Pergeseran-pergeseran Moral Intelektual

NU CILACAP ONLINEN- Dahulu, ada konsep, saya berpikir, maka saya ada. Plato adalah tokoh idealis yang mengatakan bahwa berpikir adalah entitas yang penting. Sampai kemudian Plato menyatakan, hendaknya negara itu dipimpin oleh orang-orang yang pintar.
Idealisme Plato sangat benar. Negara harus dipimpin oleh orang-orang yang pintar. Dan jaman sekarang, legal standing orang pintar, harus ditunjukan oleh ijazah, gelar, dan reputasi intelektual. Semakin tinggi ijazah, semakin menunjukan kepintaran tersebut. Ada ijazah SD, SLTP, sampai dengan S1, S2, S3.
Gelar profesor, atau guru besar, menunjukan bentuk pengabdian ilmiah, berupa karya tulis, buku-buku, kitab, yang bermanfaat bagi orang banyak.
Undang-undang di bidang politik, pun mensyaratkan soal ijazah,, sebagai bagian dari filter administratif, agar negara dipimpin oleh orang-orang yang relatif pinter, punya pendidikan dan pelajaran yang jelas. Jadi, orang yang tidak punya ijazah, atau ijazahnya palsu, tidak mempunyai standard formal bahwa ia pintar. Penilaiannya tidak jelas. Dan jika orang-orang bodoh, tapi pandai berbohong, padahal tidak sekolah, ijazahnya tidak jelas, kemudian memimpin negara dan pemerintahan, maka kata Nabi SAW, tunggulah saat kehancurannya,
Tidak hanya di dunia pendidikan formal-modern, di dunia pendidikan pesantren pun ijazah sangat diperlukan. Hal ini menggambarkan bahwa seorang santri, telah diberi kewenangan, untuk mengajarkan fan ilmu tertentu, sekaligus menandakan ke-sanadan- seorang santri kepada gurunya.
Era pentingnya ilmu, membuat keberadaan ilmu dijunjung luhur. Orang-orang berilmu mempunyai kedudukan yang istimewa di tengah-tengah masyarakat. Peribahasa mengatakan, lubuk akal tepian ilmu.
Orang-orang datang dan berkumpul, untuk mendengarkan ceramah, kajian, dan nasihat-nasihat kehidupan, mencari ketentraman hidup dan kedamaian jiwa. Tuhan pun menjamin kedudukan orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman-Nya:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ
Al Imam Syafi’i mengatakan bahwa 1 orang berilmu ( ilmu fiqh), itu lebih utama baginya, daripada 1000 ahli ibadah.
Dalam sebuah hadist yang masyhur diceritakan, Nabi Muhammad SAW datang ke masjid. Di pintu Masjid Nabi SAW melihat Syaitan, dan ditanya, apa tujuanmu ke sini?
Syaitan menjawab, bahwa dia akan menggoda orang yang sedang sholat, tetapi dia takut sama orang yang sedang tidur di masjid.
Jawaban ini tentu membuat penasaran Nabi SAW. Sehingga Beliau bertanya, kamu akan menggoda orang yang sedang menghadap ( mengingat ) Alloh. Tapi kamu takut kepada orang yang sedang tidur ( lupa kepada Alloh).
Syaitan menjawab, orang yang sedang sholat itu, orang yang bodoh. Sedang orang yang tidur itu orang yang ‘alim.
Dalam kitab Ta’limul Muta’alim juga disebutkan;
تَعَــلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِدِ
Arti: “Belajarlah, karena sesungguhnya ilmu adalah hiasan bagi pemiliknya, keutamaan, serta tanda bagi setiap perkara yang dipuji.”
Ada sebuah ungkapan, orang bodoh, di desanya sendiri saja mati, sedang orang pandai, di manapun hidup.
Orang pandai itu ibarat ikan yang hidup. Meskipun hidup di air laut yang asin, dagingnya tidak ikut asin. Berbeda dengan orang bodoh. Dia seperti ikan mati yang berada di air yang asin. Dagingnya akan terasa asin pula.
Ilmu, disebutnya juga, nuurun. Cahaya. Dengan ilmu, kegelapan akan menjadi terang. Kesulitan akan terurai, dan persoalan akan terpecahkan.
Quraish Shihab dalam bukunya, ‘Membumikan Al Quran’, menyebut, bahwa ilmu adalah cahaya. barang siapa mempunyai ilmu, maka dia akan bertambah rasa takutnya kepada Alloh.
Jadi, rasa takut kepada Alloh itu menjadi syarat sesuatu disebut ilmu. Ilmu adalah sarana mengenal Alloh (makrifatulloh). Hal ini seuai dengan kitab Matan Az- Zubad karya Seikh Ibnu Ruslan, yang menyebutkan, awalu wajibin ‘alal insani. Ma’rifatullohi biistiqoni. Kewajiban pertama seorang Insan adalah mengenal Alloh dengan yakin.
Ilmu adalah sarana untuk mengenal Alloh. Ilmu menuntun seseorang untuk memperoleh hidayah.
Maurice Bucaille adalah seorang ahli bedah spesialis di bidang gastroenterologi dan pengarang berkebangsaan Prancis. Pada tahun 1973, dirinya diangkat sebagai dokter keluarga Raja Faisal dari Arab Saudi. Para pasiennya termasuk anggota keluarga Presiden Mesir Anwar Sadat. Dia masuk Islam dari Kristen dengan ilmu yang dimilikinya. Ia kemudian menulis buku The Bible, The Qur’an and Science yang dirilis pada tahun 1976.
Dr. Keith L Moor, dari Toronto Kanada, ahli embriologi, terkejut ketika mempelajari Quran, dan menemukan fakta bahwa Quran telah menerangkan perkembangan embro, 15 abad yang lalu, ketika ilmu pengetahuan modern tentang embrio, belum ditemukan. Dr. Keith L Moor kemudian memeluk islam dengan ilmunya itu.
Penghianatan terhadap ilmu adalah, ketika orang-orang berilmu sudah tidak jujur terhadap kebenaran yang diketahuinya, dan takut kehilanhan kedudukan serta harta benda. Sejarah penghianatan ilmu oleh orang ‘alim itu ada sejak dahulu. Penghianatan itu terjadi, sebab para ilmuwan sudah tidak lagi “membebaskan diri ” dari segala kepentingan duniawi. Seorang ilmuwan memang idealnya, kata Julian Benda, berumah di atas angin.
Penghianatan ilmu oleh orang ‘alim, nampak dalam politik. Politik adalah suatu usaha untuk merebut, dan mempertahankan kekuasaan. Dengan berkuasa,, maka sumber-sumber kekayaan dan pengaruh dapat diperoleh dan dikelola, bahkan wanita mudah didapat. Sehingga ada pepatah, tahta, harta dan wanita.
Para ulama-intelektual sering terlibat dalam pusaran politik, dan itu sulit baginya menjaga ilmu, independensi. Mereka tiba-tiba buta melihat kebenaran, bergabung dengan para penjahat, pemabuk atau penjudi untuk suatu tujuan dan kemenangan politik. Para ulama-intelektual sering tergoda oleh janji-janji jabatan dan kekuasaan.
Bal’am bin Baura, Ghiyat Bin Ibrahim, atau juga Barseso, adalah contoh-contoh ulama yang berhianat kepada kebenaran yang diketahuinya. Bal’am bahkan disebut, salah satu ulama yang diberi petunjuk khusus berupa ismu a’dhom.
Jadi, itulah ilmu dan kedudukannya. Saya berpikir, maka saya ada, kata Plato. Di sebuah wilayah di tempat saya, dulu, sebagai bentuk penghormatan kepada ilmu, jika anak gadisnya dilamar, maka orang tua gadis itu bertanya kepada calon menantunya, apakah dia bisa baca Qura’an? Tapi itu dulu.!
***
Tahap kedua, dalam pergeseran moral intelektual adalah, saya bekerja, maka saya ada.
Dunia berjalan begitu cepat. Pembangunan terus dilakukan oleh pemerintah seluruh negara di dunia. Dunia Barat mengambil inisiatif modernisasi dan industrialisasi. Kesempatan bekerja meluas, seiring kebutuhan akan pangan, papan dan sandang. Pabrik-pabrik didirikan untuk mengolah sumber daya alam. Kebutuhan akan bahan mentah, menyebabkan ekspansi imperialisme. Negara-negara industri membutuhkan bahan mentah, baik berupa kekayaan alam atau sumber daya mineral.
Dunia kemudian terpolarisasi menjadi dua kutub pembangunan. Yaitu negara maju dan negara berkembang.
Untuk bisa cepat memperoleh kemajuan, negara-negara berkembang mengadopsi metode dan cara-cara negara maju dalam pembangunan.
Salah satunya adalah industrialisasi. Negara-negara berkembang secara umum berada di Asia dan Afrika. Wilayah ini adalah wilayah yang kaya akan sumber daya alam, berupa rempah-rempah dan sumber daya mineral.
Imperalisme, disamping membawa efek negatif, juga membawa efek positif.
Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi adalah efek positif dari imperalisme.
Negara-negara berkembang yang rata-rata adalah negara jajahan,, secara tidak langsung menerima transfer ilmu pengetahuan, teknologi, dan jejak industrialusasi.
Pabrik gula di Indonesia, adalah contoh warisan industrialisasi dari imperialisme Belanda.
Setelah kemerdekaan, pembangunan dilakukan secara masif, salah satunya adalah industrialisasi. Mengapa bidang ini menjadi prioritas?
Tentu karena kita ingin memperoleh kemajuan. Kemajuan suatu negara membutuhkan indeks industri yang tinggi. Industri juga sarana untuk mengolah sumber daya alam dan memanfaatkan sumber daya manusia yang melimpah. Dengan industri inilah, negara membuka banyak lapangan kerja bagi rakyatnya. Dengan bekerja, maka rakyat Indonesia akan sejahtera. Kebutuhan primer akan pangan, sandang, dan papan dapat diwujudkan. Eksistensi manusia pada akhirnya akan ditunjukan oleh pekerjaannya. Bekerja adalah cermin dari prestasi dan prestise. Sehingga orang tidak akan babyak ditanya soal kipintaran, tetapi pekerjaan. Orang tua akan melepas anak gadisnya kepada lelaki yang jelas pekerjaannya.
Agama juga memerintahkan orang untuk bekerja, dan menilai suatu pekerjaan sebagai ibadah. Dalam surat Al Jumuah, Alloh memerintahkan manusia untuk bertebaran di bumi mencari karunia Alloh, berupa rezeki. Tentu dengan cara bekerja.
Nabi SAW pernah bersalaman dengan seseorang yang tangannya kasar karena bekerja. Nabi SAW kemudian bersabda, inilah tangan yang terbebas dari api neraka.
Orang miskin itu karena malas bekerja. Miskin berasal dari akar kata, sakana, yang artinya diam. Orang yang diam berpangku tangan, hidupnya akan miskin. Rezeki itu tidak turun dari langit, tetapi perlu usaha ikhtiar untuk mendapatkannya.
***
Tahap ketiga dari pergeseran moral intelektual adalah, saya belanja, maka saya ada. Kemampuan sessorang untuk belanja, akan menunjukan siapa jati dirinya. Semakin banyak belanja, dan semakin mewah dan mahal harga barang yang dibelinya, akan menambah kehormatan di hadapan dan pandangan orang-orang disekitarnya. Ini yang disebut faktor demontratif effect. Seseorang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, tapi karena gengsi sosial.
Dampak negatif dari pola pikir ini adalah lahirnya budaya konsumtifisme. Budaya ini tidak hanya melanda orang-orang kaya, melainkan menular kepada orang-orang miskin. Demi gengsi mereka rela hutang kepada bank atau renternir. Akhirnya kehidupan mereka terjebak hutang.
Dana hutang yang semestinya bisa untuk usaha produktif, digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Ketika dana telah habis, mereka mencari pinjaman demi pinjaman untuk bayar hutang. Hal ini dapat menimbulkan masalah sosial dan kriminal.
Agama, tidak melarang hutang. Agama melarang riba. Agama juga melarang isrof, atau berlebih-lebihan, dan tabdir, atau kesia-siaan,, termasuk dalam mengelola dan membelanjakan uang.
Al-A’raf · Ayat 31
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
Juga larangan untuk berlaku mubadzir.
Al-Isra’ · Ayat 26
وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا
Gaya hidup sebab pola pikir membeli barang bukan karena butuh, melainkan pandangan orang-orang di sekitarnya, bagi para pejabat negara dan pemerintah, dapat menimbulkan korupsi.
Bagi masyarakat lain, dapat juga menimbulkan dampak kriminalitas, seperti menipu, mencuri, atau merampok. Jalan-jalan pintas dan dosa ini dilakukan, untuk menutupi perkembangan kebutuhan akan pandangan orang lain, kehormatan dan harga diri yang tidak pernah selesai, tanpa frame dan batas. Dan semua itu sangat berbahaya bagi keutuhan sosial.
Toufik Imtikhani





