UNUGHA Cilacap Kampus Ilmu dan Kekeluargaan, Meski Beda Iman. Inilah Cerita Ely Suprihatin Mahasiswa Kristen yang Kuliah Hingga Sarjana

CILACAP, NUCOM — Di antara 351 toga yang membubung pada Wisuda ke-11 Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap, ada satu cerita yang tak tertulis di transkrip nilai yakni ada sebuah kampus di Cilacap yang mengajarkan ilmu sekaligus mengajarkan bagaimana menjadi keluarga, meski berbeda iman. Inilah cerita Ely Suprihatin Mahasiswa Kristen yang Kuliah di UNUGHA hingga sarjana.
Cerita itu datang dari Ely Suprihatin (52). Perempuan asal Boyolali yang besar di Semarang dan kini menetap di Cilacap itu berbeda dari kebanyakan.
Da seorang Nasrani. Ia mulai kuliah di Fakultas Keguruan dan Pendidikan UNUGHA pada tahun 2025, di usia yang bagi banyak orang sudah waktunya berhenti bermimpi soal bangku kuliah. Tapi Ely justru memulai.
“Saya seorang Nasrani, terutama Kristen. Selama saya ada di UNUGHA, saya merasa tidak pernah dibeda-bedakan. Saya benar-benar dianggap menjadi keluarga UNUGHA,” katanya usai wisuda di Gedung Patra Graha Cilacap, Sabtu (19/9/2026).
Kalimat itu sederhana. Namun mengandung makna yang besar.
Di UNUGHA, Ely tidak menemukan sekat. Dia menemukan teman. Dia bertemu mahasiswa dari berbagai daerah, bahkan teman dari Nusa Tenggara TTimur. Dia menemukan ruang belajar yang memaksanya bertumbuh. Di usia 52, dia harus berhadapan dengan teknologi, dengan tugas-tugas digital, dengan pertemuan tatap muka yang menuntut kehadiran pikiran dan hati.
“Di masa muda kami saat ini, kami harus berhadapan dengan teknologi,” ujarnya sambil tersenyum.
Dan justru di situlah kebahagiaannya. UNUGHA memadukan keduanya: kecakapan teknologi dan kehangatan pertemuan langsung.
“Belajar di UNUGHA ini kami dipaksa untuk bisa. Itu salah satu kebahagiaan saya, karena memadukan teknologi ketika kami harus belajar dan juga tatap muka,” kata Ely.
Baginya, kuliah bukan sekadar ijazah, tapi kesempatan untuk terus menjadi manusia yang belajar.
Cerita Ely sampai ke Meja Rektor
Rektor UNUGHA Cilacap, Dr. H. A. Luthfi Hamidi, M.Ag, mengatakan keberagaman seperti yang dialami Ely adalah bagian dari pertumbuhan kampus. Seiring bertambahnya program studi dan kepercayaan masyarakat, mahasiswa UNUGHA kini datang dari latar belakang keyakinan yang berbeda.
“Bagi yang non-Muslim, kita jamin mereka akan diberi kesempatan memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama mereka,” tegas Luthfi.
Kampus, katanya, akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memenuhi hak itu. Di sisi lain, ada mata kuliah identitas yang menjadi napas UNUGHA dan diikuti semua mahasiswa, salah satunya Aswaja An-Nahdliyah – sebagai pengenalan nilai, bukan pemaksaan keyakinan.
Jika kampus berbasis pesantren sering dibayangkan eksklusif, UNUGHA menunjukkan sebaliknya. Ia inklusif, merangkul, dan memastikan setiap orang mendapat tempat belajar yang sama.
Kisah Ely adalah kisah kecil di tengah 351 wisudawan. Tapi ia adalah kisah yang penting: bahwa di Cilacap, ada sebuah kampus yang mengajarkan ilmu sekaligus mengajarkan bagaimana menjadi keluarga, meski berbeda iman.***(Nasrullah)





