Kere Munggah Bale

NU CILACAP ONLINE РDi dalam budaya Jawa dikenal peribahasa Ana Kere Munggah Bale. Budaya Jawa itu sifatnya implisit atau sanepan, tidak pernah terbuka terus terang, mlipir-mliper. Mari kita kupas habis peribahasa di atas.

Kere, di sini dimaknai dalam artian luas, bukan hanya manusia yang miskin harta benda. Namun lebih parah, miskin intelektual, miskin adab dan tatakrama.

Bale, adalah tempat terhormat, yang di jaman sistem monarki dahulu, hanyalah tempat bagi orang terhormat, atau dalam bahasa yang maknanya sempit. Bale adalah tempat bagi para bangsawan kerajaan.

Bisa dibayangkan bukan, jika si Kere yang tuna dalam segala hal, diberi panggung. Waduh…mabuk kepayang.

Pasti si Kere akan menyalahgunakan kewenangannya. Artinya bale sebagai panggung terhormat, disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Aji mupung: mumpung ana, lan mumpung kuasa.

Artikel Terkait

Pilih jeneng pa jenang? Si Kere menjawab pilih jeneng, dengan gayanya sok humble dan sincere. Mbel gedhes. Setelah jangka waktu lama, karena bale memang bukan tempat bagi si Kere, si Kere eventually tidak percaya diri, berakibat gagal menyembunyikan jati dirinya.

Baca Juga: Tradisi Ruwatan, Contoh Akulturasi Islam Dengan Budaya Jawa

Laku dhedhemitan atau membo-membo badhar. Pilih jeneng pa jenang? Faktanya si Kere memilih jenang, berdasar fakta empirik perilaku dan tabiatnya.

Lebih mengerikan lagi, si Kere pasti mengajak anak-anak, menantu dan cucunya manggung. Sebuah pencitraan politik, agar publik mau mengakui, kerandhah kere ini terhormat dan hebat. Well, wuellek banget.

Kencana wingka. Wingka adalah tugelan gendheng (genting) dianggap kencana. Anak-anaknya yang faktanya bodoh dan memuakkan dianggap hebat. Kemana-mana anak, menantu dan cucunya diajak dan ditontonkan ke publik. Apane sik ditonton?

Politik dinasti, yang selama ini berlaku bagi Raja dan keturunannya. Ternyata si Kere dan kerandhahnya ikut-ikut melestarikan, hanya demi sebuah pengakuan akan sebuah eksistensi. Mengerikan!

Mumpung ana lan mumpung kuasa

Ana kere munggah bale. Jadi tontonan orang banyak. Karena, bale memang bukan tempat bagi si Kere dan kerandhahnya. Wirang mbebarang, wirange dienggo mbarang. Itulah si Kere, dasar Kere.

Polanya klasik: bergaya sok merakyat, sederhana, memelas, pingin pulang kampung, ingah-ingih, dst. Hanyalah sebuah kamuflase politik untuk sebuah atau seonggok agenda tersembunyi.

Tulisan ini sebuah fakta yang banyak di jumpai di masyarakat kita. Figur Kere yang tidak tahu berbalas budi, dan lupa asal-usulnya. Meninggalkan hal-hal menjijikkan dan memuakkan. Terimakasih.

Yogyakarta, 17/10/2023
Penulis BPW. Hamengkunegara adalah Budayawan dosen UGM Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button