Khutbah Jumat, Meremehkan Janji adalah Sikap Berbahaya

NU Cilacap Online — Interaksi antar manusia dibangun di atas dasar rasa saling percaya. Dan fondasi utama dari rasa saling percaya itu adalah janji. Maka Khutbah Jumat kali ini kami sajikan terkait sikap meremehkan janji adalah keliru dan berbahaya.

Sebuah janji adalah ikrar atau komitmen yang diucapkan oleh lisan seseorang. Janji yang Tidak Ditepati inilah Ciri Orang Munafik.

Ucapan “insya Allah” yang digunakan untuk tidak memberi kepastian, adalah contoh-contoh bagaimana urusan janji ini dianggap ringan.
Padahal, Islam memandang urusan janji ini sebagai sebuah perkara yang sangat serius. Ia bukanlah sekadar urusan etika sosial, melainkan urusan yang berkaitan langsung dengan kualitas iman dan karakter seorang muslim.

Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Sunda, Tilu Paristiwa Penting Sasih Syakban

Berikut Khutbah Jumat tentang meremehkan janji adalah sikap keliru dan berbahaya.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
أَمَّا بَعْدُ…
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ
..وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah,
Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang telah memerintahkan kita untuk menunaikan setiap janji dan perjanjian kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, manusia yang paling terpercaya dan paling menepati janjinya.

Selanjutnya, melalui mimbar ini, khatib mengajak diri pribadi dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Takwa yang salah satu wujudnya adalah dengan cara memegang teguh setiap janji yang telah kita ucapkan, karena sesungguhnya setiap janji akan dimintai pertanggungjawaban.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,
Interaksi antar manusia dibangun di atas dasar rasa saling percaya. Dan fondasi utama dari rasa saling percaya itu adalah janji. Sebuah janji adalah ikrar atau komitmen yang diucapkan oleh lisan seseorang kepada orang lain. Namun, kita hidup di sebuah zaman di mana perbuatan mengingkari janji seringkali dianggap sebagai hal yang biasa dan sepele.

Istilah “jam karet” untuk menormalisasi keterlambatan, atau ucapan “insya Allah” yang digunakan untuk tidak memberi kepastian, adalah contoh-contoh bagaimana urusan janji ini dianggap ringan.

Padahal, Islam memandang urusan janji ini sebagai sebuah perkara yang sangat serius. Ia bukanlah sekadar urusan etika sosial, melainkan urusan yang berkaitan langsung dengan kualitas iman dan karakter seorang muslim.

Pada kesempatan ini, mari kita pahami bersama kedudukan janji dalam ajaran Islam.
Pertama, memenuhi janji adalah perintah langsung dari Allah yang akan dipertanggungjawabkan.

Setiap komitmen, ikrar, atau janji yang keluar dari lisan kita adalah sebuah utang yang wajib ditunaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala secara tegas memerintahkan kita untuk memenuhi janji dan memberitahukan bahwa kelak di hari kiamat, setiap janji tersebut akan ditanyakan dan dipertanggungjawabkan. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Yang artinya, “…dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 34).

Kata mas-ula dalam ayat ini berarti setiap janji akan menjadi subjek pertanyaan dan hisab di hadapan Allah. Kesadaran ini seharusnya membuat kita tidak mudah mengucapkan janji.

Kedua, Maasyiral Muslimin, mengingkari janji adalah salah satu tanda kemunafikan.
Inilah bahaya terbesar dari perbuatan mengingkari janji.

Islam tidak menggolongkan perbuatan ini sebagai dosa kecil biasa. Sebaliknya, Rasulullah SAW menjadikannya sebagai salah satu dari tiga tanda utama seorang munafik.

Orang munafik adalah orang yang secara lahiriah tampak seperti muslim, namun hatinya mengingkari Islam. Mereka adalah musuh dalam selimut yang balasannya adalah kerak neraka.

Rasulullah saw bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Yang artinya, “Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu jika ia berbicara ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari, dan jika ia diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi peringatan keras bagi kita. Kebiasaan meremehkan janji dapat menyeret seseorang ke dalam sifat-sifat kemunafikan yang sangat dibenci oleh Allah.
Ketiga, menepati janji adalah sifat orang-orang yang bertakwa.

Sebaliknya, Al-Qur’an secara konsisten memuji orang-orang yang senantiasa menepati janji mereka. Perbuatan ini dijadikan sebagai salah satu ciri utama dari orang-orang yang benar-benar baik dan bertakwa. Dalam sebuah ayat yang panjang tentang definisi kebaikan yang hakiki, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan salah satu sifat penting orang baik. Allah berfirman:

…وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا…

Yang artinya, “…dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji…” (QS. Al-Baqarah: 177).

Dalam ayat lain, Allah juga menyebutkan bahwa menepati janji adalah salah satu sifat penghuni surga yang akan kekal di dalamnya. Ini menunjukkan bahwa sifat ini sangat mulia dan memiliki ganjaran yang besar di sisi Allah.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Dari penjelasan ini, sangatlah jelas bagi kita bahwa meremehkan janji adalah sebuah sikap yang keliru dan berbahaya. Menepati janji adalah perintah Allah, ciri orang bertakwa, dan syarat kesempurnaan iman. Sebaliknya, mengingkari janji adalah perbuatan terlarang, ciri orang munafik, dan akan dimintai pertanggungjawaban yang berat di akhirat.

Maka, marilah kita berhenti menganggap sepele urusan janji. Mari kita latih diri kita untuk tidak mudah berjanji. Namun, apabila sebuah janji telah terucap dari lisan kita, maka tunaikanlah ia sekuat tenaga.

Mulailah dari hal-hal kecil, seperti janji waktu, agar kita terbiasa menjadi orang yang dapat dipercaya, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Baca juga : Khutbah Jumat, Menebar Salam dan Menyebarkan Kedamaian

Khutbah Kadua

اَلْحَمْـدُ للهِ رَبِّ الْعَـالَمِيْـنَ، وَبِـهِ نَسْتَعِيْـنُ عَلَى اُمُـوْرِ الدُّنْـيَا وَالدِّيـنِ، وَالصَّـلاَةُ وَالسَّـلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْـبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْـنَ، وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْـبِهِ اَجْمَعِيْـنَ. اَشْهَـدُ اَنْ لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْـنُ، وَاَشْهَـدُ اَنَّ مُحَمَّـدًا عَبْـدُهُ وَرَسُـوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْـدِ اْلاَمِيْـنُ، اَللّـهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّـدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْـحَابِـهِ اَجْمَعِيْـنَ . اَمَّابَعْـدُ: فَـيَااَيُّـهَا النَّـاسُ اتَّقُـوْ اللهَ حَقَّ تُقَـاتِـه وَلاَتَمُـوْتُـنَّ اِلاَّ وَاَنْـتُمْ مُسْـلِمُـوْنَ. اَللّـهُمَّ اغْـفِرْ لِلْمُسْلِمِيْـنَ وَالْمُسْـلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْـنَ وَالْمُؤْمِنَـاتِ اَلْاَحْياءِ مِنْـهُمْ وَاْلاَمْـوَاتِ، رَبَّنَاأَنْزِلْنَا مُنْزَلاً مُبَارَكاً وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ. رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ، رَبَّـنَا اَتِـنَا فِى الدُّنْـيَا حَسَنَـةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَـةً وَقِنَاعَـذَابَ الـنَّارِ. وَالْحَمْـدُ للهِ رَبِّ الْعَـالَمِيْـنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشْاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Baca juga: Khutbah Jumat bahasa Sunda, Jalma Nu Panon Hatena Lolong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button