Abuya Syaikh Soleh Muhammad Basalamah: Hijrah Itu Pindah Perbuatan, Inilah Manusia “Ghonimun”

NUCOM — Di awal tahun baru Hijriah 1448, ribuan jamaah Majenang Raya diingatkan hakikat hijrah yang sesungguhnya. Bukan sekadar pindah kota, tapi pindah dari keburukan menuju kebaikan. Berikut ini tausiyah Abuya Syaikh Soleh Basalamah: Hijrah Itu Pindah Perbuatan, Bukan Hanya Tempat. Ini Kunci Jadi Manusia “Ghonimun”

Malam Penuh Shalawat dan Keberkahan

Majelis Burdah adalah pembacaan qasidah pujian kepada Rasulullah SAW. Bertempat di Istana Tijani Nusantara, Pahonjean, Majenang, Kab. Cilacap. Dan kehadiran Abuya Syaikh Soleh Basalamah di majlis ini menambah kekhusyukan. Beliau dipandang menyejukkan, dan doa-doanya menyentuh hati jamaah.

Ada 3 Jenis Manusia: Salimun, Ghonimun, Khosirun

Usai baca kitab shalawat Burdah yang diiringi musik rebana, Inti tausiyah Abuya Syaikh Soleh Basalamah menyebutkan ada 3 tipe manusia menurut Rasulullah SAW:

  1. Salimun: Selamat saja. Tidak rugi, tapi juga tidak untung banyak.
  2. Ghonimun: Orang yang untung besar. Dunia dan akhiratnya berkah.
  3. Khosirun: Orang yang rugi.

“Kita mau jadi yang mana? Jangan mau hanya selamat. Rasulullah paling senang umatnya jadi ghonimun, umat unggulan,” kata Abuya.

Abuya menyampaikan adapun kunci jadi Ghonimun ada 3 yakni; Pertama, Istiqomah di majelis ilmu.

“Rajin hadir di majelis taklim. Terutama Majlis Shalawat Burdah setiap malam Ahad Manis ini. Mudah-mudahan hidup kita manis terus,” selorohnya yang disambut amin jamaah.

Kedua, Shalat lima waktu jangan sampai kelewat dengan berjamaah.

Ketiga, Jaga Lisan. “Rasulullah bersabda, ‘Tuba liman malaka lisanahu’. Untung orang yang bisa mengendalikan lisannya. Surga rindu kepada orang yang jaga lisan,” pesannya.

Hikayat Hijrahnya Para Nabi Ternyata Kunci Sukses

Abuya mencontohkan, 99% nabi dan rasul itu hijrah dan semuanya sukses.

Nabi Ibrahim hingga usia lanjut belum dikaruniai anak, begitu hijrah dari Babilonia ke Makkah, lalu istrinya hamil.

Nabi Musa pun demikian sampai bujang lapuk, begitu hijrah dari Mesir ke Palestina, lalu dapat jodoh sholehah. Putrinya Nabi Syu’aib.

Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, lalu disambut dengan “Thola’al Badru Alaina”.

“Tapi kata Rasulullah, untuk umat akhir zaman tidak perlu hijrah fisik 500 km seperti beliau. Yang perlu dihijrahkan adalah perbuatan kita,” jelasnya.

Artinya apa? Abuya menegaskan, dari malas ke rajin ke majlis ilmu, shalat berjamaah dan tepat waktu, dari lisan ngeblong ke lisan berdzikir, dari hidup asal-asalan ke hidup yang terarah.

Kematian Bukan Akhir, Tapi Awal Kehidupan Lain

Sebelumnya dalam tausiyah Abuya mengingatkan bahwa hidup manusia hanya pindah alam.

“Tidak ada mati pada hikikinya ruh kita tetap hidup. Kematian itu pintu pertama menuju kehidupan di alam kubur,” ujarnya.

Karena itu, umur adalah modal. “Umur adalah modal. Minta supaya kita bisa gunakan modal itu untuk perbuatan yang baik, yang menguntungkan kita di akhirat,” tegasnya.

Beliau lalu memimpin doa panjang untuk jamaah, agar yang sakit disembuhkan lahir batin, cita-cita disukseskan, problem diberi jalan keluar, dan rezeki datang dari arah tak terduga.

“Langit di atas kita dibuka oleh Allah. Yakin Allah sedang mendengar,” ucapnya lirih. Amin.

Dan beliau menyebut bahwa shalawat Burdah adalah doa yang dilantunkan bukan sekadar syair.

“Ini adalah doa, wasilah penyembuh penyakit lahir batin dan benteng spiritual yang kokoh. Semoga Majenang dipayungi rahmat-Nya, dijauhkan dari bencana, dan masyarakatnya makmur di tahun 1448 Hijriah ini,” harapnya.

Akhir tausiyah ditutup dengan Al-Fatihah. Pesan Abuya menggema: Hijrah sekarang. Istiqomah. Rajin Shalat berjamaah. Jaga lisan. Maka kita akan jadi calon penduduk taman surga, jadi manusia harapan Rasulullah SAW yakni Manusia yang ghonimun; Orang yang untung besar. Dunia dan akhiratnya berkah.

Allahumma Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin 🤲

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button