Ketika Jarak Luruh di Langit Arafah; Catatan Haji 2026

NU CILACAP ONLINE – Di bawah langit Arafah yang membara, suhu udara menyentuh angka 45 derajat Celsius. Angin kering berembus di antara dahan-dahan pohon Sukarno dan pohon kurma yang tengah berbuah. Namun, di dalam tenda Kloter 78, suasana justru berbalut kekusyukan. Hari itu, Selasa (26/05/2026), suara lantunan doa yang dipimpin oleh Gus Labib menggema, menembus sekat-sekat tenda, menyatukan hati para jamaah asal Cilacap yang sedang bersimpuh di tanah suci, sekaligus terhubung secara batin dengan keluarga yang mengadakan doa bersama di tanah air.
Gus Labib, demikian KH Labiburrahmat akrab disapa adalah ketua Kelompok Bimbibingan Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (KBIHNU) Cilacap yang pada tahun ini bertugas sebagai pembimbing haji. Pada hari Arafah ini dirinya memimpin jamaah kloter 78 melaksanakan wukuf di arafah. Bersama-sama melangitkan doa dengan khusyu’ terhubung secara daring dengan acara Gerbuhu (Gerakan Seribu Qulhu) yang dilaksanakan secara serempak di 24 kecamatan di seluruh Kabupaten Cilacap.
Bagi Tun Habibah, seorang petugas haji asal Cilacap, momen wukuf di Arafah ini adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan cerita, ketegangan, sekaligus keajaiban-keajaiban kecil yang menguji kesigapan dan ketulusan.
Gugup di Gerbang Keberangkatan
Cerita ini dimulai pada tanggal 17 Mei 2026, saat rombongan bersiap bertolak menuju Asrama Haji Donohudan, Solo. Jadwal semula mencatat penerimaan jamaah baru akan dibuka pukul 16.00 WIB. Tun Habibah dan tim baru saja menyelesaikan pembekalan selepas isya sekitar pukul setengah tujuh malam, ketika sebuah telepon dari Kementerian Haji tiba-tiba mengubah segalanya. Jadwal dimajukan. Jamaah harus sudah tiba di asrama pukul 13.00 WIB. Baca juga Puncak Haji Dimulai, Jamaah Diingatkan Patuhi Larangan
Ketegangan seketika memuncak. Di tengah kepanikan dan rasa gugup yang melanda, sebuah drama kecil terjadi. Salah satu jamaah tersadar bahwa tas pentingnya tertinggal. Baca juga Kemenhaj Cilacap Gelar Seleksi Tahap 1, Petugas Haji Dipastika
“Petugas langsung bergerak cepat, menyisir jalur dari Stasiun Kroya sampai Sumpyuh. Namun hasilnya nihil,” kenang Tun Habibah. Demi menenangkan jamaah dan mengejar waktu yang kian mepet, solusi kilat diambil; membeli tas baru sebagai pengganti. Baca juga Bayar Dam Haji Ternyata Mudah; Ini Panduannya
Tepat sebelum pukul 13.00 WIB, bus rombongan tiba di Solo. Sesuai regulasi, gerbang asrama baru dibuka pas pukul satu siang. Dengan mengusung tagline Haji Ramah Lansia dan Disabilitas, petugas langsung bergerak memprioritaskan jamaah lansia, penyandang disabilitas, serta jamaah perempuan untuk berada di barisan paling depan.
Saat pemeriksaan kesehatan (check-up) untuk pembagian gelang dan living cost, tensi ketegangan kembali naik. Beberapa jamaah terdeteksi mengidap penyakit gula dan jantung, bahkan ada yang obat-obatan pribadinya tertinggal di kampung halaman.
“Untunglah dokter dan tim medis kami sangat sigap. Mereka langsung berkoordinasi dengan tim kesehatan di Solo untuk menyediakan obat pengganti,” kata Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama masa khidmah 2020-2025 ini lega.
Berkat kesigapan itu, sebuah kesyukuran besar terwujud, seluruh jamaah dari Kloter 78 dan 79 bisa berangkat utuh tanpa ada satu pun yang tertinggal. Dari total 6 kloter asal Cilacap (Kloter 76 hingga 81), hanya ada satu jamaah dari Kloter 77 yang terpaksa batal berangkat karena kondisi demensia.
Tersesat di Kota Jeddah
Perjalanan udara dimulai pada tanggal 19. Setelah lepas landas pukul 15.00 WIB, pesawat sempat transit selama dua jam di Medan di mana jamaah tetap berada di dalam kabin sebelum akhirnya membelah langit menuju Arab Saudi.
Rombongan mendarat di Jeddah pada tanggal 20 dini hari, sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Namun, ujian kesabaran belum usai. Bus yang membawa mereka menuju Hotel Azzaitun dikemudikan oleh seorang sopir asal Mesir yang ternyata buta medan. Bus berputar-putar tanpa arah di jalanan kota yang asing.
Melihat situasi yang tidak kondusif, tim petugas segera melakukan koordinasi darurat dengan petugas Sektor Haji Indonesia di Arab Saudi. Setelah dipandu perlahan, bus akhirnya berhasil mencapai hotel pada pukul 08.00 pagi. Waktu perjalanan yang harusnya singkat membengkak menjadi berjam-jam.
Namun, fisik yang lelah tak menyurutkan langkah. Setelah hanya sempat beristirahat selama dua jam, tepat pukul 10.00 pagi, jamaah langsung didorong menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah wajib. Sebuah prosesi ibadah yang panjang, khidmat, dan baru selesai saat azan subuh berkumandang keesokan harinya.
Dinginnya Malam Arafah
Demi menjaga keselamatan dan keamanan, selama lima hari berikutnya (Rabu hingga Senin), jamaah diimbau untuk tetap berada di hotel. Jarak hotel yang sejauh 4 kilometer dari masjid membuat petugas mengambil langkah preventif agar fisik jamaah tidak kedodoran sebelum puncak haji. Kegiatan diisi dengan bimbingan ibadah dan doa bersama di dalam hotel.
Hingga akhirnya, hari yang dinanti tiba. Pada hari Senin pukul 10.00 pagi, jamaah mulai diberangkatkan menuju Arafah. Tepat pukul 13.00 siang, mereka menapakkan kaki di dua tenda khusus yang telah disiapkan untuk Kloter 78. Setelah melaksanakan salat jamak taqdim, ruang tenda itu berubah menjadi samudera zikir.
Meski siang hari suhu begitu menyengat, alam Arafah menyimpan kejutan lain di malam hari. Suhu udara drop drastis, menyisakan udara malam yang menusuk tulang. Celakanya, mayoritas jamaah tidak membawa jaket. Namun, keterbatasan itu justru menguatkan kebersamaan. Jamaah saling menjaga, berbagi kehangatan, kompak, dan sangat patuh pada arahan petugas.
“Alhamdulillah, semua jamaah sehat, semangat, dan kondisi aman terkendali,” ujar Tun Habibah dengan nada penuh syukur.
Dari balik tenda Arafah, sebuah pesan dan imbauan mendalam terlontar untuk seluruh jamaah haji, khususnya yang berasal dari Cilacap, yang masih akan melewati rangkaian panjang ibadah di Tanah Suci; “Selalu jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk mengambil waktu beristirahat di sela-sela ibadah.” Karena di balik diterimanya sebuah ibadah, ada fisik yang harus dijaga sebagai amanah.





