Hj Endang Sutarsih: Hati-hati Menjaga Hati

NU Cilacap Online — Hati manusia kapan saja bisa kotor dan bahkan rusak, maka betapa perlu dan pentingnya kita ingat untuk menjaganya dengan selalu menasihat hati. Inilah tausiyah Ramadhan Hj Endang Sutarsih: Hati-hati Menjaga Hati
إن فساد القلوب عن ستة أشياء
Adapun hati bisa rusak dan kotor itu ada enam penyebabnya. Adapun terkait keenam perkara yang merusak hati sebagai berikut:
أولها: يذنبون برجاء التوبة
Pertama, ketika berbuat dosa atau kesalahan gampang sekali berucap, “ah gak papa, itu kan dengan taubat, kan diterima taubatnya,” inilah yang menjadikan hati rusak. Karena sesungguhnya dalih orang biasanya yang berbuat kesalahan dan dosa, berabggapan taubatnya diterima, dan begitu lagi, terulang lagi. Nah demikian ini yang menjadikan hati kotor bahkan rusaknya hati.
Karena sesungguhnya taubat itu tidak mengulangi dosa, maupun kesalahan lagi (taubatan nasuha).
Melakukan dosa dengan berharap taubat. Terkadang kita terjebak dengan angan-angan, semisal saat kita khilaf atau alpa, muncul lintasan di pikiran bahwa akan ada waktu untuk bertaubat, karena diketahui Allah Maha Pengampun. Akhirnya pikiran tersebut memotivasi bahwa ada kesempatan esok untuk tuabat.
Memang benar, Allah Maha pengampun, memaafkan akan kesalahan hamba-Nya. Akan tetapi, hal itu jangan membuat kita lengah, ingat kematian adalah perkara gaib yang tidak satupun dari kita yang tahu. Maka penting kiranya kita berlomba dalam melakukan kebaikan, sambil diiringi bertaubat kepada Allah Swt atas kekhilafan yang telah dilakukan.
ويعلمون العلم ولايعلمون
Kedua, belajar tapi tidak mengamalkan ilmunya. Lantas, apa gunanya mempunyai ilmu kalau tidak diamalkan? Maka hati jadi rusak ketika ilmu tidak diamalkan.
Kita selaku umat Islam mengetahui bersama bahwa hukum mencari ilmu dan mengamalkannya adalah keharusan, sesuai dengan bunyi hadis Nabi SAW dalam kitab Sahih Bukhari, artinya, “Dari Abdullah bin Umar Ra bahwa nabi Muhammad Saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”. Dari isi hadis ini menunjukkan bahwa kita dituntut untuk menyampaikan ilmu meskipun hanya satu ayat.
واذا عملوا لايخلصون
Ketiga, beramal namun tidak ikhlas. Betapa banyak amal yang sia-sia karena tidak disertai dengan keikhlasan. Sebagai vontoh dengan tetangga tidak akrab, bahkan bermusuhan sesunggihnya, tapi ketika dihadapan orang banyak berpura-pura baik, bersandiwara, karena sebenarnya di hati dia dongkol. Itulah yang merusak hati manusia.
Lalu apa ikhlas itu? Imam al-Qusyairi menyampaikan bahwa ikhlas adalah seseorang yang berlaku taat semata-mata ingin mendekatkan diri kepada Allah, bukan karena sesuatu yang lain berupa berpura-pura karena makhluk, ingin dipuji, atau karena sesuatu yang tidak murni untuk mendekatkan kepada Allah. Jadi, alangkah indah dan berlimpah manfaat jika semua yang kita lakukan murni hanya karena Allah.
ويأكلون رزق الله ولايشكرون
Keempat, mengonsumsi rezeki dari Allah dan tidak bersyukur. Makan rezeki dari Allah, tapi tidak bersyukur atas rezeki Allah.
Contonya orang dikasih 50 ribubtetapi dia gresula, gerhndel hayinya, “capek-capek kerja dari pagi hingga malam hanya mendapat 50 ribu,” Rasa syukurnya hilang. Ini menjadikan hati kotor dan rusak.
Kita percaya bahwa Allah yang menganugerahkan rezeki untuk kita. Dari sini, belum cukup jika tidak disertai dengan syukur kepada Allah. Apalagi bersyukur diperintahkan sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an, artinya “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya” (QS. an-Nahl ayat 114).
وما يرضون بقسمة الله
Kelima, tidak ridha akan pemberian ketetapan atau pembagian Allah. Dikisahkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah ditanya, kapan hamba dikatakan ridha? Lalu Rabi’ah menjawab, “Apabila seseorang ditimpa musibah senang sebagaimana ia senang mendapatkan kenikmatan”.
Dari sini kita bisa menandai, bahwa bila hati kita bahagia atas ketetapan atau pembagian rezeki dari Allah, berarti kita termasuk orang yang ridha pada apapun yang diberikan Allah.
Kita diingatkan dengan syiiran Jawa yang sering dikumandangkan oleh Alm.Gus Dur, sebagai berikut: “Uripe ayem rumobgso aman, Dununge roso tondo yen Iman. Sabar nerimo najan pas-pasan Kabeh ginatir saking Pangeran”
Inilah tanda bahwa orang ridha atas apa yang diberi Allah SWT. Dengan bersyukur Insya Allah hati kita tidak akan rusak.
ويدفنون موتاهم ولايعتبرون
Keenam, hadiri kematian tapi tidak ambil pelajaran dari kematian. Seperti hidup selamanya. Bahwa kita tahu tidak hidup selamanya. Sehingga kemetian menjadi pelajaran yang baik untuk menambah semangat beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita terjaga dari hati yang rusak.
Dalam kitab Sunan Ibnu Majah, Nabi bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan yakni kematian”. Jadi kita diperintahkan untuk banyak merenung, dari situ kita akan senantiasa ingat bahwa hidup di dunia benar-benar sementara, dan kita akan semakin fokus beramal baik sebagai bekal untuk kehidupan akhirat.
Catatan redaksi, adapun tausiyah yang disampaikan Hj Nyai Endang Sutarsih, beliau menukil dari kitab Nashoihul Ibad (Hlm. 72) (kitab yang mensyarahi kitab Al- Munabbahat Alal Isti’dadi Liyaumil Ma’aad karya Syaikh Sihabuddin Ibnu Hajar al-Asqolani), Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi mengutip maqalah dari imam Hasan al-Bashri, yang menjelaskan, terdapat enam penyebab yang bisa merusak hati. Adapun kutipan maqalah selengkapnya yaitu:
والمقالة الثانية عشرة : (عن الحسن البصري أنه قال: إن فساد القلوب عن ستة أشياء, أولها: يذنبون برجاء التوبة, ويعلمون العلم ولايعلمون, واذا عملوا لايخلصون, ويأكلون رزق الله ولايشكرون, وما يرضون بقسمة الله, ويدفنون موتاهم ولايعتبرون).
Artinya: Dan maqalah yang kedua belas, Imam Hasan al-Basri berkata:” Sesungguhnya rusaknya hati karena enam perkara; mereka berbuat dosa dengan berharap taubat, belajar tapi tidak mengamalkan ilmunya, beramal namun tidak ikhlas, mengkonsumsi rezeki dari Allah dan tidak bersyukur, tidak rida akan pembagian Allah, menguburkan orang mati tetapi tidak mengambil pelajaran.”
Petuah dari Imam Hasan al-Bashri di atas mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga hati dari sifat-sifat tercela dan dosa. Karena jika hati kita baik, niscaya Allah akan menilai kita golongan orang-orang baik. Dan untuk memiliki hati yang suci, pastinya kita perlu memeliharanya dari perbuatan-perbuatan yang bisa menodai hati.
Akhirnya, dari enam nasehat dari Imam Hasan al-Bashri di atas, dapat disimpulkan bahwa sejatinya penyebab rusaknya hati yaitu perbuatan dosa, tidak mengamalkan ilmu, tidak ikhlas, enggan bersyukur, tidak rida, dan tidak mengambil pelajaran dari kematian seseorang.
Harapannya, semoga iman kita bertambah kuat kemudian berupaya menerapkan nasehat imam dengan cara mengamalkan ilmu yang kita punya, beramal tanpa riya’ atau disanjung manusia, ikhlas dan sabar atas ketentuan dari Allah Swt, dan senantiasa menjadikan kematian sebagai pengingat kita. ihninasiratal Mustaqim. Wallahu ‘A’lam Bisshawab. (IHA)





