orang banyak, mengaktualisasikan diri dan mengaplikasikan hal baru yang tidak didapatkan pada pendidikan formal.

Inarotul Umiyah, S.Pd.I, mantan ketua PC IPPNU Cilacap tahun 2007-2009 merasakan betapa pentingnya para pelajar putri untuk ber-IPPNU karena dapat menambah wawasan dan menyalurkan aspirasi perempuan. Hingga saat ini, Ia merasakan banyaknya saudara seperjuangan karena telah melalui jenjang organisasi perempuan yang sistematis dan terstruktur.

Berjuang dalam berorganisasi pelajar putri memang tidak mudah, pengalaman rekanita Miftakhul Khoerot, A.Md.Keb sebagai ketua IPPNU tahun 2015-2017 bahwa menjadi pemimpin itu butuh proses, butuh waktu yang tidak singkat. Sehinga ia terus belajar menghadapi dinamika organisasi dan tantangan perkembangan zaman serta kebutuhan kaderisasi.

Pengalaman-pengalaman ini kemudian dikemas oleh pelajar putri di Indonesia sebagai manifestasi ilmu dan amal sebagai simbol persatuan dalam menghadapi kemajuan era globalisasi. Organisasi dapat dikatakan sebagai miniatur kehidupan bermasyarakat, di dalamnya terdapat arti sebuah tanggungjawab, pengabdian dan kedewasaan berpikir. Saat matang di organisasi insyaallah akan matang saat menghadapi kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Baca Juga: Atiq Ketua PC IPPNU, Fauzi Ketua PC IPNU Cilacap

Oleh sebab itu, sebagai kader IPPNU mari me-recharge semangat dalam berorganisasi, saling berkolaborasi serta mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk peradaban yang berkemajuan dan kemaslahatan pelajar putri sebagai bekal menjadi manusia seutuhnya (tanpa dirundung sterotype) dan memberikan manfaat untuk agama, bangsa dan negara. Karena sejatinya dalam perjuangan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Semua memiliki kesempatan yang sama.

Sekali lagi, selamat ber Harlah ke-66 IPPNU, semoga rekanita di seluruh nusantara mampu menciptakan persatuan demi membangun peradaban yang diidamkan. Yang demikian insyaallah menjadi harakah yang barakah.

Ilmu ku cari, amal ku beri
Untuk agama, bangsa, negeri.

Salam belajar, berjuang, bertakwa.

~Artikel Harlah IPPNU Ke-66, Kolaborasi Pelajar Merajut Persatuan Membangun Peradaban ditulis oleh Pembelajar Abadi; @laelyna_ch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

twenty + sixteen =

Back to top button