Khutbah Idul Fitri, Melestarikan Kebahagiaaan dan Kesucian

NU CILACAP ONLINE – Melestarikan kebahagiaan dan kesucian adalah upaya menjaga keseimbangan hidup lahir dan batin, yang berakar pada nilai-nilai spiritual, moral, dan etika. Kesucian (thaharah) tidak hanya terbatas pada kebersihan fisik dai najis, tetapi juga penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan maksiat.

Khutbah Pertama

اَللهُ اَكْبَرْ (٩x). لاَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ, اَللهُ اَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ, اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً. لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَه. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى فَضَّلَنَاعَلَى كَثِيْرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَّاِلهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ, وَاًشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلاَمِيْنُ. اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّابَعْـدُ: فَيَااَيُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُواالله َ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ الله ُ تَعَالَى فِى الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ. اَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ . يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
اَللهُ اَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ

Hadirin jama’ah sholat ‘Idul Fitri yang berbahagia. Masih terngiang-ngiang di telinga kita, alunan bacaan takbir yang dikumandangkan pada Hari Raya Idul Fitri tahun lalu. Gemuruhnya hingga menggetarkan hati sanubari, dan suasana yang penuh khidmat. Kini, suasana tersebut hadir kembali, menggugah kenangan yang tak pernah tergantikan.

Ada rasa bahagia yang menyelimuti jiwa. Bahagia yang bermodalkan sangat sederhana. Bukan karena kita naik jabatan, atau mendapat limpahan rejeki yang sangat banyak. Tetapi kebahagiaan yang terpatri di sanubari itu, dikarenakan kita telah diberi kekuatan untuk melaksanakan ibadah puasa, sebulan lamanya. Menahan haus dan dahaga, dan dari segala yang bisa membatalkan puasa, dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Keduanya, kita berbahagia, karena telah diberi kekuatan untuk melaksanakan sholat tarowih setiap malam selama bulan Romadhon. Yang ketiga, Alloh ‘Azza wa Jalla telah memberi karunia kepada kita, sehingga kita bisa melaksanakan tadarus Al-Qur’an, minimal mendapatkan satu kali tamatan.

Yang keempat, Alloh ‘Azza wa Jalla telah memberi rejeki untuk membayar zakat fitrah, sebagai penyempurna ibadah puasa kita. Yang kelima, di hari yang bahagia ini, kita ditakdirkan bisa berkumpul dengan sanak saudara.

Yang selama ini terpisah karena berbagai urusan, kini atas kehendak Alloh kita dapat bersua. Walaupun mungkin kita hanya bisa berkumpul untuk beberapa hari saja, untuk kemudian akan berpisah lagi, akan berjauhan lagi, dan kita tidak tahu, apakah nanti, suatu saat, pada Hari Raya Idul Fitri yang akan datang, bisa berkumpul lagi atau tidak. Hanya Alloh Yang Maha Mengetahui.

اَللهُ اَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ

Tentu saja, ibadah puasa yang telah kita laksanakan itu, diharapkan bukan hanya ada faedahnya. Tetapi lebih dari itu, besar harapan ada buahnya, yaitu ketakwaan kepada Alloh. Sesuai dengan firman Alloh di dalam Al-Qur’an:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaiman diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.“ (Surat Al-Baqoroh ayat183 ).

Takwa merupakan wujud kepribadian yang indah bersahaja. Tinggi derajatnya. Dihormati dan dikagumi. Di akhirat kelak, sorga balasannya.

Adapun karakter orang yang bertakwa, sangat banyak diterangkan di dalam Al-Qur’an. Di antaranya pada Surat Ali Imron ayat 134-135;

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ. وَالَّذِينَ إِذا فَعَلُوا فاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلى ما فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Alloh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” ( Ali Imron: 134-135)

Dengan demikian, karakter orang yang bertakwa itu sangat dermawan. Tiap ada kesempatan untuk berbuat baik dengan harta, ia akan selalu ikut andil. Bukan hanya ketika dia sedang banyak rejeki. Tetapi walaupun ia sendiri sedang dalam kekurangan. Sebab orang yang bisa bersodakoh di saat banyak rejeki, itu masih tahap biasa. Tetapi orang yang mampu bersodakoh di kala ia sendiri sedang kekurangan, itu menandakan dia telah jadi orang yang luar biasa.

Selain dermawan, orang bertakwa juga pandai menahan amarah. Yaitu suatu sifat yang diciptakan oleh Alloh di dalam diri manusia. Yang gunanya amarah ini adalah untuk mempertahankan diri, jika diri ada yang menghina atau terancam.

Demikian juga jika ada yang mengancam harta, menghina negara, dan apalagi sampai menghina agama, atau bahkan Alloh dan RosulNya. Dalam keadaan begitu, amarah harus berperan. Dalam kondisi itu, orang bertakwa akan marah.

Sebab, ini adalah marah yang benar. Sebaliknya, jika diri, keluarga, negara dan agama ada yang menghina, tetapi tidak marah, menurut Imam Syafi’i, orang tersebut berarti keledai.

Tetapi, amarah jangan dibiarkan begitu saja. Apalagi kalau amarah dijadikan komoditas, diorganisir, kemudian dijadikan alat untuk berbuat kerusakan terhadap agama dan negara. Tentu Alloh tidak akan meridoi.

Menurut Imam Al-Ghozali, amarah itu oleh Alloh diciptakan dari api. Setan juga oleh Alloh diciptakan dari api. Dengan demikian orang yang senang mengikuti amarahnya, dia itu sudah satu karakter dengan setan. Karena itu, berhati-hatilah.

Ingat, amarah jika diikuti terus, tidak akan berhenti di satu titik, tapi akan ada kelanjutannya. Jika orang marah yang tidak tepat, maka akan dilanjutkan dengan dendam. Jika telah dendam, akan berlanjut dengan hasud.

Jika seseorang telah terkena penyakit hasud, mka akan habislah amal-amal baiknya, sebagaimana habisnya kayu bakar yang dibakar api.

Jemaah sholat ‘Idul Fitri yang berbahagia.

Jangan lupa,karakter orang yang takwa juga adalah, pandai meminta maaf kepada orang lain, dan juga pandai memberi maaf kepada orang lain. Mungkin karkter inilah, yang menjadikan Hari Raya ‘Idul Fitri ini kita jadikan momentum untuk saling memaafkan atas segala khilaf dan salah.

Orang yang takwa juga, bukanlah orang yang tak pernah tergelincir dalam dosa, atau tidak pernah terjebak untuk mendolimi diri sendiri. Sewaktu-waktu, mereka juga terjebak dalam perbuatan keji.

Tetapi hal itu tidak akan mereka biarkan berlama-lama. Mereka akan segera mengingat Alloh. Berdzikir, untuk kembali membersihkan diri. Karena dengan berdzikir adalah cara yang paling efektif untuk membersihkan diri. Baik berdzikir dengan ucapan, yang disebut dzikir jahar. Maupun dzikir dengan hati, yang disebut dzikir khofi.

اَللهُ اَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ

Hari Raya ‘Idul Fitri adalah momentum yang sangat tepat, untuk mendongkrak potensi diri. Meningkatkan kedisiplinan dan kejujuran. Memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Meningkatkan iman dan takwa. Agar hidup kita lebih bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, tetngga, agama dan negara.

Karena “ Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia.“ ( Alhadits ).
Semoga Alloh menerima segala ‘amal baik kita.
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umur kita panjang
Insyaa Alloh kita akan berjumpa lagi.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَاكِيْم اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ,وَتَقَبَّلْ مِنِّى تِلَاوَتَهُ اِنُّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَللهُ اَكْبَرُXV . لاَاِلهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ وَ لله اْلحَمْدُ, اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لله كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلَا. لاَاِلهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبر َو للهِ اْلحَمْدُ, اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي تَمَّ عَلَيْنَا عِبَاْدَةَ الصِّيَاْمِ, بِزَكَاةِالْفِطْرِ وَيَوْمِ الْعِيْدِ وَصِلّةِ اْلأَرْحَامِ. اَشْهَدُ اَنْ لَااِلهَ اِلَّااللهُ الْمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلَامُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبعُوثُ رَحمَةً وَنَثْرَ الْأَمَانِ, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى شَمْسِ الْمُرْسَلِيْنَ وَقَمَرِ اْلأَنَامِ, سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَكْمَلِ الْمُرْشِدِ اِلَى كَافَةِ الْاِنْسِ وَالْجَانِ, وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ يَهدِى بِهُدَاهُ اِلَى دَارِ السَّلَامِ. فَيَاأَيُّهَااْلحَاضِرُونْ,  أُوْصِيْكُمْ  بِتَقْوَااللهِ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَّمَكَانٍ, لِيَجْعَلَ اللهُ لَكُمْ مَخْرَجًا مِنْ كُلِّ ضَيْقٍ وَّحِرْمَانِ. اَللّهُمَّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنْاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاِتِ, اَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَاِلدَيْنَا وَلِلْمُؤْمنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ اْلحِسَابَ, رَبَّنَااَنْزِلْنَا مُنْزَلًا مُّبَاَرَكً وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ ,رَبَّنَاافْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا باِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ, رَبَّنَااَفْرِغْ عَلَيْنَاصَبْرًاوَثَبِّتْ اَقْدَاَمَنَا وَاْنصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ وُضُوْءَناَ وَصَلَاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَخُسُوْعَنَا وَتَخَسُّوْعَنَا وَلَاتَضْرِبْ بِهَا وُجُوْهَنَا وَيَا اِلَهَا اْلعَالَمِيْنَ, وَيَاخَيْرًالنَّاصِرِيْنَ, اِجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ, بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الَّرَّاحِمِيْنَ  وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button