ISNU-Disparpora Cilacap Rancang Wisata Religi Kesugihan

NU CILACAP ONLINE – Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Cilacap bersinergi dengan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) menggelar Pelatihan Pengembangan Kawasan Wisata Religi Tahun 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Wizz, Cilacap, pada Selasa (4/8/2026).
Kegiatan ini berfokus pada pemetaan potensi dan perancangan roadmap wisata religi di kawasan Kesugihan, khususnya kompleks Makam KH. Badawi Hanafi. Kolaborasi ini berupaya mendorong transformasi kawasan dari sekadar destinasi ziarah menjadi ekosistem terpadu dengan konsep “Religious Eco-Edu-Cultural Tourism Ecosystem”.
Ketua PC ISNU Cilacap, Dr. Umi Zulfa, yang bertindak sebagai narasumber utama dalam pelatihan tersebut menegaskan bahwa besarnya potensi peziarah harian di Kesugihan harus mampu dioptimalkan. Menurutnya, pengelolaan wisata religi harus menyeimbangkan antara kesakralan ritual keagamaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kita memadukan kajian akademik, pengalaman pendampingan, dan kolaborasi multipihak untuk mendorong pengembangan kawasan wisata yang berkelanjutan. Kesugihan harus menjadi ekosistem yang tidak hanya mengedepankan spiritual, tetapi juga memberi ruang bagi edukasi, kelestarian lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi lokal,” terang Umi Zulfa.
Ia menjelaskan bahwa PC ISNU bersama Disparpora telah merumuskan roadmap transformasi pengembangan dari tahun 2026 hingga 2030. Rencana strategis tersebut mencakup integrasi eduwisata pesantren, ekonomi hijau (green tourism) seperti pengelolaan bank sampah dan pertanian organik, hingga penguatan produk UMKM lokal agar memiliki daya saing.
Pelatihan strategis ini tidak lepas dari peran aktif jajaran cendekiawan dan praktisi PC ISNU Cilacap yang turut hadir mendedikasikan keilmuannya. Tampak hadir dalam forum tersebut, di antaranya Dr. Frendi Fernando, Muhammad Aly Ridho, Idarotul Nginayah, Nani Kurniasih, M.Si., dan Aniroh.
Sebagai tindak lanjut untuk memperkuat tata kelola kawasan, agenda ini juga menyiapkan perspektif para pemangku kepentingan untuk melaksanakan studi lapangan ke kawasan wisata religi di Kudus, Jawa Tengah.
“Studi banding ke Kudus nanti bukan sekadar melihat apa yang mereka miliki, tetapi untuk memahami bagaimana tata kelolanya, apa identitasnya, dan pelajaran apa yang relevan untuk diadopsi dengan tetap menyesuaikan karakter Kesugihan,” imbuh Umi.
Melalui langkah awal ini, PC ISNU dan Disparpora berharap transformasi Kesugihan dapat terus digerakkan. Ke depannya, partisipasi masyarakat dan pesantren akan diwadahi melalui rangkaian Festival Religi dan Budaya tahunan, guna mengantarkan Kesugihan menjadi destinasi wisata religi unggulan, berdaya saing, dan berkelanjutan. (Naeli Rokhmah)





