Pengajian Istana Tijani Nusantara Majenang: Syeikh Fathi Al Hijazi Kisahkan Kecerdasan Luar Biasa Imam Syafi’i dan Adab Imam Malik

Majenang, NUCOM — Suasana Istana Tijani Nusantara, Cibeunying, Majenang, Cilacap, begitu khidmat pada Selasa malam Rabu (20/10/2026). Ribuan jamaah larut dalam Mau’idhoh Hasanah yang disampaikan langsung oleh Ulama Besar Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Syeikh Prof. Dr. Fathi Abdurrahman Al Hijazi Al Husaeni, Kisahkan Kecerdasan Luar Biasa Imam Syafi’i dan Adab Imam Malik

Dalam kajiannya, Syeikh Fathi tidak menyampaikan teori yang jauh. Dengan bahasa kekhasannya (Bahasa Arab), Beliau mengajak jamaah meneladani langsung sosok pendiri Mazhab Syafi’i, Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i, tentang bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu bersikap.

Hafal Qur’an di Usia 7 Tahun Tanpa Diajar

Kisah pertama yang membuat jamaah tertegun adalah tentang kejeniusan Imam Syafi’i sejak kecil.

Dikisahkan, melalui penerjemah Kang Humaidi Cirebon, menyampaikan sebagaimana yang diutarakan gurunya, Syeikh Prof. Dr. Fathi Abdurrahman Al Hijazi Al Husaeni, mengisahkan bahwa Imam Syafi’i kecil saat itu menjadi santri di halaqoh Qur’an. Beliau duduk di majelis, mendengarkan santri pertama membaca surat ini sampai ayat ini, santri kedua membaca surat ini sampai ayat ini. Ketika semua santri pulang, dia menghadap gurunya.

“Wahai guru, izinkan saya menyetorkan apa yang saya dengar hari ini,” katanya.

Gurunya terkejut. “Apa yang kau dengar?”

Lalu Imam Syafi’i kecil melantunkan kembali semua bacaan santri-santri itu dari hafalannya. Seketika hafal. Itu adalah anugerah murni dari Allah SWT.

Ketika orang tuanya datang dan ingin membayar biaya pendidikan, sang guru menolak. “Untuk apa kamu membayar? Saya tidak mengajarinya. Dia diberi kelebihan menghafal dengan sendirinya.”

Dengan karomah itu, pada usia 7 tahun, Imam Syafi’i telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Keliling Mencari Ilmu, Ditangkap dan Justru Dimuliakan Khalifah

Setelah hafal Qur’an, Imam Syafi’i tidak berhenti. Beliau pindah ke Masjidil Haram, berkeliling dari guru ke guru untuk menghafalkan semua hadits Nabawi yang ada di kepala ulama-ulama Haram. Selesai hadits, beliau pergi ke pedalaman untuk belajar bahasa Arab paling fasih, yaitu Kabilah Hudzail yang memiliki 70 penyair. Dua tahun beliau tinggal di sana, menghafal semua syair dengan sebaik bahasa penyair Hudzail.

Perjalanan berlanjut ke Yaman. Namun di Yaman terjadi pemberontakan. Imam Syafi’i yang hanya fokus belajar ikut ditangkap, dan dibawa dengan tangan terikat borgol ke istana Khalifah Harun Ar-Rasyid di Baghdad.

Di istana itulah takdir mempertemukannya dengan sahabat lamanya, murid Imam Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan As-Syaibani, yang menjadi penasehat khalifah.

“Kenapa engkau sampai di sini dengan tangan diikat, wahai Muhammad bin Idris?” tanya Muhammad bin Hasan.

“Saya tidak tahu salah saya apa, saya hanya belajar di Yaman lalu ditangkap,” jawab Imam Syafi’i.

Muhammad bin Hasan langsung membela di depan Harun Ar-Rasyid,

“Wahai Khalifah, engkau salah tangkap. Dia penuntut ilmu, bukan pemberontak. Jika tidak percaya, ujilah dia tentang Al-Qur’an!”

Harun Ar-Rasyid pun menguji Imam Syafi’i tentang Al-Qur’an, lalu tentang hadits Rasulullah. Semua dijawab dengan sempurna. Bahkan Imam Syafi’i balik bertanya, “Bagaimana ilmu falak dan perbintangan? Tanyakan bintang mana yang pindah, mana yang tetap, mana yang berputar.” Ditanya tentang ilmu kedokteran, beliau menjawab, “Tanyakan anggota tubuh mana yang sakit, akan saya beri obatnya.”

Khalifah pun takjub dan menyadari kesalahannya, lalu menghadiahinya rumah dan harta. Namun, kisah yang paling menyentuh adalah apa yang dilakukan Imam Syafi’i setelah menerima hadiah itu.

Begitu keluar dari pintu istana, beliau memanggil semua pelayan istana yang berjumlah sekitar 200 orang, dan membagikan semua harta pemberian khalifah kepada mereka. Seraya berkata: “Uang penguasa tidak boleh keluar dari rumahnya. Harta itu ditinggalkannya kembali di istana.”

“Ini mental penuntut ilmu sejati. Semangat belajarnya tidak pernah putus asa. Tidak silau dengan harta penguasa. Mudah-mudahan kita bisa meniru mental beliau sehingga ilmu itu mendekatkan kita kepada Allah,” tegas Syeikh Fathi.

Kisah Kedua: Galaknya Imam Malik dan 18 Malam Hafalkan Muwatta

Syeikh Fathi melanjutkan dengan kisah Imam Syafi’i ingin berguru kepada Imam Malik di Madinah. Imam Malik dikenal sebagai guru yang sangat galak dan berwibawa. Saking galaknya, Khalifah Harun Ar-Rasyid pun pernah beliau tolak.

Kisahnya, Harun Ar-Rasyid mengirim kereta kencana penuh hadiah untuk memanggil Imam Malik mengajar di istana. Jawaban Imam Malik tegas:

العِلْمُ يُؤْتَى فِي بَيْتِهِ وَلَا يُؤْتَى فِي بُيُوتِ النَّاسِ، فَإِنْ شِئْتَ فَاحْضُرْ

Al-ilmu yu’ta fii baitihi wa laa yu’ta fii buyuutin naas, fainsyi’ta fahdhur

“Ilmu itu didatangi, bukan ilmu yang mendatangi rumah-rumah orang. Jika kamu mau, datanglah ke majelisku.”

Keesokannya Harun Ar-Rasyid datang terlambat. Imam Malik hanya berkata, “Ijlisy ya Harun haitsu intaha bikal majlis.” Yang artinya; “Duduklah wahai Harun di mana majelismu berakhir.” Itu adalah hadits Nabi. Di keesokan hari kemudian Harun datang lebih awal dan duduk di depan, barulah Imam Malik menarik pundaknya, “Duduk di depan saya. Karena penuntut ilmu duduknya di depan gurunya.”

Untuk bisa diterima Imam Malik yang segalak itu, teman-teman Imam Syafi’i memberi saran: “Hafalkan dulu kitabnya, Al-Muwatta.”

Imam Syafi’i pun meminjam kitab Muwatta dari temannya. Kitab yang jika dicetak sekarang tebalnya 500 halaman lebih itu, beliau hafalkan hanya dalam 18 malam.

Dengan bekal hafalan itu dan surat rekomendasi dari Gubernur Makkah, beliau berangkat ke Madinah. Perjalanan dua minggu ditempuh dengan mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 kali khataman.

Saat Gubernur Madinah yang ketakutan mengantarnya ke rumah Imam Malik, pintu hanya dibuka oleh seorang budak perempuan yang langsung menutup kembali. Setelah ditanya keperluannya, Imam Malik keluar dengan jenggot tertata rapi penuh wibawa.

Surat rekomendasi Gubernur itu dibaca Imam Malik, lalu disobek dan dilempar. “Sejak kapan ilmu Rasulullah diambil dengan perantara? Silakan hadir di Masjid Nabawi, nanti akan saya pilihkan murid senior untuk mengajarkanmu Muwatta.”

Imam Syafi’i menjawab, “Saya sudah menghafal Muwatta, seperti saya menghafal Al-Qur’an.”

Imam Malik menatap wajah anak muda itu dalam-dalam dan berkata kalimat yang abadi hingga hari ini: “Saya melihat ada cahaya dalam hatimu, maka janganlah kau matikan cahaya itu dengan maksiat kepada Allah.”

Keesokan harinya di Masjid Nabawi, Imam Syafi’i diminta membacakan Muwatta dari hafalannya. Bacaan beliau begitu fasih, hingga Imam Malik tidak ingin ia berhenti. “Ya Ibna Idris, terus, lanjutkan.”

“Tanpa sekali pun membuka lembaran kitab,” tutup Syeikh Fathi.

Majelis yang berlangsung hingga larut malam itu ditutup dengan doa yang dipimpin para guru, semoga Allah SWT mengabulkan hajat jamaah dan menghidupkan kembali semangat menuntut ilmu seperti Imam Syafi’i dan adab seorang ulama sebagaimana lakulampah Imam Malik. Barakallah…***(IHA)

Baca juga: Majenang Kedatangan Cahaya Dari Kairo, Hadirilah Pengajian dan Istighosah bersama Ulama Mesir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button