Kritis Geothermal, ISNU Cilacap Tuntut Standar Advokasi Lingkungan

NU CILACAP ONLINE – Keterlibatan kaum cendekiawan Nahdlatul Ulama dalam merespons isu lingkungan hidup semakin tajam. Hal ini dibuktikan melalui sumbangsih pemikiran Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Cilacap dalam forum Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah (PW) ISNU Jawa Tengah.
FGD yang mengusung tema “Geotermal sebagai Ikhtiar Menjaga Bumi” ini berlangsung di Tlogo Resort dan Goa Gong View, Kabupaten Semarang, pada Sabtu-Minggu (10-11/10/2026). Hadir mewakili PC ISNU Cilacap adalah Ketua PC ISNU, Dr Umi Zulfa, dan Wakil Sekretaris, Idarotul Nginayah.
Forum strategis ini menghadirkan tiga pakar dengan latar belakang multidisiplin, yakni ahli geotermal, Yoga Ariwibowo, pemerhati lingkungan, Dr Hotmauli Sidabalok serta Guru Besar bidang Ilmu Fikih, Prof Abu Hafsin. Dalam forum tersebut, Dr Umi Zulfa selaku perwakilan PC ISNU Cilacap tampil memberikan evaluasi kritis dan tidak sekadar menjadi pendengar pasif.
Dr Umi Zulfa secara langsung menanggapi paparan keilmuan geosains dari Yoga Ariwibowo yang menyatakan bahwa proyek geothermal tidak akan mengganggu sumber resapan air. PC ISNU Cilacap mendesak adanya rumusan mitigasi konkret untuk memastikan hak atas ketersediaan air bagi warga terdampak benar-benar terlindungi di lapangan, bukan sekadar teori.
Lebih lanjut, kepada pakar dan pemerhati lingkungan Dr Hotmauli Sidabalok, PC ISNU Cilacap menyoroti instrumen perlindungan hak warga terdampak yang ada saat ini. Pihaknya mempertanyakan efektivitas instrumen hukum seperti Amdal dan advokasi keadilan lingkungan, mengingat dalam realitasnya masyarakat terdampak lebih sering menerima dampak buruk (mudarat) ketimbang manfaat.
Sikap kritis tersebut sejalan dengan pandangan keagamaan yang disampaikan oleh Prof Abu Hafsin. PC ISNU Cilacap sepakat dengan dorongan Prof Hafsin agar terjadi pergeseran paradigma lingkungan dari yang bersifat antroposentris (berpusat pada manusia yang mengeksploitasi) menjadi ekosentris (keseimbangan alam). PC ISNU Cilacap menilai bahwa eksploitasi alam masif seperti proyek geothermal patut ditinjau ulang urgensinya, terlebih karena Jawa Tengah saat ini berstatus surplus energi.
Sebagai puncak dari partisipasinya, PC ISNU Cilacap memberikan rekomendasi tertulis yang ditujukan langsung kepada PW ISNU Jawa Tengah.
“Kami merekomendasikan agar PW ISNU membuat semacam standarisasi ilmiah atau pedoman baku tentang bagaimana melakukan pengawalan terkait kasus-kasus kelingkungan. Instrumen ini penting agar kelompok-kelompok terdampak di berbagai daerah memiliki standar kawalan keadilan yang jelas dari ISNU,” usul delegasi PC ISNU Cilacap di hadapan pimpinan forum.
Usulan ini menekankan fungsi vital ISNU sebagai wadah intelektual yang berpihak pada kelestarian alam dan kemaslahatan umat berdasarkan kajian keilmuan yang holistik dan komprehensif.





