Inilah 7 Keistimewaan Sayidah Fathimah Az-Zahra; Di Antaranya Penyambung Nasab Rosulullah

NU CILACAP ONLINE- Dia adalah perempuan bidadari berwujud manusia. Tubuh sucinya menjadi satu-satu penyambung nasab Rosulullah. Dialah Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri tercinta Rasulullah Muhammad ﷺ.

Sayyidah Fatimah az-Zahra lahir pada 20 Jumadil Akhir, tahun kelima sebelum kenabian ayahandanya, Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Kelahirannya bertepatan dengan peristiwa besar, yaitu ketika Rasulullah ﷺ ditunjuk sebagai penengah dalam perselisihan suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad setelah Ka’bah direnovasi.

Ulama terkemuka Mesir, Muhammad ‘Abd al-Ra’uf bin ‘Ali bin Zain al-‘Abidin al-Manawi, dalam karyanya Ithāf al-Sā’il bi Mā li Fāṭimah min al-Manāqib wa al-Faḍā’il, merangkum tujuh keutamaan Sayyidah Fatimah az-Zahra.

1. Putri Rasulullah ﷺ yang Paling Utama

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata:

إِنَّهَا رُزِئَتْ بِالنَّبِيِّ ﷺ دُونَ غَيْرِهَا مِنْ بَنَاتِهِ فَإِنَّهُنَّ مُتْنَ فِي حَيَاتِهِ فَكُنَّ فِي صَحِيفَتِهِ؛ وَمَاتَ هُوَ فِي حَيَاتِهَا فَكَانَ فِي صَحِيفَتِهَا.

“Dialah (Fatimah) yang tertimpa musibah wafatnya Nabi ﷺ, tidak seperti putri-putri beliau yang lain. Mereka wafat pada masa hidup Nabi sehingga tercatat dalam catatan amal beliau, sedangkan Nabi wafat pada masa hidup Fatimah, maka Nabi tercatat dalam catatan amalnya.”

Maksud pernyataan ini adalah bahwa setiap musibah yang menimpa Rasulullah ﷺ juga dirasakan oleh Sayyidah Fatimah, termasuk kesedihan mendalam atas wafatnya Nabi ﷺ. Hal ini berbeda dengan putri-putri Rasulullah yang lain, yang wafat lebih dahulu sebelum beliau. Baca juga Nasihat untuk Fatimah, Putri Rosulullah 

Kesimpulan ini diperkuat dengan kisah bisikan Rasulullah ﷺ kepada Sayyidah Fatimah:

«أَنَّهُ نَاجَاهَا فَبَكَتْ ثُمَّ نَاجَاهَا فَضَحِكَتْ …»

Rasulullah ﷺ membisikinya hingga ia menangis, kemudian membisikinya kembali hingga ia tersenyum. Isi bisikan tersebut adalah bahwa Rasulullah ﷺ akan wafat pada tahun itu, dan tidak ada seorang perempuan pun yang tertimpa musibah sebesar musibah yang akan dialami Fatimah. Namun kemudian Rasulullah ﷺ menenangkannya dengan sabda bahwa ia adalah pemimpin para perempuan penghuni surga, hingga Fatimah pun tersenyum. Baca juga Jangan Lupakan Sayyidah Hajar, Siti Hajar

2. Haram Dimadu

Allah Swt. berfirman dalam Surah al-Ahzab ayat 53:

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ

“Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah.”

Imam ‘Abd al-Ra’uf al-Manawi menafsirkan ayat ini sebagai larangan khusus bagi Sayyidina Ali karramallahu wajhah untuk memadu Sayyidah Fatimah, karena hal tersebut dapat menyakiti Rasulullah ﷺ. Meski demikian, sebagian ulama memahami larangan ini bersifat umum, yakni larangan memadu putri para nabi.

3. Tidak Pernah Mengalami Haid

Diriwayatkan bahwa para bidan yang mendampingi Sayyidah Fatimah ra. saat melahirkan bersaksi bahwa setelah melahirkan, beliau hanya mengalami nifas dalam waktu yang sangat singkat, sehingga tidak meninggalkan kewajiban salat. Dari sinilah beliau mendapat julukan az-Zahra. Baca Menunda Haid di Bulan Ramadhan, Bagaimana Hukumnya?

Imam ath-Thabari mengutip hadis yang menyebutkan bahwa Sayyidah Fatimah adalah:

حَوْرَاءُ آدَمِيَّةٌ طَاهِرَةٌ مُطَهَّرَةٌ لَا تَحِيضُ

“Seorang bidadari berwujud manusia, suci dan disucikan, yang tidak mengalami haid.”

Namun, Ibnu al-Jauzi dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyebutkan bahwa dalam sanad hadis tersebut terdapat perawi yang dinilai bermasalah.

4. Tidak Pernah Merasakan Lapar

Sahabat Imran bin Hushain meriwayatkan bahwa suatu ketika Sayyidah Fatimah datang menemui Rasulullah ﷺ dengan wajah pucat karena lapar. Rasulullah ﷺ meletakkan tangan beliau di dada Fatimah seraya berdoa:

اللَّهُمَّ مُشْبِعَ الْجَمَاعَةِ …

“Ya Allah, Dzat yang memberi kenyang orang banyak dan mengangkat derajat orang-orang yang hina, angkatlah derajat Fatimah binti Muhammad.”

Setelah itu, Sayyidah Fatimah berkata kepada Imran, “Aku tidak pernah merasa lapar lagi setelah peristiwa itu.”

5. Memandikan Diri Sendiri Menjelang Wafat

Enam bulan—atau menurut pendapat lain delapan bulan—setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Sayyidah Fatimah ra. menyusul ayahandanya. Diriwayatkan oleh Salma (Ummu Rafi’), pembantu keluarga Rasulullah ﷺ, bahwa Sayyidah Fatimah meminta air untuk mandi, mengenakan pakaian baru, lalu berkata agar tidak ada seorang pun membuka pakaiannya setelah wafat. Beliau kemudian wafat dalam keadaan telah bersuci.

6. Jenazah Perempuan Pertama yang Diusung dengan Keranda

Sayyidah Fatimah merasa tidak pantas apabila jenazah perempuan hanya ditutupi kain sehingga lekuk tubuhnya masih terlihat. Asma’ binti ‘Umais kemudian memperlihatkan cara membawa jenazah perempuan di negeri Habasyah dengan menggunakan kerangka dari pelepah kurma. Dari peristiwa ini, para ulama menyimpulkan sunnah membawa jenazah perempuan menggunakan keranda.

7. Penyambung Nasab Rasulullah ﷺ

Sayyidah Fatimah adalah satu-satunya putri Rasulullah ﷺ yang meneruskan nasab mulia beliau. Keutamaan ini tidak dimiliki oleh perempuan mana pun di muka bumi.

Sumber:

Muhammad ‘Abd al-Ra’uf al-Manawi, Ithāf al- Sā’il bi Mā li Fāṭimah min al-Manāqib wa al-Faḍā’il, hlm. 88–96.

Disarikan dari Facebook Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button