Kirab Budaya Hari Jadi Salebu ke-419, Ribuan Warga Padati Jalan Desa, Napak Tilas Sejarah Sepanjang 419 Meter

MAJENANG, NUCOM – Desa Salebu punya cara istimewa merayakan usianya. Tepat di Hari Jadi Desa ke-419, Minggu, 11 Oktober 2026, ribuan peserta mengikuti Kirab Budaya. Start dari TK Pembina hingga Balai Desa Salebu, jarak simbolis 419 meter. Angka keramat yang mengingatkan bahwa Salebu bukan desa kemarin sore.
Kades Salebu Menyambut Haru
Siang itu di halaman Balai Desa, Kades Salebu Agus Fauzi menyambut haru.
“Mas Ceceng Rusmana, alhamdulillah yang menggali sehingga Desa Salebu bisa ketemu bahwa hari jadinya sekarang sudah 419 tahun. Mudah-mudahan acara ini bisa berlanjut, tidak cuma di masa saya, tapi masa-masa depan setelah saya purna,” terangnya dalam sambutan.
Kades Agus Fauzi menuturkan, nama Salebu sendiri punya makna historis mendalam, Sak-Lebu. Sak berarti satu, Lebu berarti abu. Konon, desa ini pernah dibakar sampai menjadi abu, digantung sejarahnya, sebelum Indonesia merdeka. Dari abu itu, Salebu bangkit dan bertahan ratusan tahun.
“Peringatan Hari Jadi Desa (HJD) Salebu ini sudah yang keempat kalinya kita rayakan. Namun ini kirab Budaya yang ke dua kalinya. Mudah-mudahan ke depan terus ada. Salebu punya ciri khas tersendiri yaitu ada hari jadi. Dan kita adakan seminar bersama, karena Salebu banyak sekali potensi usaha,” tambahnya.
Kirab tahun ini tampil lengkap. Sesuai susunan barisan, kirab diawali oleh 4 Pagar Ayu, barisan pembawa Bendera Merah Putih oleh 10 anggota Linmas, Kades, Sekdes beserta para tokoh masyarakat Desa, Kirab Pusaka berupa Pusaka Desa (Keris, Tombak dan Gamelan Batu), lalu gunungan (hasil bumi), dan tumpeng, barisan Perangkat Desa dan lembaga desa (BPD, Perangkat Desa, TP PKK, Kader Posyandu, LPMD, KDMP, Karang Taruna, Desa Wisata, Ketua RT/RW, Barisan Banser, dan Ormas, masyarakat umum, hingga barisan civitas sekolah SD-SMA. Dalam momen ini, jamasan pusaka dan gamelan batu menjadi magnet utama.
Pesan Camat: Salebu Desa Tangguh, Jangan Terpecah Isu
Camat Majenang Aji Pramono yang hadir langsung mengapresiasi.
“Selamat hari jadi ke-419 untuk Desa Salebu. Saya bangga melihat bagaimana Desa Salebu mampu bertahan dari generasi ke generasi, tangguh menghadapi perubahan zaman,” katanya.
Aji menegaskan, peringatan hari jadi jangan hanya seremonial.
“Jadikan momentum untuk refleksi diri, dampak positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Fondasi utama majunya desa bukan terletak pada megahnya gedung balai desa, melainkan pada eratnya persatuan warganya,” tegasnya.
Dan juga menitipkan dua pesan penting menjelang Pilkades serentak, bahwa Salebu masuk jadwal gelombang kedua. Masa jabatan Kades Salebu berakhir 30 April 2027, tahapan akan mulai akhir Oktober 2026 dengan pemberitahuan akhir masa jabatan oleh BPD.
“Tetap jaga kondusifitas. Jangan biarkan perbedaan pendapat memecah persaudaraan. Gotong royong harus tetap mengakar di generasi muda,” pesannya.
Untuk kemajuan ekonomi, Camat Aji menyoroti potensi luar biasa Salebu di pertanian dan UMKM. Dia bahkan memuji lukisan warga Salebu yang menggunakan banner bekas sebagai kanvas.
“Luar biasa, Mas Topik Hidayat. Di era media sosial ini, itu bisa diangkat. Saya minta pemerintah desa fasilitasi untuk tingkatkan potensi kreat8fitas warganya, termasuk juga petani dengan modernisasi teknologi, akses pupuk dan pasar,” ujarnya.
Kehadiran Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Budi Narimo, serta Kabid Kebudayaan Dinas PDK Kabupaten Cilacap, Fatoni, menjadi sinyal kuat. Salebu diproyeksikan sebagai desa wisata dan budaya.
“Desa Salebu salah satu desa wisata di Kabupaten Cilacap. Ada gamelan batu dan jamasan pusaka. Ini harus dilestarikan, seperti di Adipala, Kroya, penganut kepercayaan yang tetap jalan kaki membawa ubarampe menjelang Ramadan. Itu menjadi ikon budaya yang menarik peneliti asing,” ujar Budi Narimo.
Budi Narimo juga mengusulkan agar pusaka-pusaka warga yang tidak ada penerus yang merawat bisa ditampung di balai desa, maka Desa perlu ada museum, seperti Desa Pegadungan, Kecamatan Cipari, dan juga sebagaimana pusaka Cilacap yang dulu dibawa ke Keraton Solo kini dikembalikan.
“Saya ini orang Majenang asli. Saya tahu Salebu ini banyak melahirkan tokoh besar, orang-orangya Linuwih dan berpendidikan, berkeagamaannya juga kuat,,” tutupnya.
419 tahun, 419 meter kirab. Dari abu menjadi desa yang tangguh. Salebu membuktikan, desa yang ingat hari jadinya adalah desa yang tidak akan kehilangan jati dirinya.***(IHA)
Baca juga: Gamelan Batu Salebu, Visi Pemajuan Kebudayaan Desa Nusantara





