Menengok Puncak Pulek Karangreja: ‘Dieng-nya’ Cilacap Barat

NU CILACAP ONLINE – Siapa sangka, riuh rendah wilayah barat Kabupaten Cilacap menyimpan sebuah mahakarya alam yang kini tengah merajai lini masa media sosial. Dikenal dengan sebutan ‘Puncak Pulek’ atau ‘Bukit Pulek’, destinasi di Desa Karangreja, Kecamatan Cipari ini sukses menyihir ribuan pasang mata lewat lanskapnya yang spektakuler hingga dijuluki sebagai “Dieng versi Cilacap” atau “Negeri di Atas Awan”.
Dari titik tertinggi bukit ini, sejauh mata memandang, Anda akan disuguhi hamparan perbukitan hijau yang berselimut kabut tebal di pagi hari. Saat cuaca cerah, kegagahan Gunung Slamet di ufuk timur berdiri tegak menjadi latar belakang yang sempurna bagi para pemburu sunrise dan sunset.
Namun, di balik keindahannya yang megah, ada kisah unik tentang pasang surut, sentuhan adat, hingga tantangan besar status lahan yang meliputinya.
Berawal dari Doa, Tumpengan, dan yang Viral
Puncak Pulek sebenarnya sempat viral beberapa waktu lalu sebelum akhirnya redup. Titik balik kebangkitannya dimulai pada tahun 2024. Berawal dari langkah gotong royong merintis jalan setapak menjadi jalan yang lebih lebar, para pemuda setempat berinisiatif meratakan area puncak demi membuka view yang lebih lapang. Baca juga Filosofi Tumpeng, Simbol Kebersamaan Pemimpin dan Rakyat
Momentum “ledakan” kedua ini diceritakan langsung oleh Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Pemdes Karangreja, Fatimah. Menariknya, viralnya kembali Puncak Pulek justru berawal dari sebuah ketidaksengajaan saat acara adat desa. Baca juga Bazar Ekspo UMKM Meriahkan Konferwil PWNU Jateng
“Waktu itu saya sedang ada kegiatan budaya yang kebetulan dibarengi acara adat budaya setempat. Ada pembacaan doa-doa dan potong tumpeng bersama warga. Niat awalnya adalah mempromosikan adat dan budaya asli desa kami agar tidak hilang. Di video itu, saya sebut kata ‘Pulek’ yang memang sudah familiar bagi warga,” kenang Fatimah.
Unggahan sederhana itu ternyata memantik rasa penasaran netizen. Gelombang pembuat konten mulai berdatangan dari YouTuber, TikToker lokal, hingga influencer luar daerah.
Efek domino pun terjadi. Salah satu influencer dari Gandrung yang live di atas Puncak Pulek bahkan meledak hingga penonton lebih dari 100.000. Sejak saat itu, Puncak Pulek resmi “lahir baru” sebagai primadona wisata Cilacap Barat.
Secara historis, nama Puncak Pulek memiliki cerita tersendiri. Nama aslinya adalah Batu Bulak, karena di area tersebut terdapat susunan bebatuan unik yang dahulu menjadi rumah alami bagi sekawanan landak yang kini diadopsi menjadi ikon lokal wilayah tersebut dari lidah ke lidah hingga terucap kata Pulek.
Gedebog pisang pembawa hoki
Lompatan popularitas ini menjadi berkah bagi perekonomian warga. Meski musim liburan sekolah telah usai, Puncak Pulek tidak pernah benar-benar sepi. Pada hari-hari biasa (weekday), perbukitan ini masih magnet bagi 50 hingga 100 sepeda motor per hari, dan melonjak berkali-kali lipat saat akhir pekan tiba.
Antusiasme ini ditangkap dengan cerdas oleh para pelaku UMKM. Tidak hanya menjajakan makanan dan minuman ringan untuk para pelancong, warga Karangreja mulai unjuk gigi menampilkan kreativitas mereka melalui produk oleh-oleh khas dan kerajinan tangan (crafting).
Salah satu yang paling diminati adalah produk anyaman dari gedebog (pelepah) pisang yang disulap menjadi tas estetik, dompet, kipas, hingga tatakan teko (lepek).
Perputaran ekonomi dari sektor UMKM di sekitar akses masuk kini dilaporkan meningkat pada momen-momen ramai sebuah hal yang sangat berarti untuk penguatan ekonomi arus bawah.
Diplomasi Cantik Menuju Desa Wisata
Di balik pesona dan potensi ekonominya yang menggiurkan, Puncak Pulek menyimpan sebuah dilema regulasi. Area perbukitan indah ini sebenarnya berdiri di atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan swasta agribisnis, PT JA Wattie. Di beberapa sudut strategis, papan peringatan dari perusahaan telah terpasang demi keselamatan vegetasi perkebunan.
Pihak Pemerintah Desa Karangreja berada di posisi yang sangat berhati-hati namun tetap optimis. Mereka tidak bisa secara agresif mempromosikan tempat ini layaknya objek wisata komersial murni karena menghormati hak pemilik lahan.
“Prinsipnya dari pihak pemilik HGU, wisatawan boleh berkunjung, namun dengan catatan tidak mengeksplorasi secara berlebihan atau merusak ekosistem perkebunan,” jelas Fatimah.
Melihat situasi ini, tokoh masyarakat lokal seperti Mbah Tarmo bersama jajaran Pemdes terus mengedepankan jalur kolaborasi dan diplomasi. Target besarnya adalah merumuskan nota kesepahaman formal (win-win solution) berbentuk kemitraan pemanfaatan lahan untuk pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat tanpa mengganggu fungsi utama perkebunan.
Terlebih, Pemdes Karangreja saat ini sedang mempersiapkan legalitas formal untuk menjadi Desa Wisata. Konsep yang diusung pun modern dan terintegrasi: memadukan unsur pertanian, industri desa, dan keindahan alam (agrotourism).
Dukungan Penuh Kepala Desa
Masa depan Puncak Pulek yang berkelanjutan membutuhkan kerja kolaboratif multidimensi. Kepala Desa Karangreja menegaskan bahwa pihak desa tidak bisa berjalan sendiri. Ia secara terbuka mengetuk pintu dukungan dari seluruh pemangku kebijakan.
“Kami memohon dukungan dan suport penuh dari semua pihak, baik instansi vertikal, Dinas Pariwisata, hingga para pemangku kebijakan yang berwenang. Puncak Pulek adalah aset besar, dan dengan dukungan yang tepat, tempat ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat Karangreja,” tegas Wasono Kepala Desa Karangreja.
Tips Perjalanan
Bagi Anda yang penasaran ingin merasakan sensasi menembus awan di Cilacap Barat, perjalanan menuju Puncak Pulek memakan waktu sekitar 15 menit dari pusat Kecamatan Cipari atau 30 menit dari Kecamatan Sidareja.
Karena rute menuju puncak merupakan jalur perbukitan yang cukup menantang, pastikan kendaraan Anda (terutama sistem pengereman dan performa mesin) dalam kondisi prima, serta selalu jaga kebersihan dengan tidak meninggalkan sampah apa pun di atas bukit.!
Kontributor: Budi Ariwibowo
Editor: Naeli Rokhmah





