KH Ahmad Ashifudin Dahri: Zakat dalam Perspektif Muzaki

NUCOM — Zakat sangat dibutuhkan umat oleh karena memang sesungguhnya si muzaki membutuhkan mustahik (penerima zakat). Inilah Tausiyah KH Ahmad Ashifudin Dahri: Zakat dalam Perspektif Muzaki.
Firman Allah SWT dalam Surat AtTaubah ayat 103 berbunyi;
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Kalimat “خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ” seakan-akan ayat itu memerintahkan dengan paksa, dengan penagihan yakni ‘Ambillah’ atau Hud Min Amwalihim.
Karena sesungguhnya zakat ini yang akan mensucikan kepada orang-orang yang muzaki. Maka zakat sesungguhnya kepentingan dan kebutuhan orang yang berzakat yaitu untuk menyucikan.
Kalau yang disucikan kotoran yang melekat pada harta disebut zakatulmaal, kalau yang disucikan kotoran yang melekat pada tubuh disebut zakatunnafsi atau zakat fitri.
Terkait membersihkan atau menyucikan harta maupun tubuh orang berzakat baiknya tidak perlu ditagih, baiknya disetorkan langsung, tidak perlu gembar gembor, muzaki harusnya sadar bahwa ini ausah, atau kotoran.
Walau harta kelihatannya bagus, uangnya bersih-bersih, tapi sesungguhnya itu ada kotorannya, sebagaimana bersihnya apel, pisang, itu pasti ada kotorannya yakni kulitnya, bijinya yang harus kita buang.
Begitu pula rezeki kita, walau kelihatannya tumpukan uang tapi itu ada kotorannya yang harus kita berikan pada mahluknya Allah yang lain.
Begitupun tubuh kita, walau mandi saban hari, pakai minyak wangi, tapi tetap ada kotorannya. Yakni kotoran yang berhubungan dengan Allah maupan yang berhubungan dengan manusia, maka harus kita bersihkan dengan cara berzakat.
Kotoran-kotoran itu penting kita buang untuk menyucikan jiwa kita, harta kita, dengan kesadaran ini para muzaki, memberi bukan suatu keterpaksaan berzakat tapi itu suatu kesadaran yang mengharuskannya untuk menjadi orang yang suci dihadapan Allah, dan manusia.
Sehingga suatu saat nanti pada saatnya ketemu dengan Allah SWT dalam keadaan bersih dan kondisi yang suci. Dan kelak di akherat juga penghuninya adalah merupakan orang-orang yang bersih dan suci. (IHA)





