Khutbah Jumat

Khutbah Jumat Hari Santri: Menjaga Martabat Kemanusiaan

Khutbah Jumat Hari Santri: Menjaga Martabat Kemanusiaan sengaja diposting oleh NU Cilacap Online dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَّسُرُوْرًا

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبه أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri pribadi serta jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan perintah Allah menjauhi larangan Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Manusia dengan segala pemikiran dan perilakunya merupakan sebuah subjek sekaligus objek yang selalu menarik untuk dikaji. Begitu halnya dalam Al-Quran, selain lafadz insan, an-nas, ins juga basyar, manusia sering disebut dengan Bani Adam.

Manusia merupakan makhluk jasmani yang tersusun dari bahan material dan organik, kemudian manusia menunjukan eksistensinya dalam aktivitas di kehidupan jasmaniyah. Meskipun demikian, manusia juga memiliki kesamaan dengan binatang, yakni dalam ranah kesadaran indrawi dan nafsu. Akan tetapi adanya sisi kehidupan spiritual dan intelektual, menjadikan manusia berbeda dengan hewan. Oleh karenanya manusia dikatakan sebagai hayawan an-natiq (hewan yang berfikir).

Allah SWT menegaskan akan kemuliaan yang diberikan kepada bani Adam:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Qs. Al Isra: ayat 70)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Ayat ini mengandung beberapa keistimewaan yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia. untuk lebih mudahnya maka setidaknya kemuliaan itu bisa terbagi dalam empat hal:

Pertama, (sungguh Kami telah muliakan bani Adam). Ini menggambarkan makna yang cukup dalam tentang kemuliaan manusia karena diawali لَقَدْ yang berfungsi sebagai penguat keyakinan. Az-Zamakhsyari sendiri dalam Tafsir al-Kasyaf mengutip riwayat yang menyatakan bahwa Allah memuliakan manusia dengan kemampuan khusus. Kemampuan tersebut seperti bisa membedakan perkara yang baik dan buruk, memaksimalkan panca indera, hingga mampu mengatur segala urusan dunia.

Kedua, ( dan telah Kami bawa mereka di darat dan laut). Ini juga sebagai implementasi dari kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia. riwayat ibn ‘Abbas yang kemudian dikutip oleh ar-Razi menyatakan bahwa Allah membawa manusia untuk melintasi keduanya dengan ragam kendaraan. Saat di daratan, manusia bisa menggunakan kuda, unta, motor, mobil  dan sebagainya.  Sedangkan saat di lautan, manusia dengan potensinya bisa membuat perahu dan kapal.

Ketiga, (dan Kami rezekikan mereka dengan yang baik). Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa rezki ini bisa dalam bentuk dzahir maupun batin. Bisa dalam bentuk makanan, pakaian, kesehatan hingga ketenangan.

Keempat, (dan Kami istimewakan mereka atas kebanyakan makhluk lain). Menurut al-Alusi, pada kalimat ini Allah menekankan pada keunggulan manusia untuk melangsungkan kehidupan dengan memanfaatkan sarana-sarana kemuliaan tersebut.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Seiring berjalannya waktu manusia tiba pada zaman modern, zaman yang ditandai dengan dua hal, yaitu: pertama penggunaan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan manusia dan kedua, berkembangnya ilmu pengatahuan sebagai  wujud dari kemajuan intelektual manusia.

Manusia modern adalah manusia yang berpikir logis dan mampu menggunakan berbagai teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Melalui kecerdasan dan bantuan teknologi, manusia seharusnya lebih bijak dan arif, tetapi kenyataannya banyak manusia yang memiliki kearifan yang tidak sepadan dengan kemajuan berfikir dan teknologi yang dicapainya. Akibatnya kemuliaan manusia juga semakin rendah.

Baca juga: Khutbah JUmat Teknologi Tanpa Iman

Kemuliaan manusia yang rendah membuatnya bertindak di luar kemanusiaan, dengan menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginannya. Begitu banyak kejadian yang terjadi di sekitar kita yang dilatarbelakangi oleh lemahnya pemahaman akan pentingnya menjaga kualitas kemuliaan dan martabat manusia, misalnya perampokan, bunuh diri, korupsi, pecelehan seksual, aliran sesat, dan konflik antar agama, suku dan ras.

Realitas Ini menunjukkan bahwa manusia sudah kehilangan kemuliaan,  dan memposisikan martabatnya sederajat dengan binatang. Manusia tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk melakukan refleksi tentang eksistensi diri. 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Martabat adalah nilai yang melekat pada setiap diri manusia tanpa terkecuali. Nilai ini tidak memandang warna kulit, ras dan suku bangsa. Martabat manusia adalah martabat bawaan (al-karomah al-muta’asilah) yang dikaruniakan Allah kepada seluruh umat manusia. Martabat tidak akan pernah hilang, apapun tindakannya, agama dan statusnya. Bahkan seorang penjahat berhak atas perlakuan yang bermartabat, karena hukuman tidak boleh dimaksudkan untuk mempermalukan tetapi untuk mereformasi dan mendisiplinkan seseorang. Dengan demikian, setiap orang berhak dihormati dan bermartabat sebagai sesama manusia, serta berhak diberikan hak-hak tertentu, yang mesti dipahami oleh setiap orang tanpa terkecuali.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Menghargai kemanusiaan adalah suatu kewajiban, karena manusia pada hakekatnya merupakan makhluk ciptaan Allah yang indah dan mulia bila dibanding dengan makhluk lainnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS At-Tin ayat 4

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Ketidak pahaman akan pentingnya menghargai martabat manusia akan menyebabkan kurangnya empati dan munculnya rasa permusuhan di antara sesama manusia serta pelanggaran hukum. Perendahan nilai-nilai kemanusiaan yang terjadi menyadarkan kita bahwa bangsa Indonesia sedang menderita penyakit moral yang mengkhawatirkan.

Sebagaimana terjadi pada zaman Jahiliyah, yang kuat adalah yang berkuasa. Mereka bebas melakukan apa saja. Termasuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. Menindas mereka yang tidak punya bekingan. Dan melanggar hak-hak orang lain. Keadilan hanya milik mereka, sementara orang yang lemah dan tidak memiliki bekingan dengan suku lain tidak berhak mendapatkan keadilan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, terjaganya harkat dan martabat manusia, maka pertama-tama kita harus mulai dari diri kita sendiri, dengan menanamkan keyakinan dan pemahaman yang benar kepada diri kita sendiri, sebelum menunjukkannya melalui kata-kata dan tindakan kita. Sangat penting bahwa sebagai Muslim, kita memperlakukan semua orang di sekitar kita dengan rasa hormat dan keadilan, sebagimana contoh yang diberikan kepada kita oleh Nabi kita Muhammad saw.

Baca juga: Amanat Ketua Umum PBNU dalam Apel Nasional Hari Santri 2022

Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah, banyak memberi contoh keteladanan dalam menjaga martabat manusia. Misalnya, sebagaimana tergambar dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عمر رضي الله عنهما، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَد مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya: “Dari sahabat Abdullah ibn Umar radliyallahu ‘anhuma, dari Nabi , beliau bersabda: Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad (mu’ahad yaitu orang yang taat kepada kesepakatan bersama meskipun non-Muslim), maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya bau surga bisa tercium sedari perjalanan 40 tahun” (HR Bukhari).

Dalam riwayat yang lain, dari jalur sanad Shafwan ibn Salim disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang keras kepada kaum muslimin yang berlaku aniaya terhadap kafir mu’ahad. Rasulullah bersabda yang artinya:

“Ingatlah! Barangsiapa berlaku aniaya terhadap seorang mu’ahad, menekannya, atau membebaninya dengan beban yang tidak mampu ia tanggung, atau merampas hak mereka, maka aku adalah orang yang akan memintakan pertanggungjawabannya (mu’ahad) kelak di hari kiamat” (HR. Abu Dawud).

Masih banyak teladan yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dalam menjaga martabat kemanusiaan. Teladan yang paling masyhur adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Suatu ketika Abu Musa Al-Asy’ari mendapati ada seorang Yahudi sedang berada di sisi Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba si Yahudi ini bersin. Mendapati hal itu, spontan Rasulullah ﷺ berdoa yang artinya:

“Semoga Allah ﷻ memberi hidayah kepadamu dan membagusi masa depanmu!” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Semua doa yang diteladankan oleh Nabi ﷺ ternyata bukan turunnya azab, laknat dan sejenisnya, melainkan justru agar orang lain diberikan hidayah (petunjuk) kepada mereka. Inilah teladan Nabi dalam menjaga keharmonisan dalam kancah hubungan bermasyarakat. Bayangkan seandainya doa Nabi itu berupa azab atau doa keras lainnya! Bisa jadi umat beliau Rasulullah ﷺ tidak akan mencapai mayoritas penghuni muka bumi ini.

Semoga momen bulan Maulid Nabi dan momentum peringatan Hari Santri Nasional dengan tema “Berdaya Menjaga Martabat Manusia” menjadi pengingat bagi kita untuk merenungi kemuliaan manusia dan pentingnya menghargai mertabat manusia Amiin yaa Rabbal’alamiin.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH 2

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Download Teks Khutbah Jumat NU Cilacap Online Menjaga Martabat Kemanusiaan >>  di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button