Dari Dapur Masjid, Semangat Beragama Diasah di Negeri Ginseng

NU CILACAP ONLINE – Perubahan umat itu bukan berangkat dari mimbar, bukan pula pula dari ranah politik, melainkan dapur yang hangat. Inilah yang tergambar dari suasana dapur masjid Al Hikmah Non Gong, Korea Selatan. Di sana, ada ruang kebersamaan . Tempat di mana rindu kampung halaman terobati, dan semangat menghidupkan agama tetap menyala di Negeri Ginseng.
Sore hari menjelang waktu berbuka puasa, suasana hangat terasa di dapur sederhana di pojok Masjid Al-Hikmah Non Gong, Korea Selatan. Pada Jumat (20/2/2026), para jamaah asal Indonesia tampak berkumpul, melepas penat setelah seharian bekerja sekaligus menanti waktu berbuka.
Penulis berkesempatan berbincang bersama sejumlah jamaah, di antaranya Kang Wawan selaku Dewan Syuro masjid, Kang Hadir, serta Kang Abdul yang akrab disapa “Pak RT”. Kehangatan obrolan mereka mencerminkan eratnya ukhuwah di perantauan.
Di Korea Selatan, hampir setiap masjid memiliki dapur umum. Di tempat inilah para jamaah memasak dan makan bersama. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang bertukar pikiran, berbagi cerita, serta saling menguatkan dalam menghadapi tantangan hidup di negeri orang. Rasa kekeluargaan begitu terasa, meski berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.
Di sela perbincangan, Kang Wawan menceritakan sejarah berdirinya Masjid Al-Hikmah Non Gong. Ia menjelaskan bahwa komunitas Al-Hikmah telah ada sejak sebelum masjid berdiri, berupa kegiatan yasinan rutin mingguan yang diikuti para pekerja Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi sarana menjaga spiritualitas sekaligus melepas kepenatan. Baca juga Himbauan NU Cilacap; Jaga Kiai Jaga Negeri Fardu Kifayah
“Awalnya kami hanya berkumpul membaca Surah Yasin setiap pekan. Lama-kelamaan muncul keinginan untuk memiliki tempat shalat sendiri,” ungkapnya. Baca juga Banser Cilacap Apel Siaga; Siap Jaga Marwah NU dan Kiai
Upaya tersebut sempat menemui kendala. Jamaah pernah menyewa sebuah rumah untuk dijadikan tempat ibadah. Namun, sebagian bangunan rumah tersebut tidak memiliki izin resmi sehingga harus dibongkar oleh pemerintah setempat.
“Pemilik rumah sebenarnya masih menawarkan agar kami tetap menempati tempat itu meski lebih sempit. Tapi kami sepakat mencari tempat lain yang lebih layak,” lanjutnya.
Pencarian tersebut akhirnya membuahkan hasil. Jamaah menemukan sebuah bangunan bekas gereja yang tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Bangunan tiga lantai itu kemudian disewa dan difungsikan sebagai masjid.
Untuk membiayai operasional, para jamaah secara swadaya melakukan iuran bulanan sekitar 35 juta rupiah. Selain itu, masjid juga memiliki koperasi yang membantu menopang kebutuhan seperti listrik, air, dan kegiatan jamaah lainnya.
Kini, semangat mereka tidak berhenti pada tahap sewa. Jamaah bercita-cita untuk membeli bangunan tersebut secara penuh. Hingga saat ini, dana yang terkumpul telah mencapai sekitar 30 persen dari total harga yang ditargetkan.
Suasana dapur masjid menjadi saksi hidup semangat tersebut. Di tempat sederhana itu, para jamaah tidak hanya berbincang santai, tetapi juga berdiskusi tentang berbagai persoalan, mulai dari keluarga hingga hukum keagamaan.
Meski suhu udara di luar cukup dingin, kehangatan tetap terasa berkat pemanas ruangan yang tersedia. Sembari menikmati kolak dan kopi hangat untuk berbuka, para jamaah saling berbagi cerita dan menguatkan satu sama lain.
Dapur kecil itu pun menjadi ruang kebersamaan tempat di mana rindu kampung halaman terobati, dan semangat menghidupkan agama tetap menyala di Negeri Ginseng.
Penulis: Mahmud Salim (Peserta Da’I Go Global LD-PBNU yang bertugas di Korea Selatan)





