Lamaran Agung Tegalrejo: 23 PCNU Jateng Pinang Gus Yusuf Jadi Ketum PBNU

NUCOM. MagelangLereng Merapi malam itu tidak dingin seperti biasanya. Pada Sabtu, 18 Juli 2026, Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, justru menghangat oleh bara semangat ratusan kiai, pengurus NU, Aktivis NU, dan alumni Pesantren.

Mereka berkumpul bukan untuk hajatan biasa. Ini adalah “Lamaran Agung Maklumat Dukungan PCNU Jawa Tengah kepada KH. M. Yusuf Chudlori sebagai Calon Ketua Umum PBNU”.

Panggung Sakral, Pesan Tegas

Acara digelar di aula Ponpes API Tegalrejo dengan balutan nuansa hijau. Para peserta berbaju koko putih dan peci hitam berdiri khidmat mengucapkan ikrar.

Di atas panggung, naskah “lamaran” dibacakan lalu diserahkan ssecara langsung kepada Gus Yusuf. Isinya jelas dan lugas:

“Lamaran agung dan maklumat dukungan kepada Kiai Haji Muhammad Yusuf Chudlori sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Dan kami siap untuk sepenuhnya memberikan dukungan… Besar harapan kami keluarga besar Pondok Pesantren API Tegalrejo mengabulkan permintaan kami dan Kiai Haji Muhammad Yusuf Chudlori bersedia menerima pinangan kami.”

Bukan Sekadar Deklarasi, Ini Gelombang Akar Rumput

Yang membuat “Lamaran Agung” ini berbeda adalah siapa yang datang. Bukan hanya 23 PCNU se-Jawa Tengah. Tampak 3 jaringan alumni pesantren raksasa duduk berdampingan: Alumni Lirboyo, Alumni Tegalrejo, dan Alumni Ploso. Mereka bahkan berfoto bersama di depan panggung, bukti soliditas pesantren di balik dukungan ini.

Para kiai sepuh di kursi kehormatan mengikuti dengan khusyuk. Ada yang berdoa, ada yang merekam. Suasana penuh adab, jauh dari kesan politik praktis.

Menanggapi “pinangan” itu, Gus Yusuf yang juga Pengasuh Ponpes API Tegalrejo menjawab dengan tenang:

“Bagi saya, ini bukan soal jabatan, tapi khidmah,”

Mengapa “Alarm” Ini Dibunyikan?

Bagi banyak warga NU, “Lamaran Agung” ini bukan sekadar mendukung kandidat. Ini adalah alarm, sinyal keras dari akar rumput.

Kiai Anis Maftukhin, pengasuh Ponpes Wali Tuntang mengutarakan Lamaran Agung Tegalrejo itu bukanlah sekadar deklarasi politik murahan.

“Itu adalah alarm yang dibunyikan agar kapal besar bernama Nahdlatul Ulama tidak melenceng menjadi sekadar PT pencari konsesi tambang atau EO makelar politik,” tulisnya.

Keresahan warga NU akar rumput itu muncul setelah drama panjang internal NU: mulai dari adu pemecatan antara Syuriyah dan Tanfidziyah akhir 2025, wacana perubahan sistem pemilihan di Munas Ploso, hingga isu rangkap jabatan dan konsesi.

Muncul pula slogan kocak tapi menohok dari kalangan santri: “La Miftaha wa Laa Yahya” pelesetan nahwu yang maknanya: “Sudahlah, minggir saja”.

Di tengah itu, nama Gus Yusuf muncul sebagai jawaban kaidah taqdim al-aslam ‘ala al-a’lam: mendahulukan yang menyelamatkan dibanding yang paling terkenal. Sosok kalem, netral, dan minim resistensi.

Jateng Bicara, Peta Muktamar Berubah

Dukungan dari PCNU Jawa Tengah ini punya bobot besar. Jateng adalah salah satu lumbung suara terbesar NU. Sementara menurut aturan Muktamar, seorang Caketum butuh minimal 99 suara pendudung dari PCNU/PWNU.

Dengan “pinangan” resmi ini, peta menuju Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, 27-31 Agustus 2026, dipastikan semakin dinamis.

Acara ditutup dengan doa bersama. Para hadirin memohon agar Muktamar berjalan berkah dan membawa kemaslahatan bagi NU dan bangsa.

Palu final memang ada di tangan muktamirin di Tambakberas nanti. Tapi satu hal pasti: dari Tegalrejo, warga akr rumputNahdliyin sudah bersuara. NU butuh nakhoda yang menenangkan ombak, bukan yang menambah badai (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button