Lestarikan Tradisi Islam Nusantara, Rakaian Acara Maulid Nabi SAW Gaya Bendakerep Cirebonan Berlangsung di Wanareja, Dayeuhluhur, Cilacap

NUCOM, Wanareja, Dayeuhluhur —- Tradisi Islam Nusantara yang kental dengan nilai budaya masyarakat Jawa maupun Sunda, kembali hadir di wilayah perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat. Kekhasan ini terangkum dalam acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Muludan Gaya Benda Kerep Cirebonan, digelar selama 4 hari di wilayah Wanareja dan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, mulai 17 hingga 20 Agustus 2026.
Acara ini dipimpin langsung oleh para dhuriyah Benda Kerep Cirebon, salah satunya Gus Ali bin KH Ismail, dan mengusung semangat pelestarian ajaran salafiyah dengan ciri khas tanpa penggunaan pengeras suara/toa.
Adapun seluruh rangkaian acara dimulai pukul 19.30 WIB setiap malamnya. Berikut Jadwal Lengkap Muludan Gaya Benda Kerep
- Senin Malam Selasa, 17 Agustus 2026 di Cikaroweng, Desa Malabar, Kec. Wanareja;-
- Selasa Malam Rabu, 18 Agustus 2026 di Dusun Singaraja, Desa Datar, Kecamatan Dayeuhluhur;
- Rabu Malam Kamis, 19 Agustus 2026 – Dusun Ketra, Desa Datar, Kecamatan Dayeuhluhur;
- Kamis Malam Jumat, 20 Agustus 2026 di Kampung Pangatus, Desa Hanum Kec. Dayeuhluhur.
Baca juga: Tradisi Nyuguh dan Nyalar di Sungai Cijolang Dayeuhluhur Rekatkan Warga Perbatasan Jabar-Jateng
Ciri Khas Muludan Benda Kerep Cirebonan
Berbeda dari peringatan Maulid Nabi SAW pada umumnya, Muludan gaya Benda Kerep memiliki kekhasan:
- Dipimpin langsung oleh dhuriyah dari Benda Kerep Cirebon;
- Hanya menyajikan marhabanan dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW;
- Tidak ada pidato atau sambutan;
- Durasi acara inti sekitar 1,5 jam;
- Dilaksanakan secara tradisional dan tanpa menggunakan pengeras suara/toa;
- Peserta sangat dianjurkan berpakaian santri, terutama bersarung;
- Pelaksanaan tertib dan khidmat;
- Berekat sebagai tanda terima kasih dari penyelenggara kepada tamu yang hadir untuk ikut berdoa.
Salah satu cirinya yang paling menonjol adalah adanya “tumpeng buah” yang dihiasi lampu warna-warni dan deretan ember berisi hidangan sebagai bagian dari tradisi berekat.
Tradisi ini berasal dari Pondok Pesantren Benda Kerep, salah satu pesantren tertua dan keramat di Kota Cirebon. Pesantren ini didirikan pada tahun 1826 M oleh KH Sholeh Zamzami atau Mbah Sholeh, yang merupakan keturunan ke-18 Sunan Gunung Jati.
Silsilah KH Sholeh Zamzami
Sebagaimana tedapat dalam buku Sekilas Lintas Buntet Pesantren Mertapada Kulon Cirebon hal 38-34, sebagai berikut:
KH. Sholeh Zamzami bin KH. Muta’ad bin Raden Muridin bin Raden Muhammad Nuruddin bin Raden Ali bin Raden Punjul bin Raden Bagus bin Sultan Matangaji bin Dalem Anom/ Sultan Senopati bin Dalem Kebon Ing Gebang bin Pangeran Sutajaya Grogol bin Pangeran Sutajaya Tambak bin Panembahan Girilaya bin Pangeran Dipati bin Panembahan Ratu bin Pangeran Dipati bin Pangeran Pasarean bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Mengenal Pondok Pesantren Benda Kerep; Paku Bumi Islam Nusantara
Pesantren Benda Kerep berlokasi di Kelurahan Argasunya, Harjamukti, Kota Cirebon ini dikenal sebagai ‘Paku Bumi Islam Nusantara’.
Berada di kawasan hutan Cimeweuh yang terisolasi dan dikelilingi sungai, hingga kini akses ke pesantren masih harus melewati sungai karena tidak ada jembatan.
Benda Kerep sangat kuat menjaga tradisi salaf. Bangunan tuanya masih kokoh berdiri. Radio, televisi dilarang. Listrik baru diperbolehkan masuk pada tahun 1990-an.
Karakteristik pesantren ini adalah mempertahankan keaslian metode pengajaran salaf, kuat dalam ikatan kekeluargaan, serta budaya kesederhanaan dan tawadhu.
Secara sejarah, Pesantren Benda Kerep juga merupakan benteng dan sentral perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Jepang.
Baca juga: Keraton Kasepuhan Cirebon: Benteng Budaya Islam Nusantara Sejak Abad 14
Meneladani Akhlak Nabi SAW
Dengan digelarnya rangkaian muludan ini, panitia shohibul hajat berharap kegiatan dapat menjadi sarana untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, mewujudkan generasi yang Islami, sekaligus mempererat silaturahmi antar keluarga, antar suku Jawa-Sunda, bahkan antar umat Islam di wilayah Cilacap bagian Barat, terutama Dawamancung yakni Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, dan Karangpucung. (IHA)
Baca juga: Pentingnya Ilmu Bersanad Menurut KH Said Aqil Siroj





