Arsip Otentik Risalah Al-Mu’tamar Al-Awwal: Sejarah JATMAN

NU Cilacap Online – Sejarah berdirinya Jam‘iyah Ahli Tarekat pada kalangan NU yang kemudian dikenal sebagai JATMAN (Jam‘iyah Ahlith Thariqah al-Mu‘tabarah an-Nahdliyyah. Berdasarkan sumber arsip otentik yang tercantum dalam karya Risalah al-Mu’tamar al-Awwal.
Sebelum ada wadah resmi bagi para ahli tarekat di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), para mursyid dan pengamal tarekat mu‘tabarah berkumpul dalam forum-forum silaturahmi yang sifatnya insidental. Tujuan utama mereka adalah. Menjaga kemurnian ajaran tarekat yang bersanad jelas.
Membahas masalah-masalah spiritual (bahtsul masail at-tasawuf) yang dihadapi para pengamal tarekat. Menguatkan ukhuwah antar-tarekat agar tidak terjadi perpecahan.
Kongres Alim Ulama Ahlith Thariqah
Titik penting itu kemudian terlembaga dalam pertemuan besar yang disebut KongresAlim Ulama Ahlith Thariqah, pada 12–13 Oktober 1957 di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Arsip otentik tentang perhelatan ini adalah Risalah al-Mu’tamar al-Awwal, naskah beraksara pegon Jawa sekitar 17 halaman.
Dalam naskah ini, pertemuan disebut “kongres” bukan “muktamar”. Kata muktamar dalam tradisi Islam mengandung makna pemakmuran baik pemakmuran bumi secara lahir maupun pemakmuran hati secara batin, sesuai amanah khalifah fil-ardh.
Pemilihan kata kongres diperkirakan sebagai bentuk tawadhu‘ para ulama tarekat, meski secara fungsi sama-sama forum permusyawaratan.
Meski demikian, nilai yang diemban tetap mencerminkan misi pemakmuran:, menghidupkan akhlak Baitul Makmur tempat malaikat bertasbih dengan amal baik dan ukhuwah.
Nilai-Nilai yang Diusung
Dalam pembukaan Risalah al-Mu’tamar al-Awwal, tertuang bahwa Allah memerintahkan beberapa hal yang menjadi landasan moral organisasi:
At-Ta‘aruf saling mengenal dengan penuh penghargaan, bukan saling menegasikan.
Al-Ittiḥad menggalang persatuan untuk mempertahankan kebaikan yang disepakati.
At-Ta‘awun tolong-menolong untuk kemaslahatan dan terwujudnya baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafur.
At-Taraḥum saling mengasihi, memandang sesama dengan ‘ainur raḥmah.
At-Tarabuṭh membangun ikatan batin dan lahir demi menjaga kekuatan iman dan ukhuwah.
At Tasyawur bermusyawarah untuk mencari kebenaran dan kemaslahatan bersama.
Semua nilai ini diperjelas dengan dua aya, yang pertama Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 103 larangan berpecah belah dan perintah berpegang teguh pada tali Allah. Kedua Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 200 perintah bersabar, saling menguatkan, dan bertakwa.
Musuh Utama Ahli Tarekat
Masih bagian awal naskah, tertera dengan jelas bahaya yang menjadi musuh utama ahli tarekat adalah sebagai berikut:
Iftiraq artinya berpecah belah, Tabaghuḍ artinya saling membenci. Taḥasud artinya saling iri dengki. Tanajusy artinya adalah saling menyakiti. Tanazu‘ artinya saling berselisih.
Peringatan ini merujuk pada hadis Rasulullah ﷺ Hadist riwayat Imam Muslim pada kitab Muslim halaman nomor 2564 tentang larangan hasad, membenci, memutuskan hubungan, dan kewajiban menjaga persaudaraan sesama Muslim.
Naskah Risalah Al-Mu’tamar Al-Awwal
Naskah ini adalah salah satu dokumen tertua yang memuat data resmi tentang berdirinya wadah ahli tarekat di lingkungan NU. Tulisannya dalam bahasa Jawa aksara pegon, kemungkinan oleh Kiai Masruhan meski nama tidak tercantum jelas di sampul. Menguraikan sejarah singkat, susunan panitia, hasil kongres, dan tujuan pendirian organisasi.
Naskah ini bisa terselamatkan dan akhirnya diwariskan kepada beberapa tokoh, di antaranya Mas Abdullah Zuma yang mendapatkannya dari Mas Nanal. Tanpa upaya pelestarian seperti ini, data sejarah awal JATMAN mungkin akan banyak hilang.
Dari Jam‘iyah Ahli Tarekat ke JATMAN
Setelah kongres pertama 1957, wadah ini dikenal sebagai Jam‘iyah Ahli Thariqah di bawah naungan NU. Seiring perjalanan waktu, namanya berkembang menjadi. Jam‘iyah Ahlith Thariqah Al-Mu‘tabarah An-Nahdliyyah. yakni Organisasi para pengamal tarekat yang mu‘tabarah dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.
Perubahan nama ini menegaskan dua hal:
Mu‘tabarah yaitu tarekat yang diakui sanad dan ajarannya sahih.
An-Nahdliyyah identitas kebersamaan dengan NU.
Kini, JATMAN telah berkembang dengan struktur nasional dan internasional, dipimpin oleh para mursyid yang disepakati, termasuk saat ini Rais Aly JATMAN adalah KH Chalwani Nawawi dan mudir Aly Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa hasil Kongres XIII di Asrama Haji Donohudan.
Penulis: Khayaturrohman





