H Paiman Sahlan, Peran Ulama dan Guru Tak Tergantikan Oleh AI

NU CILACAP ONLINE – Derasnya arus teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak akan menggeser peran fundamental guru, kiai, dan ulama sebagai penjaga tradisi keilmuan dan nilai moral. Demikian kata H Paiman Sahlan saat menjadi key note speaker pada seminar internasional do Gedung Sumekar, Senin (9/2/2026).
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap ini hadir mewakili Bupati pada Seminar internasional yang digelar bersamaan dengan pelantikan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Cilacap masa khidmat 2026-2030.
Seminar tersebut mengangkat tema “Intellectual Insecurity and the Crisis of Scholarly Tradition in the Digital Age: Repositioning Muslim Teachers and Scholars in the Global South.”
Tema ini menyoroti fenomena kecemasan intelektual di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran AI.
Dalam pemaparannya, H Paiman Sahlan yang juga Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap mengungkapkan bahwa saat ini muncul kecenderungan instan dalam menuntut ilmu. baca juga Jaga Tradisi dan Budaya, Proyeksi Islam Nusantara
Menurutnya, tradisi ngaji dan kajian mendalam di pesantren mulai tergerus oleh kebiasaan mengandalkan gawai.
“Sekarang orang ngaji di pondok saja pikirannya ingin membuka handphone. Mereka merasa tidak perlu susah payah belajar dari awal karena sudah ada kajian AI tematik,” ujarnya. Baca juga Program PandAI Dorong Perempuan NU Melek Digital
Dia menjelaskan, kecemasan intelektual ini dipicu oleh beberapa faktor utama. Pertama, distruksi pengetahuan, yakni menyebarnya konten-konten tidak relevan yang justru menggeser kajian-kajian dasar dan mendalam.
Kedua, overload informasi yang membuat masyarakat sulit memilah mana pengetahuan yang valid dan mana yang sekadar trend.
Ketiga, munculnya kecemasan terhadap tren baru, padahal informasi yang beredar belum tentu benar secara keilmuan.
Namun demikian, H Paiman juga mengingatkan bahwa ketidakmampuan memahami digitalisasi juga menjadi persoalan tersendiri.
“Orang yang alim tapi tidak paham digital juga bisa kalah pengaruhnya dengan yang biasa saja namun menguasai media digital,” tambahnya.
Meski begitu, dia menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara guru, kiai, dan ulama adalah ruh yang memberikan sentuhan nilai dan makna dalam proses pendidikan.
“Peran kiai, ulama, dan guru tidak akan tergantikan. AI tidak punya sentuhan batin dan spiritual,” tegasnya.
Reposisi Guru di Era digital
Sementara itu, narasumber pertama, Prof. Dr. Rohmat, menyoroti bahwa insecure intelektual memicu peralihan perhatian manusia kepada AI.
Algoritma AI yang bekerja sangat cepat, ditambah menurunnya budaya membaca, telah melahirkan krisis intelektual yang cukup serius.
“Kita dimanjakan oleh kecepatan informasi digital, tetapi justru menjauh dari kedalaman berpikir,” jelasnya.
Menurut Prof. Rohmat, reposisi guru di era digital menjadi keniscayaan. Salah satunya sebagai pendidik intelektual.
“Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik intelektual, tetapi juga pendidik moral dan spiritual. Sentuhan emosional, internalisasi nilai keislaman, serta pembentukan akhlakul karimah adalah hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi digital,” ujarnya.
Dr Rahmat menekankan pentingnya internalisasi nilai keikhlasan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam pendidikan.
“Guru dan ulama juga memiliki tugas strategis sebagai benteng utama dengan menghidupkan kembali budaya riset ilmiah serta menjadi rujukan di ruang digital untuk meluruskan kesalahan informasi dan menjaga otoritas keilmuan.
Seminar ini menegaskan bahwa di tengah derasnya digitalisasi, peran guru, kiai, dan cendekiawan Muslim tetap krusial dalam menjaga tradisi keilmuan, moralitas, dan otoritas ilmu agar tidak tergeser oleh algoritma semata. (Naeli Rokhmah)





