Di Tengah Arena Muktamar Politik NU Ada Arena Pencerahan: Lesbumi PBNU Wadahi Kreativitas Seniman Sejagat

“Seni Budaya Adalah Imunitas Kultural dan Sarana Dakwah Para Ulama Nusantara”
— Budayawan Dr. Ngatawi Al-Zastrow
JOMBANG, NUCOM — Di tengah sengitnya dinamika politik Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, ada ruang lain yang menenangka yakni panggung seni. Di Arena Muktamar Politik NU Ada Arena Pencerahan: Lesbumi PBNU Wadahi Kreativitas Seniman Sejagat
Gagasan Kebudayaan Lesbumi PBNU
Arena pagelaran Seni Budaya itu inisiatif gagasan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lesbumi PBNU). Bukan untuk berpolitik praktis, tapi untuk menyajikan pencerahan lewat kreativitas.
“Ini merupakan inisiatif dari teman-teman Lesbumi PBNU, Lesbumi Sejagat sebagai wujud persembahan Lesbumi untuk masyarakat, untuk seluruh warga Nahdliyin,” terangnya
“Karena teman-teman Lesbumi banyak yang berkreasi, banyak yang menunjukkan kreativitasnya, maka Lesbumi memberikan tempat dan ruang di panggung Tawa Show ini,”_ lanjut Koordinator Pagelaran, Dr. Zastrow Al Ngatawi usai pertunjukan Ki Ageng Ciganjur. Jumat (28/8/2026) malam.
Panggung untuk Semua dari Dalam dan Luar Negeri
Keterlibatan Lesbumi tidak hanya dari pusat. Seniman dari daerah ikut turun bahkan dari luar negeri. Ada perwakilan dari Sejiman Tegal, Magelang, Kalimantan, Sulawesi bahkan India.
Mereka menampilkan beragam ekspresi, ada sholawat, tari, puisi, musik, hingga campursari. Tujuannya satu yakni memberi ruang agar seniman NU bisa berkumpul dan mencurahkan gagasan dengan cara yang fresh, segar, dan membumi.
“Semua bisa berkumpul bersama dengan mencurahkan apapun kreativitasnya, dengan cara-cara yang segar, fresh, dan lucu,” lanjutnya.
Kegiatan ini telah berlangsung sejak Rabu malam, (26/8). Bertempat di arena parkir Timur Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Wayang “Pandawa Kumpul” Jadi Pembuka
Hari pertama dibuka dengan wayangan reflektif bertajuk “Pandawa Kumpul” disajikan oleh Dalang terkemuka yakni Ki Ardhi Purboantono. Wayang dipilih sebagai pembuka mendahului pembukaan Muktamar NU ke 35 pada Kamis, (27/8).
Mengapa? Karena pagelaran wayang sekaligus ruwatan, doa bersama agar Muktamar berjalan bersih dan lancar. Bersih dari hawa nafsu kekuasaan. Mengapa?
Lakon “Pandawa Kumpul” itu berkisah tentang para Pandawa yang dihukum di hutan (12 Tahun). Selama itu mereka diasingkan, dan pungkasnya adalah waktu keharusan dimana “wajib kumpul”.
Mengumpulkan energi bersama guna titah khidmah yang menjadi lakulampahnya yakni amar makruf nahi munkar, perangi hawa nafsu, dan angkara murka agar pantas, layak menjadi pemimpin. Maka demikian menjadi refleksi untuk para muktamirin.
Hari kedua diisi tari-tarian dari luar dan dalam negeri. Malam ini tampil Ki Ageng Ganjur dengan Budhi Cilok. Besok giliran Mas Sastro Adi Wiyono beserta grup kasidah, dan campursari.
Apa Maksud Gelar Seni Budaya di Tengah Muktamar NU?
Bagi Lesbumi, panggung ini bukan sekadar hiburan selingan Muktamar. Ada pesan besar di baliknya.
Pertama, seni budaya adalah sarana dakwah dan pendidikan. Ini meneladani para ulama dan kiai Nusantara dulu yang berdakwah lewat tembang, wayang, dan seni.
“Karena seni budaya itu adalah sarana untuk dakwah, sarana pendidikan bagi para ulama-ulama, kiai-kiai nusantara,” tegasnya.
Kedua, membangun imunitas kultural. Di tengah derasnya arus global, NU diminta kembali ke akar tradisi.
“Salah satu strategi untuk meningkatkan imunitas kultural itu adalah kembali ke akar, ke tradisi kebudayaan nusantara. Dan itu caranya bukan ngakepi, tapi juga mengeksplorasi, menggali dan mengembangkan agama yang humanis,” jelas Dr. Ngatawi Al-Zastrow yang pernah berkhidmah jadi asisten pribadi Gus Dur.
Suami ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi, lebih lanjut menegaskan bahwa syaratnya dua yakni kenal tradisi dan kenal sejarah.
“Kalau nggak kenal tradisi, nggak akan kenal sejarah, ya kita nggak mungkin akan menjadi pemenang, inilah inisiasi Lesbumi PBNU untuk Kembali Ke Akar lahirnya Maklumat Tambak Beras” katanya.
BACA JUGA: Maklumat Tambakberas 2026: Seruan NU “Kembali ke Akar”
Terkait keputusan politik Muktamar NU Ke 35 ini, Lesbumi mengambil posisi netral sebagai penyedia ruang refleksi.
“Kita nggak ada urusan. Itu urusannya para muktamirin, kita cuma menyediakan ruangan, ruang refleksi untuk kembali ke akar!,” Tegas Zastrow Al Ngatawi mantan Ketua Lesbumi PBNU era Gus Dur.
Namun sebagai warga NU, ia berharap keputusan Muktamar tetap memperhatikan aspek kebudayaan.
Pernyataan itu menegaskan pandangan khas budayawan NU: beragama dan berorganisasi harus berpijak pada budaya. Netral secara teknis, tapi punya aspirasi kultural yang kuat.
Dengan panggung ini, Muktamar ke-35 tak hanya melahirkan kebijakan. Ia juga melahirkan ruang napas, ruang rasa, dan ruang pencerahan bagi warga NU sejagat.***(IHA)
BACA JUGA: Bagi Lesbumi, Seni dan Agama Tidak Pisahan!





