Menjaga Sanad Spiritual Tarekat Naqsyabandiyah, Haul ke-105 KH. Abdul Majid Salebu

Majenang, NUCOM —- Dalam menjaga Sanad ilmu dan api Spiritual, ribuan jamaah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah peringati Haul KH Abdul Majid, mereka memadati Halaman Pesantren Matlabul Anwar Nyakra, Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap, pada Ahad (01/11/2026) pagi.
Kehadirin ribuan jamaah beserta aparatur pemerintah Camat, Kades, TNI, Polri itu guna untuk memperingati Haul al-Maghfurlah KH. Abdul Majid ke 105 tahun, ulama kharismatik yang dikenal sebagai perintis utama penyebaran Ajaran Tarekat tersebut.
Suasana khidmat dan sarat nilai spiritual menyelimuti area haul sejak pagi. Jamaah thoriqoh, ulama, dan santri datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga luar Jawa.
KH Sunhaji Abdurahman selaku mursyid tarekat ini mengemukakan bahwa silsilah sanad keilmuan KH. Abdul Majid terjaga secara muttashil, sebagai berikut;
- KH. Abdul Majid berbaiat kepada Syaikh Sholeh Muhtar (Senepo, Purworejo).
- Syaikh Sholeh Muhtar berbaiat kepada Syaikh Sulaiman Zuhdi (Jabal Qubais, Makkah).
- Bersambung kepada Syaikh Bahauddin Naqshabandi hingga Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Rasulullah SAW.
Perkuat Sanad Keilmuan
Peringatan haul tahun ini terasa lebih istimewa dengan hadirnya ulama nasional, Mantan Katib ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Said Asrori sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotutholab Tempuran Magelang.
Dalam mauidhoh hasanah, Kiai Said Asrori menekankan pentingnya menjaga kemurnian sanad dan memperkuat ukhuwah antar-pesantren sebagai benteng umat.
Dijelaskan mata rantai kepemimpinan dan sanad thoriqoh sepeninggal beliau pun terus dipelihara tanpa terputus. Estafet kepemimpinan dilanjutkan berturut-turut oleh putra beliau KH. Abdurrohman, kemudian KH. Bahrudin, KH. Mashuri, hingga penerus saat ini, KH Sunhaji Abdurrohman.
Perjuangan KH. Abdul Majid tidak hanya tercatat sebagai tinta emas sejarah dakwah di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat. Dari keteladanan dan keikhlasannya menggembleng mental kerohanian masyarakat, dakwah Islamiyah terus meluas hingga hari ini melalui putra-putri beliau yang kini mengasuh pesantren dan membimbing umat di berbagai pelosok Nusantara, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera.
Rangkaian Majelis Khotmi Thoriqoh An-Naqsabandiyah Kholidiyah di panggung utama ditutup dengan doa bersama untuk kemaslahatan bangsa dan keistiqomahan umat dalam mengamalkan dzikir thoriqoh.
Tradisi haul ini sekaligus menegaskan kembali posisi Salebu, Majenang, bukan sekadar desa, melainkan salah satu poros penting sanad thoriqoh di Jawa Tengah bagian barat yang apinya harus terus dijaga.***(IHA)
Baca juga: Tarekat Naqsyabandiyah Dan Perkembangannya Di Dunia





