Agustus 2026, Dua Momentum Pembebasan

NU CILACAP ONLINE – Pada Bulan Agustus ini, ada dua momentum yang dialami kita sebagai umat islam di Indonesia. Pertama, tentu Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81. Yang kedua, yaitu Maulid Nabi Muhammad SAW.
Yang menjadi pertanyaan, apa hubungan di antara keduanya? Secara sekilas, hal itu tidak ada hubungannya. Tetapi jika kita cermati, secara sosio-religius, kedua momentum itu punya relasi yang sangat kuat.
Pertama, kedua momentum itu, yaitu HUT RI ke-81 dan Maulid Nabi, sama-sama memperingati hari kelahiran. Perayaan HUT RI adalah merayakan hari lahir Bangsa Indonesia. Lho, bukankah bangsa Indonesia telah ada sejak berabad abad yang lalu, jauh sebelum Soekarno Hatta membacakan teks proklamasi, 81 tahun yang lalu?
Pendapat itu benar. Tapi sebagai negara nasional yang berdaulat, Indonesia ada sejak 17 Agustus 1945.
Itulah tanggal bulan dan tahun kelahiran (maulid) Bangsa Indonesia.
Kedua, Maulid Nabi Muhammad SAW. Ini juga memperingati kelahiran. Kelahiran Nabi yang diyakini terjadi pada tanggal 12 Robiul awal tahun gajah. Lebih dikenal sebagai tahun gajah, karena pada saat itu, Mekah, kota kelahiran Nabi, diserang oleh bala tentara yang mengendarai gajah, untuk menghancurkan mekah.
Tauhid dan pembebasan
Peringatan HUT RI pada setiap tahunnya adalah untuk memperingati kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing.
Nabi Muhammad SAW, lahir dan kemudian diutus, juga untuk melakukan pembebasan, dan memberikan kemerdekaan bagi setiap individu.
Muhammad diutus dengan membawa risalah yang disebut islam. Risalah ini bersumber kepada ajaran tauhid, yang disusun dalam satu kalimat utama, yang berbunyi laa ilaa ha illalloh. Yang mengandung makna, tidak ada Tuhan selain Alloh.
Artinya, setiap manusia tidak boleh tunduk kecuali kepada Alloh. Manusia tauhid adalah manusia yang tahrirunnaas min ‘ibadatil ‘ibaad ilaa ‘ibadatillaah, yaitu mengubah manusia, dari menyembah kepada selain Alloh, menjadi menyembah kepada Alloh.
Perbudakan mental secara superior, berarti ia mengambil hak Alloh karena sifat Akbar, kabaair, adalah milik Alloh. Sementara itu, indolensi, rendah diri, juga bertentangan dengan tauhid, sebab itu mengekspresikan rasa takut, khawatir, dan ketundukan kepada yang lain.
Oleh karena itu, Islam menolak sistem kependetaan, karena dianggap bertentangan dengan tauhid. Pun termasuk kultus-kultus individu. Laa ruhbaniyyata fil islam. Tidak ada sistem kependetaan dalam Islam. Jadi, manusia tauhid adalah manusia-manusia yang secara hakiki adalah manusia merdeka.
Setiap penjajahan terjadi karena adanya penyakit mental yaitu ada pihak yang merasa hebat super, dan sombong.
Pada sisi yang lain ada orang atau kelompok yg tidak punya kepercayaan diri, inferior, rendah diri, dan inlander.
Kemerdekaan sebagai misi profetis
Setiap Nabi, pasti membawa misi “pembebasan’. Dan juga penting dicatat, Nabi juga membawa misi perlawanan, antitesis terhadap status qua, dan melakukan de-konstruksi secara sosial.
Kalimat laa ilaa ha illaalloh adalah kalimat pembebasan, pembebasan manusia dari perbudakan mental,,yaitu pembebasan manusia dari rasa sombong, tinggi hati, merasa kuat, hebat, paling benar,
Dan pada sisi lain juga menumbuhkan semangat percaya diri.
Islam yg dibawa Nabi menghapus perbudakan, menghilangkan penjajahan, dan mengangkat derajat kaum perempuan menjadi sama dengan laki-laki. Jaman sebelum Nabi, perempuan dianggap sebagai aib,, sehingga setiap bayi perempuan yg lahir, akan dikubur hidup-hidup. Tetapi islam membawa risalah pembebasan kepada kaum perempuan. Martabatnya diangkat, dan secara nyata dengan menjadikan kata Nisa, sebagai nama salah satu surat dalam Quran, yaitu An-Nisa. Sebab dalam pandangan islam, kemuliaan manusia itu ditentukan bukan oleh perbedaan gender, sebagaimana bunyi ayat:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَاَتْقٰىكُمْ
Jadi, Nabi Muhammad SAW betul-betul datang membawa risalah rahmat bagi seluruh alam, termasuk bagi perempuan.
Inilah esensi kemerdekaan, baik dalam konteks Indonesia merdeka, atau misi kenabian Muhammad SAW.
Maka sangat tepat ketika para pendiri negara, mengaitkan kemerdekaan bukan semata-mata hasil usaha keras para pejuang, melainkan juga atas berkah rahmat Alloh SWT, sebagaimana tercantum dalam alenia ke tiga preambul UUD 1945, yang berbunyi, Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didirongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal itulah semua yg menjadikan kita patut bersyukur, bahwa para pejuang masa lalu, dan Risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW, membuat kita semua menjadi bangsa dan muslim Indonesia, menjadi bangsa dan manusia yang benar-benar merdeka, dan merdeka secara benar. Baca juga Taufik Imtikhani: Tentang Hari Kemerdekaan
Penulis: Taufik Imtikhani
Editor: Naeli Rokhmah





