Seniman Jogja Gedor Nurani Ekologi Dari Titik Nol! Lahirkan Maklumat Merawat Nusantara

Jogja, NUCOM — Sebanyak 25 seniman Jogja yang tergabung dalam kelompok Aliansi Strategis untuk Tolak Eksploitasi Alam dan Pembakaran Hutan (Asutenan) membakar kemarahan di Jantung Kota Jogja. Di Titik Nol Kilometer itu mereka gedor nurani ekologi dan lahirkan Maklumat Merawat Nusantara. Pada Ahad, (25/10/2026).
Sumatra sesak asap. Kalimantan jadi abu. Wilayah lainnya pun menyusul. Sementara hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Yang membakar hutan bebas, yang mempertahankan hutan justru dikriminalisasi.
Dengan ini seniman Jogja tidak lagi orasi. Mereka merapal mantra lewat geguritan, membakar menyan, menabur bunga kematian untuk ekologi, menari di atas puing-puing keserakahan.
Pemerintah sibuk memadamkan api di permukaan, tapi tak pernah memadamkan api keserakahan di pusat kekuasaan.
“Bumi bukanlah ATM Pengusaha! Bukanlah sumber keuntungan. Hutan bukan semata-mata komoditas, dan kekuasaan bukan hak untuk mengabaikan kehidupan.” pekik Koordinator Asutenan, Widhisastra Wasana Putra.
Aksi Stop Eksploitasi, Pulihkan Ekologi ini tamparan keras. Apa gunanya pembangunan kalau rakyatnya menghirup asap? Apa gunanya investasi kalau warisannya cuma tanah kering dan gosong?
Dari mahasiswa, akademisi, seniman, hingga pakar hukum lingkungan Totok Dwi Diantoro bersatu pekikkan satu suara; Jangan Diam!
Maklumat Jogja Merawat Nusantara menegaskan, ini bukan bencana alam. Ini Kejahatan Ekologi.
“Kalau hari ini kita diam saat hutan dibakar, besok anak cucu kita yang akan menggugat kepada kita, kemana air bersihnya? Kemana udara segarnya?,” pekik Asutenan.
Berikut ini isi Maklumat Dari Jogja Merawat Nusantara
Kami, masyarakat Yogyakarta yang bersatu
dalam solidaritas kemanusiaan dan kepedulian
ekologis, menyatakan:
Pertama, menyampaikan solidaritas kepada
masyarakat Sumatera, Kalimantan, dan wilayah
lain yang terdampak kebakaran hutan dan lahan,
serta penghormatan kepada warga, relawan,
tenaga kesehatan, dan seluruh pihak yang
berjuang melindungi kehidupan.
Kedua, mendesak pemerintah bergerak lebih
cepat dalam penanganan kedaruratan,
pelayanan kesehatan, bantuan yang layak bagi
seluruh warga terdampak.
Ketiga, menuntut pengusutan yang transparan,
independen, dan berkeadilan atas penyebab
kebakaran, serta penegakan hukum tanpa
pandang bulu terhadap setiap pihak yang
terbukti bertanggung jawab, termasuk korporasi
Keempat, mendesak pembenahan tata kelola
hutan dan lahan, perlindungan ekosistem
gambut, pengawasan perizinan, serta pemulihan
lingkungan yang terukur untuk mencegah
bencana berulang.
Kelima, menuntut perlindungan hak masyarakat
adat dan lokal atas ruang hidupnya, serta
mengajak seluruh elemen bangsa membangun
gerakan perawatan lingkungan yang
berkelanjutan.
Kami menegaskan bahwa pembangunan harus
berpihak pada keselamatan rakyat, kelestarian
ekosistem, keadilan antargenerasi, dan
keberlanjutan kehidupan.
Bumi bukan sekadar sumber keuntungan, hutan
bukan semata komoditas, dan kekuasaan bukan
hak untuk mengabaikan kehidupan.
Berlandaskan semangat Hamemayu Hayuning
Bawono, kami menyerukan:
SELAMATKAN KEHIDUPAN. PULIHKAN
EKOSISTEM HUTAN. TEGAKKAN KEADILAN.
RAWAT NUSANTARA.
Dari Jogja, untuk Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Bali,
Jawa dan masa depan Indonesia.***(IHA)
Baca juga: Maklumat Tambakberas 2026: Seruan NU “Kembali ke Akar”





