Sekjen PBNU H. Marsudi Syuhud mengatakan dengan tegas bahwa tidak semua hukuman mati kami dukung. Ketika pemerintah Mesir akan meng eksekusi mati tahanan politik, kami bersurat kepada PBB agar menghentikan itu. Tapi kalau narkoba beda, karena narkoba membunuh 50 orang di Indonesia setiap hari.

Marsyudi mengatakan hal itu ketika menjawab Anggota Senat Australia Nick Xenophon bersama Imam Masjid Afghan, Adelaide, Australia, Syekh Kafrawi Abdurrahman Hamzah. Keduanya mendatangi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Selasa (10/3)  untuk meminta dukungan atas keinginan pemerintahnya agar eksekusi ditunda.

Berbagai cara ditempuh Australia untuk membatalkan eksekusi mati dua anggota sindikat Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Setelah cara diplomasi tak mempan, Australia berusaha membatalkan eksekusi dengan menggunakan perantara tokoh-tokoh Islam Negeri Kanguru.

Syekh Kafrawi Abdurrahman Hamzah mengatakan bahwa Kami sadar (pemberlakuan) hukuman mati ini hak pemerintah Indonesia. Karena itu kami tidak meminta dibatalkan, tapi mohon ditunda, agar ke depan bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat Australia bahwa narkoba membawa bahaya yang sangat besar.

“Kami ingin mengetuk hati PBNU sebagai organisasi umat Islam terbesar di Indonesia, dan juga umat agama lain di sini, termasuk pemerintah Indonesia, bahwa Andrew Chan dan Myuran Sukumaran sudah menunjukkan keinginan bertobat yang kuat. Islam adalah agama rahmat, mengedepankan pengampunan, maka sudah sewajarnya dua warga Australia itu mendapat pengampunan,” tambah Kafrawi.

Utusan Australia Nick Xenophon mengaku bisa menerima sikap keras PBNU terhadap rencana hukuman mati duo ‘Bali Nine’. Meski tetap berharap hukuman mati ditangguhkan, dia mengaku tak bisa mengintervensi hukum yang diterapkan di Indonesia.

Follow, Share and Like:
RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
Google+
https://pcnucilacap.com/pbnu-tidak-semua-hukuman-mati-kami-dukung/