UGM-UNUGHA Gelar Lokakarya Penyusunan Modul Coaching

NU CILACAP ONLINE – Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) Cilacap menggelar lokakarya bertajuk “Penyiapan Modul Training dan Coaching dengan mengangkat tema Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf”, Rabu (11/6) di Kampus UNUGHA, Cilacap.
Acara yang berlangsung selama tiga jam ini menghadirkan jajaran akademisi dan praktisi dari kedua institusi. Tim dari Fakultas Filsafat UGM dipimpin oleh Drs. Imam Wahyudi, M.Hum., didampingi oleh Dr. Abdul Malik Usman dan Dr. Heri Santoso selaku narasumber utama. Sementara dari UNUGHA hadir KH. Lubbul Umam, ME., pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin Kesugihan sekaligus Ketua BPP UNUGHA, serta Kiai Sudirwan sebagai pemantik diskusi.
Dalam sambutannya, Kepala LP2M UNUGHA Fahrur Rozi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan buah dari kedekatan emosional dan kerja sama yang telah terjalin antara UGM dan UNUGHA.
“Lokakarya ini menjadi bagian penting dari pengabdian masyarakat Fakultas Filsafat UGM dalam memperluas nilai-nilai kebijaksanaan dan spiritualitas dalam dunia pendidikan,” tegasnya.
Coaching bukan mentoring
Dr. Heri Santoso dalam keynote speech-nya menyoroti krisis karakter yang terjadi pada pelajar dan mahasiswa pasca pandemi COVID-19. Ia menekankan pentingnya membangun jiwa merdeka melalui pendekatan filsafat dan tasawuf, terutama bagi kalangan pendidik seperti guru dan dosen. Baca juga LP2M Unugha Benchmarking ke Universitas Unggulan di Jatim
“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter. Untuk itu, kita perlu pendekatan baru, salah satunya dengan metode coaching,” ujar Heri Santoso. Baca juga UNUGHA Cilacap Siap Membuka Fakultas Kedokteran
Ia menjelaskan bahwa coaching berbeda dengan mentoring atau consulting. Coaching bertujuan menggali potensi dan permasalahan dari dalam diri coachee dan membantu mereka menemukan solusi secara mandiri, bukan dengan ceramah atau indoktrinasi.
“Seorang coach, tambahnya, harus mampu menjadi pendengar yang baik, sabar, dan empatik.” ujarnya.
Lokakarya ini diikuti oleh 14 peserta yang merupakan pakar di bidang masing-masing. Diskusi berlangsung intensif dengan fokus pada pemikiran dan warisan tasawuf Imam al-Ghazali, sebagai ikon spiritual dan intelektual UNUGHA.
Di akhir kegiatan, peserta merumuskan rancangan awal modul pelatihan dan coaching yang mengintegrasikan nilai-nilai filsafat dan tasawuf untuk membangun karakter merdeka dalam dunia pendidikan. Acara ditutup dengan pertukaran cinderamata antara kedua institusi serta sesi foto bersama. (Naeli R)





